Bersama para perempuan binaannya, Ely membangun UMKM Batik ChaCha Mentari sebagai wadah pemberdayaan ekonomi. Kegiatan produksi dilakukan secara sederhana di teras rumah, mulai dari menggambar pola, mencanting, hingga mewarnai kain.
Saat ini, Batik ChaCha Mentari memiliki tiga pengrajin aktif dengan kapasitas produksi antara 10 hingga 30 helai kain per bulan. Meski masih didominasi pasar lokal Bengkulu, permintaan terus menunjukkan peningkatan.
Menurut Ely, keberhasilan Batik ChaCha Mentari tidak lepas dari dukungan penuh Persit Kartika Chandra Kirana melalui program pembinaan berkelanjutan.
“Dukungan pembina dan Ketua Persit sangat berarti, mulai dari motivasi, pendampingan usaha hingga pemberian ruang promosi dalam berbagai kegiatan organisasi,” jelasnya.
Ia berharap keterlibatan Batik ChaCha Mentari dalam ajang Persit Bisa 2 dapat semakin memperkenalkan batik Kaganga ke tingkat nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan para ibu rumah tangga yang terlibat.
“Kami ingin batik khas Rejang Lebong semakin dikenal luas, sekaligus menjadi inspirasi bagi anggota lainnya untuk terus berani berkarya dan berinovasi,” ujarnya.
Ratih Agung juga menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.
“Terpilihnya Batik ChaCha Mentari merupakan bukti nyata bahwa kerja keras, kreativitas, dan semangat anggota Persit dalam mengembangkan usaha patut diapresiasi,” katanya.
Keikutsertaan Batik ChaCha Mentari di Persit Bisa 2 diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat promosi batik lokal Bengkulu sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan melalui UMKM berbasis budaya.