Jalur Pintas Arus Balik Penuh Risiko

Photo Author
M Kiblat Said, Suara Pembaruan
- Selasa, 16 April 2024 | 15:13 WIB
Arus balik penumpang dan kendaraan menggunakan motor tempel. (SP.news/MK Said)
Arus balik penumpang dan kendaraan menggunakan motor tempel. (SP.news/MK Said)

Muna- Suarapembaruan.news. Padatnya arus balik lebaran dari Kabupaten Muna ke Kota Kendari, Sulawesi Tenggara melalui jalur penyeberangan laut di Tampo (Kabupaten Muna) - Torobulu (Konawe Selatan) membuat sebagian para pengemudi sepeda motor memilih jalur pintas menggunakan perahu bermotor.

Antrian penumpang dan kendaraan pasca Hari Raya Idul Fitri 1445 H, Selasa (16/4/2024) tampak padat. Banyak penumpang menunggu dari pagi namun belum mendapatkan tiket.

"Saya memilih naik perahu motor karena harus masuk kerja besok, kalau menunggu kapal Ferry antriannya terlalu lama, bisa-bisa tengah malam baru berangkat," kata La Fauzan, penumpang yang akan ke Kendari.

Khusus Tampo-Torobulu, penumpang dilayani 3 kapal, satu KMP Tunu Pratama Jaya milik swasta, dua kapal ASDP yakni KMP Cendrawasih 2 dan KMP Nuku melayani sampai empat kali pergi-pulang. Tarif penumpang dan sepeda motor Rp 140 ribu perorang.

Fauzan dan beberapa penumpang tak betah menunggu lama, mereka memilih menyeberang dengan perahu motor, tarifnya Rp 150 ribu per orang bersama kendaraan. Waktu tempuh sekitar 1 jam dan turun di Pelabuhan Lainea.

Sedangkan pengendara yang menyeberang dengan kapal ferry akan menempuh perjalanan sekitar 3 jam dan turun di Pelabuhan Torobulu yang jaraknya lebih dekat dari Kendari dibanding pelabuhan Lainea.

Mereka yang menggunakan perahu motor tidak lagi mempertumbangkan faktor risiko, karena alat transportasi yang digunakan sangat tidak layak untuk mengangkut penumpang dan kendaraan, selain itu juga tidak ada jaminan asuransi.

Meskipun sarat dengan risiko, jasa angkutan perahu bermesin tempel yang jumlahnya lebih 10 unit itu, menjadi sumber pendapatan bagi warga di Tampo. Setiap perahu bermotor bisa mengangkut 10 sampai 12 sepeda motor dan penumpang per ret

La Ali, pemilik motor tempel mengatakan, setiap hari dapat menyeberangi Tampo-Lainea sampai 4 kali, hitung-hitung selama musim mudik bisa mencapai pendapatan per hari Rp 5 juta, setelah disisihkan ongkos angkut kedaraan naik dan turun dari perahu, katanya. (SP.news/MK Said)

Editor: M Kiblat Said

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

Kajati Resmikan Kantor Kajari Bengkulu Tengah

Kamis, 23 Januari 2025 | 17:20 WIB
X