Masjid Kota Wuna. (Foto Ist)
MUNA. suarapembaruan.news- Pemerintah Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) patut berbangga dengan kehadiran Komunitas Pemerhati Budaya Warisan Suku Muna (KAMBAWUNA). Komunitas ini menjadi perekat kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya leluhur, dan untuk kelima kalinya KAMBAWUNA mengorganisir masyarakat melalui ekspedisi ke Benteng Kerajaan Wuna guna mengenal dan melestarikan kekayaan budaya serta peradaban masa lampau kepada generasi.
Undangan ekspedisi itu menyebar luas ke media sosial, salah satunya dishare seorang pemerhati bernama Bahtiar Baratu, Jumat (20/10/2023) melalui grup whatsapp Ikatan Keluarga Alumni 278 SMA I, Raha yang beranggotakan ratusan orang dan menyebar di berbagai provinsi di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri.
Ekspedisi berlangsung Minggu (29/10/2023) mulai pukul 07.30 Wita hingga selesai, titik kumpul peserta di Rumah Adat / Museum Bharugano Wuna dan Masjid Al-Munajat Kawasan Benteng Kotano Wuna.
Ekspedisi serupa pertama kali dilaksanakan 12 Agustus 2018, ketika itu sejumlah pemuda menyatu dengan keinginan yang sama untuk melestarikan peninggalan peradaban leluhur, mereka menamakan diri Komunitas Muda Pemerhati Budaya Warisan Suku Muna (KAMBAWUNA), kegiatannya saat itu baru membuka akses ke Benteng Kerajaan Wuna dan sukses meraih perhatian masyarakat.
Kabarakatino Witeno Wuna
Ekspedisi selanjutnya kian menarik minat peserta, mereka bahkan ada yang berdatangan dari luar. Ini membuktikan bahwa masyarakat Muna masih menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur dan banyak diantaranya sangat meyakini tentang keberkahan tanah Wuna (Kabarakatino Witeno Wuna).
Kota Wuna bagi masyarakat Muna bukan sekedar peninggalan sejarah peradaban masa lampau, namun juga diyakini sebagai kota pusat religi. Sejarah mencatat bahwa agama Islam di Muna jauh lebih dulu berkembang dibanding negeri kerajaan lainnya di nusantara.
Ekspedisi Benteng Kerajaan Wuna Jilid V ini sarat dengan nilai edukasi, wisata sejarah, wisata religi dan olahraga, mengusung tema “Pemuda Peduli, Warisan Budaya Lestari,” targetnya melibatkan ribuan orang, sebagaimana yang disampaikan panitia yang diketuai Adi Munardi Kuti, S.Kom, S.E dan sekretaris, Ruslan. Mereka berharap, pengurus dan anggota serta komponen lainnya dapat berperan dalam kegiatan ekspedisi dan menyebarluaskan informasi tentang Benteng Kotano Wuna.
Penyelenggaraan kali ini agak berbeda dengan ekspedisi sebelumnya karena pesertanya tidak saja dari kalangan komunitas atau organisasi, tetapi juga melibatkan pelajar SMA/SMK, SMP bahkan SD dengan target 1000 peserta, kata Adi Munardi dalam undangannya.
Jejak Peradaban
Kabupaten Muna memiliki jejak peradaban masa lalu yang cukup tua di jazirah Sulawesi yang dikenal dengan Kerajaan Wuna. Kerajaan Wuna adalah kerajaan yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1210 dengan Raja I (Pertama) bernama LA ELI alias BAIDUZZAMAN bergelar BHETENO NE TOMBULA.
Pusat pemerintahan Kerajaan Wuna disebut Kotano Wuna, kota kuno yang dikelilingi benteng kerajaan dengan ukuran keliling lebih dari 8 Km, merupakan benteng besar dan telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Kabupaten Muna melalui Keputusan Bupati Muna Nomor : 58 Tahun 2023.
Ekspedisi jilid V diisi dengan kegiatan menjelajah dinding Benteng Kotano Wuna. Pengenalan situs-situs cagar Budaya Kawasan Benteng Kotano Wuna. Pengenalan Permainan Tradisional Suku Wuna. Pementasan Lagu-Lagu Daerah Muna.
Kota Wuna terletak di Desa Wuna, Kecamatan Tongkuno, sekitar 25 km dari Kota Raha, dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat maupun dua.
Benteng Kerajaan Wuna menjadi destinasi wisata sejarah serta bukti peninggalan kejayaan Kerajaan Muna pada masanya.
Tim Ahli Cagar Budaya menetapkan bahwa di Kabupaten Muna terdapat banyak situs dan kawasan peninggalan prasejarah dan masa kerajaan dahulu kala, itulah yang menjadi dasar hukum dalam pelestarian cagar budaya di Kabupaten Muna dengan menetapkan 10 Cagar Budaya yaitu Kawasan Cagar Budaya Benteng Kotano Wuna, Kawasan Cagar Budaya Lia Ngkobhori, Cagar Budaya Kantinu Didesa Loghiya, Cagar Budaya Kantor Kehutanan Muna, Cagar Budaya Ceruk Sugi Patani, Cagar Budaya Makam Raja Muna La Ode Ngkadiri ( Sangia Kaindea ), Cagar Budaya Makam Raja Muna La Ode Husein (Omputo Sangia ), Cagar Budaya Makam Raja La Ode Abdul Rahman ( Sangia Latugho ), Cagar Budaya Gua Metanduno Liangkabhori, Cagar Budaya Batu Pelantikan Raja Muna, Dan Hasil penetapan ini yang direkomendasi kepada pemerintah daerah Kab. Muna untuk ditindak lanjuti.
Agenda Tahunan
Keberadaan ekspedisi ini layak mendapat apresiasi dari pemerintah dan dijadikan agenda tahunan karena mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang sangat besar, khususnya dari sektor pariwisata.
Begitu bersemangatnya Bupati Muna LM Rusman Emba mempromosikan pariwisata, lalu membuat tagline “mai te wuna” yang berisi ajakan Ayo ke Muna. Dua tahun lalu Rusman berkunjung di Kementriaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) bertemu Menteri Sandiaga Uno untuk memromosikan destinasi wisata yang ada di Muna, hasilnya masih menunggu harapan.
Menurut Pakar Pariwisata yang juga dosen Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar, Dr Islahuddin, M.Si.,CHE kepada SP.news, pariwisata itu bukan hanya sekadar mengunjungi sebuah objek wisata ( di mana pun berada), namun lebih daripada itu adalah setiap pengunjung harus bisa melakukan aktifitas di tempat tujuan, dan bukan hanya sekadar foto-foto untuk dipajang di media sosial mereka.
Berwisata itu harus mampu memberikan pengalaman positif yang tak terlupakan bagi wisatawan, dalam unforgetable experience itu dicapai melalui penyedian aktifitas di Daya Tarik Wisata (DTW) atau destinasi, ujarnya.
Untuk Kota Wuna sendiri, menurutnya, jangan hanya menawarkan sejarah masa lampau, harus memberikan pengalaman dan kesan kepada wisatawan. Intinya adalah, sebuah DTW hanya akan menarik jika ada aktifitas yang dapat dilakukan selama berwisata di tempat itu, jelasnya. (SP.news/M Kiblat Said)