Kebijakan tersebut berdampak pada kontraksi laba bersih sebesar 9,5 persen secara tahunan akibat peningkatan beban percepatan depresiasi aset. Perseroan juga melakukan restatement laporan keuangan tahun 2023 dan 2024.
Pada segmen bisnis, Telkomsel sebagai penggerak utama segmen B2C mencatat pendapatan sebesar Rp109,2 triliun sepanjang 2025.
Kenaikan kebutuhan layanan digital turut mendorong pertumbuhan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan. Selain itu, Average Revenue Per User (ARPU) juga mulai menunjukkan pemulihan positif sejak paruh kedua 2025.
Untuk menjaga momentum tersebut, Telkomsel akan fokus mempertahankan ARPU melalui strategi penyesuaian harga yang lebih tepat sasaran serta penguatan kualitas jaringan.
Sementara itu, di segmen B2B Infrastructure, Telkom berhasil mencatat pendapatan Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong bisnis data center dan ekspansi fiber optik nasional.
Saat ini TelkomGroup memiliki backbone serat optik sepanjang lebih dari 210 ribu kilometer, ribuan menara telekomunikasi, layanan cloud, hingga konektivitas satelit untuk wilayah blank spot.
Melalui PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel, Telkom juga mengoperasikan 40.230 menara telekomunikasi dengan rasio penyewa mencapai 1,57 kali, menjadikannya perusahaan menara terbesar di Asia Tenggara.
Sedangkan bisnis Wholesale & International Service membukukan pendapatan Rp10,7 triliun. Hingga kini, TelkomGroup melalui Telin telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional.
Pada segmen B2B ICT, Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp15,3 triliun meski menghadapi tantangan akibat kebijakan efisiensi pemerintah yang memengaruhi permintaan solusi korporasi.
Untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang, Telkom kini mendorong pengembangan layanan berbasis Connectivity+, Cybersecurity, hingga Artificial Intelligence (AI) melalui kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi global.
Sepanjang 2025, Telkom juga menjaga disiplin investasi dengan realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp27,5 triliun, setara 18,8 persen dari total pendapatan perusahaan.
Mayoritas investasi tersebut dialokasikan untuk memperkuat infrastruktur digital di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International.
“Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi. Dengan disiplin operasional, kami semakin yakin dapat memperkuat daya saing dan menciptakan nilai yang berkelanjutan,” tutup Dian.
Artikel Terkait
KPK Tetapkan 2 Tersangka Kasus Korupsi di Anak Perusahaan Telkom, Negara Dirugikan Rp280 Miliar
Universitas Telkom Dorong Inovasi Eduwisata Literasi dan Peternakan Rakyat Berbasis Teknologi di Desa Muntang
Kemkomdigi Targetkan 75 Persen Jaringan Telekomunikasi Aceh Pekan Ini Normal
Akses Telekomunikasi Mulai Pulih di Wilayah Paling Terdampak Aceh
TelkomGroup Pulihkan Layanan Telekomunikasi di Jayapura Setelah Gangguan 8 Jam di CLS Amai