Universitas Jember Kembangkan FertiGo SR, Ubah Limbah Kotoran Kambing Jadi Pupuk Slow-Release

Photo Author
Fuska Sani Evani, Suara Pembaruan
- Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:00 WIB
Tim Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jember bersama Kelompok Tani Farmdes Indonesia mengembangkan pupuk organik granul bernama FertiGo SR. (Ist)
Tim Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jember bersama Kelompok Tani Farmdes Indonesia mengembangkan pupuk organik granul bernama FertiGo SR. (Ist)

Jember, SUARA PEMBARUAN – Limbah kotoran kambing yang selama ini dianggap sebagai persoalan lingkungan kini disulap menjadi produk pertanian bernilai tambah. Di Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, tim Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jember bersama Kelompok Tani Farmdes Indonesia mengembangkan pupuk organik granul bernama FertiGo SR (Fertilizer Goat Manure Slow-Release). Inovasi ini dirancang untuk melepaskan unsur hara secara bertahap sehingga lebih efisien bagi tanaman.

Program ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ketua tim pelaksana, Mohammad Nur Khozin, S.P., M.P., menjelaskan bahwa pengembangan FertiGo SR diarahkan untuk menjawab persoalan utama pupuk organik, yakni menjaga ketersediaan hara agar tidak cepat hilang dari lingkungan perakaran. “Tahun ini kami tidak hanya membuat pupuk organik berbentuk granul. Formulasi diperkuat dengan penambahan zeolit, biochar, dan bentonit, sementara Trichoderma berperan sebagai komponen biologis fungsional,” ujarnya.

Dalam formulasi FertiGo SR, kotoran kambing terfermentasi menjadi bahan utama, sedangkan zeolit, biochar, dan bentonit digunakan sebagai fortifikasi mineral. Produk kemudian diproses menjadi granul berukuran 2–5 mm dengan karakter pelepasan hara yang lebih terkendali. Proposal program menetapkan bahan fortifikasi mineral pada kisaran 5–10 persen, dengan target Trichoderma sp. minimal 10⁶ CFU/g. Produk dikemas dalam ukuran 5 kg dan 25 kg, sehingga dapat digunakan secara praktis oleh petani.

Pengembangan FertiGo SR berangkat dari potensi lokal yang tersedia. Kelompok Tani Farmdes Indonesia memiliki sekitar 50 ekor kambing dengan potensi limbah kotoran mencapai 150 kilogram per hari. Potensi tersebut menjadi peluang untuk membangun keterkaitan antara usaha peternakan dan pertanian. Limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini diolah menjadi input pertanian bernilai ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Melalui program ini, petani tidak hanya diperkenalkan dengan produk pupuk, tetapi juga dilatih untuk menguasai proses produksinya. Tahapan kegiatan meliputi persiapan bahan baku, fermentasi, pencampuran bahan, granulasi, pengujian kualitas, aplikasi pada tanaman percontohan, pengemasan, serta penguatan manajemen usaha kelompok. Pendekatan ini membuat kegiatan pengabdian tidak berhenti pada demonstrasi teknologi, melainkan diarahkan agar kelompok tani mampu melakukan produksi, pencatatan, pengemasan, dan pengelolaan usaha secara mandiri.

Produk FertiGo SR akan diuji kualitasnya dan diaplikasikan pada tanaman percontohan untuk melihat respons tanaman serta efektivitas penggunaannya. Program menetapkan sejumlah indikator capaian, antara lain keseragaman granul minimal 80 persen, peningkatan ketahanan fisik sekitar 30 persen, peningkatan efisiensi pemupukan 20–30 persen, serta peningkatan kapasitas produksi kelompok tani hingga 100 persen dibandingkan kondisi awal. Angka tersebut akan dievaluasi melalui rangkaian kegiatan pengujian dan pendampingan.

Bagi kelompok tani, pengolahan kotoran kambing menjadi FertiGo SR membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dari luar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah peternakan. “Harapannya, setelah program selesai, kelompok tani tidak hanya mampu menggunakan pupuk yang dihasilkan, tetapi juga memproduksinya secara mandiri dan mengelola sebagai bagian dari usaha kelompok,” kata Khozin.

Aspek keberlanjutan menjadi bagian penting dalam program ini. Kelompok mitra akan mendapatkan pendampingan dalam pencatatan bahan baku, proses produksi, biaya, hasil produksi, pengemasan, hingga distribusi. Dengan demikian, teknologi produksi pupuk diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan setelah pendampingan berakhir. Program ini dilaksanakan selama delapan bulan dengan sedikitnya delapan kali kunjungan kepada mitra, mencakup koordinasi, pelatihan, produksi, pengujian kualitas, aplikasi pada tanaman, pendampingan pengemasan, serta monitoring dan evaluasi.

Melalui FertiGo SR, Universitas Jember mendorong pemanfaatan sumber daya lokal menjadi teknologi tepat guna yang memberikan manfaat langsung bagi petani. Kotoran kambing tidak lagi dipandang sebagai limbah, tetapi sebagai bahan baku untuk membangun kemandirian pupuk dan pertanian yang lebih berkelanjutan.

 

Editor: Fuska Sani Evani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tim Unsoed Kenalkan Pelet Ikan Berbasis Magot

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:44 WIB
X