Semarang, SUARA PEMBARUAN – Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah resmi menutup Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Ndholo Kusumo di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, menyusul kasus dugaan pencabulan yang menyeret pengasuh pondok, Asyhari alias Mbah Walid.
Keputusan tersebut disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Moch Fatkhuronji, mewakili Kepala Kanwil Kemenag Jateng, Selasa (5/5/2026).
Menurut Fatkhuronji, langkah penutupan diambil setelah Asyhari resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus pencabulan.
“Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah resmi menutup Pondok Pesantren Ndholo Kusumo sebagai konsekuensi dari kasus pencabulan santriwati,” ujarnya.
Ia menegaskan, surat penghentian tanda daftar pesantren akan segera diterbitkan oleh Kementerian Agama RI.
“Hari ini juga akan muncul surat pemberhentian tanda daftar pesantren yang ada di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Ndholo, Tlogosari, Tlogowungu, Pati,” katanya.
Selain penghentian operasional pondok pesantren, pihak yayasan juga diminta tidak menerima santri baru pada tahun ajaran 2026–2027. Pengasuh pondok yang menjadi tersangka juga telah dinonaktifkan dan dikeluarkan dari yayasan.
Fatkhuronji menjelaskan, jumlah santri di ponpes tersebut mencapai 252 orang yang terdiri dari jenjang Raudatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Madrasah Aliyah (MA).
“Sebanyak 48 orang berstatus yatim piatu sehingga selama ini mendapatkan pendidikan gratis,” ungkapnya.
Meski pondok pesantren ditutup, Kemenag memastikan seluruh santri tetap mendapatkan hak pendidikan. Untuk siswa formal kelas I hingga V MI serta kelas X dan XI MA, proses pembelajaran akan dilakukan secara daring dari rumah masing-masing.
Sementara siswa kelas VI MI tetap menjalani pembelajaran tatap muka karena tengah menghadapi ujian akhir. Namun kegiatan belajar dipindahkan ke rumah guru yang telah ditunjuk oleh Kementerian Agama.
Kemenag juga telah berkoordinasi dengan madrasah sekitar untuk menampung para siswa terdampak, sekaligus menyiapkan relokasi bagi guru dan tenaga kependidikan agar tidak kehilangan tempat mengajar.
“Prinsip kami adalah menyelamatkan korban, memastikan pendidikan anak tetap berjalan, dan guru maupun tenaga kependidikan tidak terlantar,” tegas Fatkhuronji.
Artikel Terkait
Sarapan Mie, Puluhan Santri di Kabupaten Lebong Dilarikan ke Rumah Sakit
Pimpinan PPP Harus dari Figur Santri Garis Keturunan Ulama
Diduga Keracunan MBG, 28 Santri Ponpes di Jombang Dilarikan ke Rumah Sakit
Ustaz Viral Jadi Tersangka: Kasus Dugaan Pelecehan Santri Guncang Publik
Kasus Kiai Cabul di Pati Memanas, Eks Pengikut Sebut Santri Sering Dicium hingga Dipeluk