Surabaya, SUARA PEMBARUAN – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa membahas rencana penandatanganan kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Alexandria, Mesir, dalam pertemuan dengan Wakil Duta Besar Mesir, Dr Amr Ahmad Mukhtar Abdul Hadi.
Pertemuan tersebut berlangsung di Masjid Nasional Al Akbar, Minggu (19/4/2026), dan turut dihadiri oleh Rois Bi’tsah, Syekh Ahmad Muhammad Mabruk, Syekh Faraq Salim, serta Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim.
Khofifah menjelaskan, pembahasan tersebut merupakan kelanjutan dari penandatanganan Letter of Intent (LoI) atau surat pernyataan kehendak kerja sama yang sebelumnya telah dilakukan antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Alexandria yang saat itu dipimpin oleh Mohamed Taher El-Sherif.
"Penandatanganan LoI, Letter of Intent, atau surat pernyataan kehendak kerja sama sudah pernah dilakukan antara Jawa Timur dan Alexandria, kami optimis akan ada progress yang signifikan," ucapnya.
Kerjasama, dirancang dalam format sister province yang telah memperoleh persetujuan dari DPRD Jawa Timur. Kedua wilayah memiliki potensi besar untuk saling melengkapi.
Ia mencontohkan pada sektor perdagangan, Mesir, memiliki budaya konsumsi kopi yang tinggi, sementara Jawa Timur merupakan salah satu daerah penghasil kopi unggulan di Indonesia.
"Ada potensi-potensi yang bisa dilakukan link and match antara Jatim dan Alexandria," bebernya
Di sektor pendidikan, Khofifah menilai kedua wilayah memiliki kesamaan fokus dalam pengembangan sumber daya manusia. Alexandria yang juga dikenal Iskandariyah merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan dunia Mediterania kuno untuk sebagian besar zaman Helenistik dan zaman kuno akhir.
Alexandria juga dikenal dengan perpustakaan terbesar di dunia yang memuat karya-karya penting ulama besar Islam. Sehingga diharapkan menjadi magnet bagi pendalaman sejarah Islam Tanah Air.
"Saya rasa ini bisa menjadi fondasi awal bahwa dua provinsi ini sama-sama memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan, ini bisa menjadi atensi kita untuk kemajuan pendidikan, transfer knowledge, bagaimana peradaban berkembang di sana dan banyak karya-karya luar biasa para ulama ada di perpustakaan di sana," urainya.
Selain itu, rencana penguatan kerja sama antara Universitas Al-Azhar dengan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (NU), khususnya dalam bidang pencegahan dan penanggulangan terorisme.
"Juga rencana kerjasama beberapa perguruan tinggi NU untuk bekerjasama dengan Azhar for combating terrorism," ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah turut memaparkan pengelolaan Masjid Nasional Al Akbar yang terus dioptimalkan sebagai pusat layanan keagamaan dan sosial bagi masyarakat.
Dengan keterbatasan lahan, kami terus memaksimalkan fungsi masjid melalui berbagai fasilitas seperti greenhouse, mini soccer berbasis pendidikan Al-Qur’an, digital library, program bagi generasi muda, Taman Asmaul Husna, hingga fasilitas ramah lingkungan.