Sultan HB X : Masa Depan Bangsa Ditentukan Pemahaman Rakyatnya

Photo Author
Fuska Sani Evani, Suara Pembaruan
- Senin, 26 Februari 2024 | 22:42 WIB

Yogyakarta, suarapembaruan.news – Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh seberapa dalam rakyat memahami, menghargai, dan menerapkan kedaulatan dalam arti yang paling luas dan beradab. “Sebuah era di mana kita semua, sebagai satu bangsa, bersatu dalam keberagaman, keadilan, dan kemakmuran,” tegas Sultan HB X saat berbicara sebagai keynote speech dalam Sarasehan Peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara 2024 di Gedhong Pracimasana Kompleks Kepatihan, Senin (26/02/2024).

Sarasehan yang dimoderatori oleh Sejarawan UGM Sri Margono tersebut menghadirkan narasumber Guru Besar Antropologi Hukum, Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) Sulistyowati Irianto. Turut hadir jajaran Forkopimda DIY, jajaran Parampara Praja, dan Kepala OPD di lingkungan Pemda DIY itu, juga disampaikan Sultan bahwa Kedaulatan Negara menjadi katalis yang menginspirasi kedaulatan rakyat dalam wujud yang lebih luas dalam tataran ideal yaitu kedaulatan budaya, kedaulatan sosial, kedaulatan ekonomi dan kedaulatan politik. Kedaulatan lebih dari sekadar konsep; ia adalah praktik harian yang merasuki setiap interaksi, setiap kebijakan, setiap niat baik yang ditujukan untuk memajukan bangsa.

Setiap sendi kehidupan negara disulam dengan benang-benang kedaulatan yang kuat dan beradab, menciptakan masyarakat yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga kaya secara spiritual dan kultural. Kesemua itu, selaras dengan tema Peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara Tahun 2024 "Kedaulatan yang Beradab Penentu Masa Depan Bangsa", yang mengajak ke sebuah era, di mana kedaulatan menjadi nyawa dan arah bagi kemajuan bersama.

Memperingati momen heroik Serangan Umum 1 Maret, Sri Sultan HB X menekankan, peringatan ini membuka pintu ke dimensi baru, dimana kedaulatan tidak lagi hanya terbatas pada wilayah fisik atau sejarah, melainkan merambah ke setiap aspek ideal kehidupan. Karena sejatinya, kedaulatan negara tanpa keberadaban masyarakatnya, adalah selayaknya berjalan tak tentu tanpa tujuan.

"Dalam konteks masa kini, adalah nilai-nilai kejuangan yang lahir dalam suasana perjuangan kemerdekaan itu, perlu terus-menerus dipelihara sebagai sumber kekuatan semangat kebangsaan kita. Eksistensi bangsa, tergantung pada keberhasilan membangkitkan, menggerakkan, menata dan mengarahkan seluruh potensi nasional menjadi bagian dari dunia baru," tuturnya.

Perjuangan dalam dunia yang ideal masa kini, bukanlah tentang adu kekuatan fisik melalui senjata, melainkan menyemai kebajikan melalui pemikiran yang inovatif, tindakan yang membangun, dan kreativitas yang merubah wajah pembangunan.

"Contoh nyata di DIY telah dibingkai dalam sinergi kultural Reformasi Kalurahan yang berakar pada dua pilar utama: Reformasi Kalurahan dan Reformasi Pemberdayaan Masyarakat. Konsepsi pemberdayaan masyarakat dijalankan dengan prinsip inklusi sosial yang menyeluruh, memastikan tidak satu jiwa pun terlupakan," ungkap Sri Sultan.

Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan, tidak hanya bertujuan menciptakan masyarakat yang berdaya, tapi juga untuk menghela mereka ke puncak kedaulatan diri, di mana setiap individu bersemayam dalam kekuasaan, pengetahuan, dan kemampuan untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya dengan kepala tegak.

Sementara, Guru Besar Antropologi Hukum FHUI Sulistyowati Irianto menyatakan, Yogyakarta adalah situs kebudayaan utama yang sangat penting. Oleh karena itu, Yogyakarta penuh dengan perspektif budaya. Bahkan, Yogyakarta menjadi pertahanan Nusantara secara antropologis dan alamiah sehingga siapa pun yang datang akan mengkonsumsi kebudayaan Jawa.

"Peristiwa sejarah penting bagi DIY seperti Yogyakarta menyatakan bergabung dalam negara Indonesia merdeka hingga menjadi Ibukota negara RI masa revolusi. Selanjutnya peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang diperingati sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara berdasarkan Kepres No. 2/ 2022," terangnya.

Sulistyowati mengaku sangat tertarik dengan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana. Ia menaruh harapan yang besar terhadap Yogyakarta dengan melihat kenyataan, filosofi yang menjadi kunci untuk memahami semuanya, dari sinilah sumber dari segala sumber dan bagaimana itu bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

 

 

 

Editor: Fuska Sani Evani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kajati Resmikan Kantor Kajari Bengkulu Tengah

Kamis, 23 Januari 2025 | 17:20 WIB
X