Frans Turalakey, usianya sudah 83 tahun, lahir di Gorontalo 25 Juni 1939. Namanya tiba-tiba disebut oleh GM Utut Adianto , Ketua Umum PB Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) pada waktu sambutan pembukaan kejuaraan catur Japfa Rated Chess Tournament Sabtu (4/12/2021) di gedung Serbaguna GBK Senayan.
Acara pembukaan catur hari itu dihadiri 200 peserta dari berbagai provinsi, 60 di antaranya adalah remaja. Sontak suara Utut Adianto dijawab peserta yang hadir - tentu saja dalam hati - , “Siapakah gerangan si empunya nama itu : Frans Turalakey?.
Lagi, Utut Adianto, legenda catur Indonesia ini meneruskan kalimatnya. “Pak Frans ini adalah pecatur terbaik di era 1970-an. Dia termasuk peserta catur Olimpiade pertama mewakili Indonesia pada tahun 1972”. Cukup legendaris katanya.
-
Dari kiri Kenan duduk G.E. Sihaan (Alm), FKN Harahap (Alm), Frans Turalakey, BM Hutagalung (Alm), Djamil Djamal Alm, Moh. Kadar Basuki Alm. Berdiri dari kanan ke kiri Harun Al-Rasyid Alm, A. Hamzah Alm, Roy Pitono Alm, Herman Kurniadi, Roy Waworuntu.
Suara gaduh peserta seantero ruangan petang itu tiba-tiba terdiam sejenak mendengar penjelasan Utut tentang siapa Frans Turalakey. Mata peserta terlihat mulai nanar mencari dimana pria gaek ini duduk. Siapakah dia? Dimanakah dia? Seperti apakah dia?
Utut kemudian meminta Frans Turalakey berdiri. Dengan sedikit menopang tubuhnya yang gempal, dan lagi sudah sejak lama menggunakan tongkat di kedua tangannya, Frans Turalakey beranjak berdiri perlahan-lahan.
Wajahnya putih dengan sedikit bintik-bintik di sekitarnya. Ia mengenakan kaos berwarna hijau lusu, dan dengan senyum ia mengangkat kedua tangannya, sedikit melambai kepada para hadirin. Tempuk tangah peserta turnamen menggemah seketika untuk rasa salut pada kakek dengan cucu 13 orang ini.
Meski tanpa suara (kata), namun dengan senyumannya, keceriahannya di usia yang semakin tua, Frans Turalakey seolah ingin menyampaikan bahwa dia masih tetap sehat, masih tetap mencintai catur meski usianya kini sudah 83 tahun.
“Pak Frans, silahkan duduk kembali,” Utut selesai mengenalkan Frans Turalakey, si pencatat sejarah catur Indonesia di tahun 1970-an ini.
Dalam bincang-bincang singkat dengannya dalam acara itu Frans Turalakey mengisahkan tentang masa kecilnya dan mengapa sampai ia mencintai olahraga otak ini.
“Saya dilahirkan di Gorontalo 1939. Dibesarkan di Makassar, sebelum akhirnya hijrah ke Jakarta pada tahun 1966 setelah meletusnya G30S PKI” katanya.
Di masa kecil, di usia 13 tahun ia senang berolahraga senam. Maklum ingin membesarkan otot-otot sehingga di rumahnya ada restok (gelang-gelang), dan sejumlah perlengkapan olahraga lainnya dibuat oleh kakaknya. Ia makin mahir dan terbiasa dengan peralatan ring itu.
Di usia 13 tahun itu, di kala tulang masih terlampau muda menerima beban latihan berat di ring (restok) pergelangan tangannya patah, kakinya juga demikian, sehingga di kedua tangan dan kakinya dipasang besi-besi. Enam bulan berada di rumah sakit, kedua kakinya dibandul besi, kata dokter supaya bisa pulih seperti sedia kala.
Inilah titik balik ia berhenti berolahraga dan beralih ke catur. Memang, katanya, sejak di Makassar ia sudah sangat mahir bermain catur. Ada dua cabang olahraga asah otak yang digemarinya, selain catur juga permainan bridge.
Sewaktu masih di Makassar ia sudah menjadi pemain andalan untuk dua cabang olahraga itu. Bahkan pernah menjuarainya.
Di Jakarta ia meneruskan kemahirannya di bidang catur, dan bridge. Tahun 1967, setahun setelah hijrah ke Jakarta ia masuk klub catur elit Manado di Jakarta kala itu yakni Klub Wenang Manguning.
