Dipercaya Jadi Modal Utama, Kisah Yanti Bangun Usaha Kriya dari Rumah hingga Go Digital

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 21 Mei 2026 | 21:35 WIB



Jakarta,  SUARA PEMBARUAN – Di balik perjuangan pelaku usaha ultra mikro, ada persoalan mendasar yang kerap tidak terlihat yakni minimnya rasa percaya yang diberikan kepada mereka. Padahal, banyak perempuan pelaku usaha kecil memiliki semangat bekerja tinggi dan tekad kuat untuk memperbaiki ekonomi keluarga.


Kondisi itulah yang dialami Sri Aryanti Nurafiah, nasabah PNM Mekaar Cikarang Barat. Sebagai ibu rumah tangga, Yanti ingin membantu mencukupi kebutuhan keluarga karena penghasilan suaminya dinilai belum cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Dengan kemampuan membuat gantungan kunci dan produk kriya sederhana, ia sebenarnya memiliki keinginan membuka usaha sendiri. Namun keterbatasan modal membuat langkahnya sempat tertahan.


“Kalau hanya mengandalkan gaji suami saya rasa kurang cukup. Saya ingin membuka usaha kriya-kriya, tapi dengan keterbatasan modal saya bimbang,” ujarnya.


Realitas seperti yang dialami Yanti banyak dirasakan pengusaha ultra mikro lainnya. Mereka sering kesulitan mengakses pembiayaan formal karena tidak memiliki aset, jaminan, ataupun administrasi usaha yang memadai.


Padahal, bagi pelaku usaha kecil, akses pembiayaan bukan sekadar soal uang. Lebih dari itu, pembiayaan tanpa agunan menjadi bentuk kepercayaan bahwa mereka dianggap mampu berkembang dan layak diberi kesempatan.


Momentum perubahan bagi Yanti datang pada 2022 ketika memperoleh akses pembiayaan dari PNM. Modal tersebut langsung dimanfaatkan untuk membeli bahan baku dan mengembangkan usaha kriyanya dari rumah.


Usaha yang awalnya dikerjakan secara sederhana perlahan mulai berkembang. Tambahan modal usaha membuat Yanti semakin percaya diri memperluas usahanya hingga membuka lapak sendiri.


“Tak terpikirkan sebelumnya, ternyata usaha saya makin berkembang sampai saat ini. Modal saya juga makin ditambah oleh PNM, maka dari itu saya berani membuka lapak usaha saya,” katanya.


Tak hanya memperoleh pembiayaan, Yanti juga mendapatkan pendampingan dan pelatihan melalui program Mekaarpreneur. Dalam pelatihan tersebut, ia belajar mengenai promosi, branding, packaging, hingga pemasaran digital.


Dari yang sebelumnya hanya berjualan secara konvensional, kini produk kriyanya mulai dipasarkan melalui platform digital seperti TikTok dan Shopee. Perkembangan usahanya pun membawanya meraih Juara 2 Mekaarpreneur kategori nasabah naik kelas wilayah Bekasi–Jakarta.


Kisah Yanti menjadi gambaran bahwa masyarakat kecil sebenarnya tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan akses, kesempatan, dan kepercayaan untuk membuktikan kemampuan mereka sendiri.


Ketika pembiayaan hadir bersamaan dengan pendampingan dan ruang belajar, dampaknya tidak hanya meningkatkan usaha, tetapi juga membangun rasa percaya diri pelaku usaha untuk bermimpi lebih besar dan mandiri secara ekonomi.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X