Wahyu Yuwana Hidayat : Kenaikan Suku Bunga untuk Jaga Stabilitas Rupiah dan Kendalikan Inflasi

Photo Author
Usmin., Suara Pembaruan
- Selasa, 9 Juni 2026 | 21:47 WIB
Kepala Perwakilan  (BI  Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat foto bersama wartawan  usai   acara bincang bareng media (BBM) di salah satu mal di Kota Bengkulu.(Foto/Humas BI Bengkulu)
Kepala Perwakilan (BI Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat foto bersama wartawan usai acara bincang bareng media (BBM) di salah satu mal di Kota Bengkulu.(Foto/Humas BI Bengkulu)

Bengkulu, SUARA PEMBARUAN-Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat mengatakan, penyesuaian suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi salah satu langkah strategis yang ditempuh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Hal diungkapkan Wahyu Yuwana Hidayat pada acara bincang bareng media (BBM) bertempat di di Bengkulu, Selasa (9/6/2026). Ia mengatakan, kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin merupakan bagian dari bauran kebijakan moneter yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekonomi nasional di tengah berbagai tekanan eksternal yang memengaruhi pasar keuangan global.

"Kebijakan ini dilakukan untuk memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal yang memengaruhi pasar keuangan global," ujar Wahyu.

Ia menjelaskan terdapat dua alasan utama yang menjadi dasar penyesuaian suku bunga acuan tersebut. Pertama, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap kompetitif di tengah tren kenaikan suku bunga yang dilakukan sejumlah bank sentral dunia.

Menurutnya, daya tarik instrumen keuangan domestik perlu dipertahankan agar aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia dan tidak berpindah ke negara lain yang menawarkan tingkat imbal hasil lebih tinggi.

"Surat berharga yang diterbitkan Indonesia harus mampu bersaing dengan negara lain sehingga investor tetap tertarik menanamkan modalnya di dalam negeri," tambahnya.

Alasan kedua, untuk mengendalikan ekspektasi inflasi yang berasal dari faktor eksternal atau imported inflation. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika nilai tukar rupiah melemah sehingga harga barang impor menjadi lebih mahal.

Pelemahan rupiah terhadap nilai tukar dolas AS, katanya berpotensi meningkatkan biaya produksi berbagai sektor usaha yang bergantung pada bahan baku impor, seperti kedelai, biji plastik dan sebagainya.

Kenaikan biaya produksi tersebut, akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa di tingkat konsumen. "Melalui kebijakan suku bunga, BI berupaya meredam tekanan inflasi agar tidak semakin meluas dan membebani masyarakat," katanya.

Wahyu menambahkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini dipengaruhi sejumlah faktor global dan domestik, antara lain meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah.

Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap dolar Amerika Serikat karena sebagian besar transaksi impor energi menggunakan mata uang tersebut. Selain itu, periode pembagian dividen kepada investor asing serta kewajiban pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo turut meningkatkan permintaan valuta asing di pasar domestik.

Prospek Ekonomi Bengkulu

Meski demikian, tambah Wahyu BI tetap optimistis terhadap prospek ekonomi Bengkulu, yang ditopang sektor perkebunan, komoditas ekspor, dan pengembangan hortikultura yang terus menunjukkan pertumbuhan positif.

"Bengkulu memiliki banyak komoditas unggulan yang sudah mampu menembus pasar ekspor. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat ekonomi daerah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya.

Halaman:

Editor: Usmin.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Rekomendasi

Terkini

X