Bang Dina, Perajin Binaan Pertamina, Jadikan Biawak Industri Rumah Tangga

Photo Author
M Kiblat Said, Suara Pembaruan
- Rabu, 9 Oktober 2024 | 13:54 WIB
Bang Dina memperlihatkan karyanya berupa tas jinjing, dompet dan gantungan kunci yang diproses dari kulit biawak hasil tangkapannya. (SP.news/Kib)
Bang Dina memperlihatkan karyanya berupa tas jinjing, dompet dan gantungan kunci yang diproses dari kulit biawak hasil tangkapannya. (SP.news/Kib)

Oleh : M Kiblat Said

Jurnalis Suara Pembaruan.news

Biawak Varanus salvator Aman dari Kepunahan

HARI mulai gelap, selepas salat magrib di malam pertengahan bulan September 2024, Dina Mahardika atau yang akrab disapa Bang Dina, bergegas dengan sepeda motornya menuju kawasan Barombong di Kecamatan Tamalate, pinggiran Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), membawa peralatan sederhana berupa mata kail besar, seutas tasi, potongan daging atau kepala ayam, karung dan senter.

Tetangga sekitar rumahnya di Kampung Bayang, Makassar, sudah mengenal kebiasaannya, jika keluar rumah di saat-saat seperti itu, tak lain pergi berburu biawak. Dina mengaku tak pernah repot mencari lokasi penangkapan biawak, berkat kemahirannya yang dikenal warga, ada saja yang datang ke rumahnya membawa informasi tentang lokasi sarang biawak.

Menurut Bang Dina, kebanyakan mereka yang membawa informasi itu merasa kesal lantaran biawak di sekitar rumahnya merajalela, memangsa anak ayam, itik atau memanjati kandang dan melahap telur yang sedang dieram. Bahkan, kata Bang Dina, pemilik tambak ikan bandeng yang tak jauh dari pesisir pantai Selat Makassar, beberapakali meminta bantuannya untuk menangkapi biawak air yang sering memangsa nener ikan bandeng saat baru berapa minggu dilepas. Jika tidak diatasi, keganasan biawak itu bisa menyebabkan kerugian besar bagi petambak.

Cara kerja Bang Dina amat sederhana, seperti saat dia memeragakan, mata kail seukuran jempol tangan diikat seutas tasi sekira satu meter, kemudian mata kail dipasangi umpan kepala ayam atau potongan daging ayam lalu tasinya diikatkan pada tiang atau batang pohon kemudian umpan dan kail ditaruh di permukaan air.

Selesai memasang jebakan pancing di beberapa titik, Bang Dina pulang ke rumah, keesokan paginya barulah ia menengok ke lokasi, biawak-biawak sudah lemas karena berusaha melepaskan diri dari jeratan mata kail. Kegiatan Bang Dina itu acap kali jadi tontonan warga, mereka menyaksikan keberaniannya menangkap biawak hitam  yang panjangnya kadang lebih dua meter, giginya  runcing dan tajam  dapat melukai bahkan memutus jari. Berburu biawak biasa dilakukan seminggu sekali, kadang kala dapat sampai 10 ekor, kata Bang Dina.

Sesampai di rumah, hasil tangkapan dibedah, semua dikerjakannya sendiri,  bagian kulit dibersihkan dari daging yang menempel lalu dikeringkan. Kalau hasilnya banyak, Bang Dina menelpon pembeli daging biawak untuk datang ke rumahnya. Daging biawak itu dijual ke restoran khusus kuliner berbahan daging biawak di Jalan Lamadukelleng, Makassar, harganya lumayan, bisa mencapai Rp 150 ribu per kg (kilogram), lebih mahal dari  daging sapi yang hanya Rp 90 ribu/kg.

Daging biawak konon berkhasiat bagi kesehatan, dibuat berbagai jenis masakan, terlaris adalah sate biawak, sepintas tak berbeda dengan bentuk dan rasa daging sapi.

Sayangnya, kalau lagi apes, stok daging dipembeli masih banyak, terpaksa daging hanya diolah untuk diambil minyaknya lalu dibuang ke bawah Jembatan Sungai Jeneberang, tak jauh dari rumah Bang Dina dan menjadi santapan ikan sungai.

Minyak biawak dibuat sebagai obat, diantaranya untuk mengencangkan alat vital lelaki, memperbesar penis, menyembuhkan penyakit gatal-gatal, luka labam, luka iris, bisul, jerawat, tersiram minyak panas, lecet, kadas, kurap, luka memar dan banyak lagi manfaat, harganya Rp 50 ribu perbotol berukuran 250 cc, lain lagi tangkur biawak, dijual Rp 100 ribu untuk kejantanan. Permintaan pasar minyak biawak cukup banyak, terutama dari wilayah Papua, disana di sebut minyak Soa-soa. Sedangkan kulit biawak disamak, setelah kering dibuat berbagai barang kerajinan industri rumah tangga.

Bang Dina dan Galeri Sinting

Menyambut HUT ke-67 Pertamina yang bertema “Energizing The Acceleration,” penulis tertarik mendalami kegiatan Bang Dina sebagai salah seorang perajin Usaha Mikro dan Kecil (UMK) binaan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi yang memiliki karya unik.

Halaman:

Editor: M Kiblat Said

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Rekomendasi

Terkini

Priska Tebar Ikan Nila dan Mas di Danau Mawang

Jumat, 18 Oktober 2024 | 10:04 WIB

21 Sekolah di Gowa Raih Penghargaan Adiwiyata

Senin, 9 September 2024 | 10:10 WIB
X