Sementara panelis terakhir Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung, Hifzon Zawahiri, S.E, MM menyampaikan meteri pengelolaan Mangrove di dalam Kawasan Hutan dan Rifi Zulhendri dari peggiat Kelompok Mangrove LATUN.
Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung berkomitmen terhadap pelestarian Mangrove baik di dalam maupun di luar Kawasan hutan. LATUN dan beberapa penggiat lainnya di Provinsi Bengkulu telah melakukan pengelolaan hasil hutan bukan kayu yang berasal dari bahan mangrove, di antaranya keripik, teh, kopi dan dodol.
Para penggiat membutuhkan tambahan pengetahuan dari berbagai pihak, karena berdasarkan informasi bahwa olahan mangrove bisa dibuat produk bernilai ekonomi yang lebih tinggi, seperti sabun dan pestisida alami.
Pada hari kedua dilaksanakan kegiatan praktek pengolahan HHBK Teh Mangrove dan Study Tour Potensi Wisata Hutan Mangrove. Dalam kesempatan ini para peserta berkesempatan melihat langsung pembuatan teh mangrove dan melihat nilai ekologis, dan estetika dari tegakan mangrove di Kampung Bahari, di Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu.(SP/Min/DAS Bengkulu)