Dasar main bagus, Frans tidak hanya juara di Makassar saja, iapun mampu menumbangkan jago-jago catur di Jakarta dalam turnamen Wenang Manguning yang dilaksanakan setiap tahun.
Selama beberapa tahun (sekitar 7 tahun) ia merebut juara dalam hampir setiap pertandingan hingga meraih gelar MN (Master Nasional). Waktu itu gelar MN sudah sangat luar biasa hebat.
Puncaknya di tahun 1972. Frans Turalakey bersama beberapa pecatur hebat kala itu terpilih mewakili Indonesia dalam Olimpiade Catur di Yugoslavia. Tentu, partisipasi itu sangat berserjarah karena itulah pertama kali Indonesia mengikuti Olimpiade catur. Mereka yang turut ke sana adalah Arfan Baktiar, GM Ardiansyah, Watullo, Herman Suryadireja, Frans Turalakey dan lain-lain.
Atas prestasi dan sumbangsihnya Frans kemudian terpilih menjadi Ketua Percaja tahun 1984. Ia bertengger cukup lama untuk jabatan itu. Kecintaannya pada Percaja membuat Frans tetap turun bertanding untuk klubnya ini, meski sudah tidak turun di perorangan.
“Saya di Percaja itu, sebelum jadi ketua 1984,, saya memulai karier dari bawah. Anda tahu, saya mulai dari menjadi seorang pelayan catur” Apa itu pelayan catur? Itu yang sekarang papan catur pakai elektronik, dulu manual dan harus ada orang yang berdiri di depan untuk memindahkan buah-buah catur kalau ada orang hebat sedang bertanding. Saya mulai dari situ, berdiri di depan memindah-mindahkan buah catur” jelasnya.
Ke Boven Digoel
Ia baru surut di catur ketika harus konsentrasi usahanya di bidang transportasi kelautan (perkapalan). Di sinilah Frans Turalakey berkeliling ke seluruh Indonesia khusunya Indonesia Timur. Ia menyuplai (angkut) aspal dari pusat aspal terbesar Indonesia di Pulau Buton ke wilayah Indonesia Timur, termasuk ke Boven Digoel Merauke, Papua.
Frans tampak beberapa kali menyebut nama Boven Digoel dalam bincang-bincang singkat sore itu. Tampaknya ia memiliki kenangan indah di Boven Digoel.
Beberapa kali Frans mengunjungi Boven Digoel, melihat-lihat lokasi tempat pembuangan para tahanan politik di era Hindia Belanda seperti Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir. Kedua toko pergerakan nasional ini dibuang di lokasi itu 28 Januari 1935.
Selain Hatta dan Sjahrir, tokoh yang dibuang ke Boven Digoel di antaranya Mohamad Bondan, Maskun, Burhanuddin, Suka Sumitro, Moerwoto, Ali Archam, dan para pejuang lainnya.
Boven Digoel adalah tempat pembuangan paling menyeramkan di kala itu. Namun sekarang kondisinya sudah jauh lebih membaik. Sejumlah tempat bersejarah dibangun monumen, di antaranya ada patung Bung Hatta di Boven Digoel. Di bawah patung itu tertulis kata-kata Bung Hatta, "Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Di atas segala lapangan tanah air aku hidup, aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang tersimpan dalam dadaku" (Bung Hatta).
Frans Turalakey tampak bergairah dan gembira ketika mengisahkan beberapa kali perjalannnya ke Boven Digoel ini. Ia tampak bangga karena Boven Digoel yang dahulu jauh dari sentuhan kemajuan, namun ia bisa ke sana mengantar aspak Buton untuk membangun jalan. Setidaknya ia pernah melakukan yang berarti untuk tempat bersejarah seperti Boven Digoel.
Sekarang di usia 83 tahun, ia tidak kemana-mana. Meski hanya di rumah, Frans Turalakey masih tetap bermain catur setiap hari di aplikasi Hpnya.
Dalam wawancara petang itu, Frans bahkan mendemonstrasikan kebolehannya memainkan catur melawan komputer. Beberapa partai yang dimainkannya ia ternyata masih menang, Luar biasa.
Bermain catur sangat baik untuk orang tua. Catur adalah obat pikun. Frans membuktikan di usia 83 tahun ia tidak terlihat pikun, nggak nuna-nunu tidak karuan. Frans tetap sehat seperti masih usia 60-an tahun. Wajar Utut menyebut namanya pada acara pembukaan kejuaraan catur tersebut. Teruslah bermain catur Opa Frans Turalakey. Tetap sehat. (SPnews/Mike Wangge)