pendidikan

Yuli Rifiani, Pengawas SMK yang Mendorong Sekolah Vokasi Kudus Menjadi Rujukan Nasional

Rabu, 26 Agustus 2026 | 21:25 WIB
Yuli Rifiani pengawas SMK Kudus. (Ist)

Kudus, SUARA PEMBARUAN  – Perjalanan Yuli Rifiani sebagai pengawas sekolah tidak hanya berfokus pada supervisi administrasi dan evaluasi kinerja sekolah. Sejak dipercaya menjadi pengawas SMK pada 24 Februari 2010 melalui proses seleksi, perempuan kelahiran Kudus, 6 Juli 1970, itu memilih menempatkan pembinaan mutu sebagai bagian utama dari tugasnya. Ia mendampingi sekolah, kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan agar mampu merancang serta menjalankan program pengembangan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Saat pertama menjalankan tugas sebagai pengawas SMK Kabupaten Kudus, Yuli membina 24 SMK. Tanggung jawabnya mencakup peningkatan kualitas sekolah, pembinaan kinerja kepala sekolah dan guru, hingga penilaian terhadap proses serta hasil program pengembangan sekolah. Dalam menjalankan tugas tersebut, ia tidak bekerja sendiri. Kolaborasi dengan warga sekolah dan berbagai pemangku kepentingan menjadi pendekatan yang terus dikembangkan.

Perhatian Yuli terhadap keterkaitan antara pendidikan vokasi dan dunia industri semakin kuat ketika pada 2012 Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus menjalin kerja sama dengan Djarum Foundation untuk meningkatkan kualitas SMK. Program tersebut diawali dengan pembinaan karakter bagi guru dan warga sekolah melalui kegiatan yang menghadirkan motivator.

Bagi Yuli, kemitraan tersebut kemudian berkembang menjadi bagian penting dari proses perubahan di sejumlah SMK di Kudus. Sekolah mulai diarahkan untuk mengembangkan kompetensi keahlian yang lebih dekat dengan kebutuhan industri. SMK Muhammadiyah, misalnya, mengembangkan bidang Teknik Komputer dan Jaringan melalui kerja sama dengan Cisco. SMK Wisudha Karya memperkuat kompetensi Teknik Pemesinan, sementara SMK Negeri 1 mengembangkan Tata Boga dan SMK NU Banat mengembangkan Tata Busana.

Pengembangan juga dilakukan di SMK Raden Umar Said melalui kompetensi Animasi dan Rekayasa Perangkat Lunak. SMK Ma'arif mengembangkan Teknik Pemesinan, sedangkan SMK Wisudha Karya kemudian memperluas bidang vokasinya melalui kompetensi Pelayaran, khususnya Teknika dan Nautika Kapal Niaga.

Ketika pada 2014 terjadi pengangkatan dua pengawas SMK baru, sebanyak 27 SMK di Kabupaten Kudus kemudian dibagi menjadi tiga kelompok pembinaan. Namun, berdasarkan kebijakan kepala dinas saat itu, sekolah-sekolah yang telah menjadi bagian dari kerja sama dengan Djarum Foundation tetap berada dalam binaan Yuli untuk menjaga kesinambungan program.

Dalam perkembangannya, sekolah yang berada dalam pendampingannya meliputi SMK Negeri 1, SMK Ma'arif, SMK Muhammadiyah, SMK Raden Umar Said, SMK Duta Karya, SMK NU Banat, dan SMK PGRI 1. Yuli juga tercatat mendampingi sejumlah SMK binaan Djarum Foundation dalam pengembangan sumber daya manusia, kurikulum, pembelajaran, hingga evaluasi dan tindak lanjut program.

Menurut Yuli, kemitraan antara sekolah dan dunia usaha maupun dunia industri bukan sekadar kegiatan tambahan. Kerja sama tersebut harus terintegrasi sejak perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi program peningkatan mutu SMK. Dengan pendekatan itu, kebutuhan industri dapat diterjemahkan ke dalam proses pendidikan sehingga lulusan memiliki kompetensi yang lebih sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.

Dalam program kemitraan tersebut, terdapat sejumlah aspek yang menjadi perhatian utama Yuli. Pengembangan kurikulum menjadi salah satu fondasi agar kompetensi lulusan selaras dengan kebutuhan industri. Selain itu, peningkatan kompetensi guru dilakukan untuk memperkecil kesenjangan antara kemampuan pendidik dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah pengembangan sarana dan prasarana pembelajaran, baik ruang belajar teori maupun praktik. Dukungan beasiswa juga diberikan untuk membantu siswa kurang mampu yang memiliki prestasi. Pada saat yang sama, sekolah didorong memperluas kolaborasi dengan industri sehingga pendekatan pembelajaran vokasi semakin dekat dengan situasi kerja yang sebenarnya.

Latar belakang masyarakat Kudus yang kuat dengan budaya religi juga menjadi bagian yang tidak dilepaskan dari pembinaan sekolah. Menurut Yuli, penguatan karakter perlu berjalan beriringan dengan penguasaan keterampilan. Lulusan SMK tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga perlu memiliki sikap kerja, disiplin, integritas, dan kemampuan beradaptasi.

Sebagai pengawas, Yuli menjadikan kegiatan supervisi sebagai bagian dari proses memastikan program peningkatan kualitas berjalan secara konsisten. Ia berpandangan bahwa SMK yang mendapat dukungan program kemitraan harus mampu menunjukkan kualitas yang lebih tinggi. Karena itu, standar yang digunakan dalam pembinaan juga harus terus ditingkatkan.

Perjalanan tersebut ikut memperkuat posisi Kudus sebagai salah satu daerah yang dikenal sebagai kabupaten vokasi. Dari 29 SMK yang ada, 15 sekolah disebut telah menjadi sekolah percontohan. Kondisi tersebut membuat sejumlah SMK di Kudus kerap menerima kunjungan dari sekolah lain, industri, pemerintah daerah maupun berbagai lembaga yang ingin mempelajari pengembangan pendidikan vokasi.

Bagi Yuli, meningkatnya perhatian terhadap SMK di Kudus membawa konsekuensi berupa tanggung jawab yang lebih besar. Sekolah yang menjadi rujukan harus terus memperbaiki kualitas dan tidak berhenti pada pencapaian yang telah diraih. Ia ingin pengalaman pembinaan di Kudus tidak hanya memberi manfaat bagi sekolah binaannya, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi pengawas dan pengelola SMK di daerah lain.

Halaman:

Terkini