Sambut Indonesia Emas 2045, Sosialisasi Stunting di Bengkulu Terus Digencarkan

Photo Author
Administrator, Suara Pembaruan
- Minggu, 27 Agustus 2023 | 13:29 WIB
Anggota Komisi IX DPR-RI dapil Bengkulu, Elva Hartati melakukan sosialisasi program stunting di Desa Karang Anyar, Kecamatan Semidang Alas Maras (SAM), Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, pekan lalu dan sekaligus menyerahkan bantuan makanan bergizi tinggi kepada orang tua yang memiliki anak balita.(Foto/Ist)
Anggota Komisi IX DPR-RI dapil Bengkulu, Elva Hartati melakukan sosialisasi program stunting di Desa Karang Anyar, Kecamatan Semidang Alas Maras (SAM), Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, pekan lalu dan sekaligus menyerahkan bantuan makanan bergizi tinggi kepada orang tua yang memiliki anak balita.(Foto/Ist)

Bengkulu,suarapembaruan.news- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu lewat Kantor Perwakikan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) setempat bersama anggota Komisi IX DPR-RI dapil Bengkulu, Elva Hartati mengandeng Pemkab Seluma menggelar sosialisasi program penurunan kasus stunting di Desa Karang Anyar, Kecamatan Semidang Alas Maras (MAS).

Program sosialisasi ini dilakukan Pemprov Bengkulu, BKKBN, Anggota Komisi IX DPR-RI dapil Bengkulu dan Pemkab Seluma dalam rangka membebaskan balita di Bengkulu dari ancaman terpapar stunting, termasuk di Kabupaten Seluma di masa mendatang guna menyongsong Indonesia Emas 2045 mendatang.

Desa Karang Anyar, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu, tempat lokasi sosialisasi stunting merupakan salah satu desa tua di Bengkulu. Kampanye pencegahan stunting kali ini mengangkat tema "Merdekakan Anak Indonesia dari Stunting Upaya Menyongsong Indonesia Emas 2045".

Kampanye stunting di Desa Karang Anyar tersebut, diikuti sekitar 350 orang peserta berasal dari sejumlah desa di Kecamatan Semidang Alas Maras (SAM), dihadiri anggota Komisi IX DPR dapil Bengkulu, Elva Hartati, Sekretaris BKKBN Bengkulu, Nesianto dan pejabat dari Pemkab Seluma.

Dijelaskan, stunting adalah kekurangan gizi pada balita yang berlangsung lama pada masa 1000 hari pertama kehidupan sejak kehamilan hingga bayi berusia dua tahun, dan berdampak pada terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak.

"Mari kita jaga masa depan anak Indonesia dengan memastikan anak tumbuh dan berkembang dengan baik," kata Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Nesianto dalam sambutannya pada kampnye percepatan penurunan stunting bersama mitra kerja di Desa Karang Anyar, Kecamatan Semidang Alas Maras (SAM), Kabupaten Seluma, Sabtu (26/8/2023)

Untuk memastikan anak tumbuh kembang dengan baik, katanya perlu adanya perubahan perilaku orang tua dalam pengasuhan. Melengkapi gizi anak dengan memberikan air susu ibu (ASI), makanan pendamping (MP) ASI serta imunisasi, perlu juga menjaga kesehatan lingkungan mulai dari tersedianya air bersih, jamban sehat dan biasakan mencuci tangan menggunakan sabun.

Nesianto berharap kampanye pencegahan stunting ini diharapkan dapat menekan angka tubuh kerdil akibat kekurangan gizi kronis. "Saat ini prevalensi stunting di Kabupaten Seluma masih sebesar 22,1 persen. Angka tersebut menunjukkan kinerja pemerintah daerah terhadap penurunan stunting cukup baik," ujarnya.

Angka capaian ini mengalami penurunan jika dibanding dari tahun sebelumnya sebesar 24,7 persen (SSGI 2021). Pencegahan stunting merupakan upaya mewujudkan keluarga berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Strategi BKKBN dalam menurunkan stunting dengan memperkuat TPPS, membentuk TPK melalui regulasi yang ada.

Asupan Gizi Bayi

Anggota Komisi IX DPR-RI dapil Bengkulu, Elva Hartati mengatakan, masyarakat perlu mengetahui pentingnya pencegahan stunting karena berdampak terhadap perkembangan dan masa depan anak. Untuk mencegahnya diperlukan beberapa langkah dan strategi, salah satunya menghindari pernikahan usia anak.

"Tingkatkan media usia kawin pertama pada usia 21 tahun bagi remaja wanita dan 25 tahun bagi pria. Untuk menghindari pernikahan usia anak, maka anak perlu mengenyam pendidikan yang tinggi," ujar politisi PDIP ini.

Elva menambahkan, terjadinya stunting pada baduta, akibat kurangnya asupan gizi bagi bayi sejak dalam kandungan. Pernikahan usia anak, merupakan bagian dari penyebab hal tersebut, makanya keluarga perlu mengawasi perilaku anak agar menghindari hidup bebas sehingga tidak terjerumus pada bahaya laten remaja, yakni pernikahan usia anak, seks bebas pra nikah dan penyalahgunaan Napza.

Hal senada diungkapkan Kepala DP3APPKB Kabupaten Seluma. Ia mengatakan, dalam pencegahan stunting, pemerintah daerah setempat telah mengambil langkah-langkah dengan berkolaborasi bersama Kementerian Agama untuk mencegah terjadinya pernikahan usia anak.

Selain itu, kata Suardi, Pemerintah Daerah (Pemda) Seluma, Provinsi Bengkulu juga telah menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 27 Tahun 2018 tentang Pencegahan Stunting di daerah ini. Inovasi lain dalam mengatasi hal tersebut, pemerintah daerah mengajak pemerintah desa untuik mengalokasikan Dana Desa (DD) sebagai program pencegahan stunting dengan mengembangkan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) di kampung keluarga berkualitas di Seluma, ujar Suardi.(SPnews/min)

 

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Rekomendasi

Terkini

Kajati Resmikan Kantor Kajari Bengkulu Tengah

Kamis, 23 Januari 2025 | 17:20 WIB
X