Warga Minta Edukasi Secara Adil Terkait Rencana Beroperasi Tambang Emas di Seluma

Photo Author
Usmin., Suara Pembaruan
- Selasa, 17 Juni 2025 | 16:51 WIB
Seorang warga tengah memandang air sungai jerih dan bersih dari limbah karena hutan masih lestari belum dirusak untuk pertambangan.(Foto/Ist)
Seorang warga tengah memandang air sungai jerih dan bersih dari limbah karena hutan masih lestari belum dirusak untuk pertambangan.(Foto/Ist)

Bengkulu, SUARA PEMBARUAN-Kepala Desa Giri Nanto, Kecamatan Ulu Talo, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, Zulmanto, meminta edukasi secara adil dari banyak pihak terkait rencana beroperasinya perusahaan emas di kampungnya.

Ia katakan pihaknya sudah mendengar akan hadir sebuah perusahaan pertambangan emas di desanya dan lima di Kecamatan Ulu Talo, serta beberapa desa lain di kecamatan lain di Kabupaten Seluma.

"Kedatangan pihak konsultan sudah dua kali hadir pertama mereka mewawancarai warga untuk penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), dan kedua survei kondisi sosial masyarakat, sekitar tiga bulan lalu. Setelah itu, tidak ada lagi komunikasi," kata Zulmanto saat dihubungi melalui telepon, Selasa (17/6/2025).

Baca Juga: Sambut Hari Bhayangkara ke-79, Polda Bengkulu Gelar Bakti Kesehatan dan Bantu Ribuan Masyarakat

Ia mengatakan, selaku kepala desa dirinya bersikap netral tergantung kehendak warganya menerima kegiatan pertambangan atau menolak. Namun, ia katakan hal yang mencemaskan warga adalah bagaimana nasib desa, hutan dan warganya bila pertambangan mulai beroperasi.

"Hutan di kampung kami cukup luas. Kami hidup dari hutan, sungainya untuk mencari ikan, bersawah dan lainnya. Dari hutan kami juga hidup, berkebun, dan lainnya. Kalau tambang beroperasi bagaimana nasib kami," jelasnya.

Ia mengakui warga desanya merupakan masyarakat yang memerlukan edukasi adil dari banyak pihak mengenai isu-isu pertambangan karena menyangkut nasib warga. "Kami memerlukan edukasi yang adil terhadap akan masuknya tambang. Karena dengan edukasi yang adil kami dapat menentukan sikap terhadap pertambangan," jelas dia.

Baca Juga: Mahasiswa Bengkulu Gelar Unjuk Rasa Opsen Pajak Pertanyakan Semangat Bantu Rakyat Helmi Hasan

Ujang lahir dan besar di Desa Giri Nanto, Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu. Sehari-hari bertani kopi. Saban waktu luang ia biasa mencari gaharu, damar, berburu ikan atau kayu di hutan. Ia mendengar desas-desus adanya emas sejak 13 tahun lalu di kampungnya.

"Di atas itu, sudah ada lebih dari tujuh lubang berukuran 4x4 meter dengan dalam lebih dari 1,5 meter. Terus, hutan seluas satu hektare habis dibabat. Kayaknya biar heli mudah mendarat," katanya.

Nusia Perempuan asli Suku Serawai yang kini menghabiskan harinya mengelola sawah di tepi Sungai Ulu Talo, ikut merasa takut jika memang ada tambang emas di atas hutan mereka.
“Pasti rusak semua sumber air di hulu. Sungai bakal teracuni, sawah mati, banjir dan entah apalagi,” katanya.

Baca Juga: Petugas BPJS Tolak Pelayanan di Poliklinik Kesehatan Kulit Makassar

Selama ini saja, kata Nusia, sejak di lereng-lereng Sanggul sudah mulai ditanami kopi. Dampak pembukaan hutan mulai terasa. Salah satunya adalah meluapnya Sungai Ulu Talo ketika musim penghujan.

“Banjir bisa sampai ke sawah. Yang parah itu di desa yang agak hilir. Pernah rumah orang hanyut pada tahun 2019 kemarin,” katanya.

Halaman:

Editor: Usmin.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Rekomendasi

Terkini

X