Jakarta,SUARA PEMBARUAN - Di tengah gegap gempita perayaan Hari Ulang Tahun ke-499 Jakarta, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan ruang yang berbeda: sebuah panggung yang menghidupkan kembali seni pertunjukan Betawi. Sepanjang bulan Juni, setiap akhir pekan, galeri ini membuka pintu bagi masyarakat untuk menyaksikan ragam kesenian tradisi yang menjadi bagian dari identitas kota. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah pertunjukan Lenong Kampung Te-Ko oleh Sanggar Oplet Robet, sebuah karya yang mengajak penonton menengok kehidupan kampung di tengah riuhnya kota besar.
Pertunjukan berdurasi satu jam ini bukan sekadar hiburan. Dengan gaya khas lenong yang penuh humor, dialog spontan, dan iringan musik tradisional, cerita yang ditulis Riyanto RA menyingkap dinamika sosial masyarakat urban. Kehidupan rukun warga kampung diguncang oleh ulah preman yang memanfaatkan kesulitan ekonomi, menghadirkan konflik yang terasa dekat dengan realitas sehari-hari. Namun di balik itu, terselip pesan tentang keberanian, kepedulian, dan pentingnya menjaga persatuan. Improvisasi para pemain, interaksi hangat dengan penonton, serta kehadiran bintang tamu Rudi Sipit membuat suasana terasa akrab, seolah menghidupkan kembali tradisi pertunjukan rakyat Betawi yang telah berakar puluhan tahun.
Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya, menegaskan bahwa panggung ini bukan sekadar perayaan seremonial. “Transformasi Jakarta menuju era baru harus berjalan seiring dengan upaya menjaga warisan budayanya,” ujarnya. Baginya, menghadirkan seni Betawi di ruang publik adalah cara untuk memastikan generasi muda tetap mengenal dan mencintai budaya yang membentuk perjalanan kota.
Sanggar Oplet Robet sendiri lahir dari semangat para mantan anggota Teater Cagar Budaya yang ingin terus mengekspresikan kecintaan terhadap tradisi Betawi. Sejak berdiri pada 2001, kelompok ini berkembang menjadi wadah yang tidak hanya menampilkan lenong, tetapi juga tari, gambang kromong, hingga kuliner khas Betawi. Ramdani atau Qubil AJ, pimpinan sanggar, menyebut kesempatan tampil di Galeri Indonesia Kaya sebagai kebanggaan tersendiri. “Budaya Betawi membutuhkan ruang untuk terus hidup. Melalui panggung ini, kami berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengenal dan mencintai kesenian Betawi,” katanya.
Lenong Kampung Te-Ko hanyalah satu bagian dari rangkaian panjang pertunjukan seni Betawi yang digelar sepanjang Juni. Sebelumnya, penonton telah disuguhi karya Majoor Jantje: The Last Mardijkers oleh Salindia Teater dan Djantoek Reborn oleh Atien Kisam. Perayaan masih berlanjut dengan pertunjukan Penganten Keder oleh Sanggar Sinar Norray pada 27 Juni mendatang. Semua ini menjadi bukti bahwa di tengah modernisasi, Jakarta tetap berusaha menjaga denyut budayanya.
Dengan menghadirkan panggung yang menyatukan tradisi dan refleksi sosial, Galeri Indonesia Kaya seolah mengingatkan bahwa ulang tahun kota bukan hanya tentang pesta, melainkan juga tentang merawat akar budaya. Di balik tawa dan improvisasi lenong, tersimpan pesan sederhana namun mendalam: Jakarta boleh bergerak menuju era baru, tetapi budaya Betawi tetap harus hidup sebagai jiwa kota.