hiburan

Penutupan Prambanan Jazz 2026: Reuni, Nostalgia, dan Ribuan Cerita di Bawah Candi

Senin, 6 Juli 2026 | 12:22 WIB
Ari Lasso di Prambanan Jazz 2026


Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Malam itu, Candi Prambanan tak sekadar jadi saksi bisu megahnya peradaban. Di pelataran yang diterangi lampu panggung, ribuan pasang mata berkaca-kaca saat lagu "Yogyakarta" menggema. Penutupan Prambanan Jazz 2026 pada Minggu (5/7) berlangsung seperti reuni besar—menghanyutkan semua generasi dalam alunan melodi yang membelai.

Saat KLA Project muncul sebagai penutup di Guyub Stage, suasana berubah menjadi ajang bernostalgia. Lagu "Yogyakarta" yang mengalun di sela-sela candi seakan merangkul semua penonton, dari yang masih belia hingga yang rambutnya memutih. Mereka bernyanyi bersama, lupa waktu.

Namun KLA Project tak sendiri. Java Jive membuka kemeriahan Rukun Stage dengan deretan lagu hit yang langsung disambut tepuk tangan meriah . Jikustik juga tampil spesial—reuni dengan mantan vokalis Pongki Barata menjadi momen emosional yang paling dinantikan . Tak ketinggalan Fariz RM yang membuat "Sakura" bergema, diikuti ribuan penonton yang ikut bernyanyi .

"Baru kali ini lihat acara musik penontonnya banyak bersantai. Duduk di rumput, bahkan ada yang tiduran. Asyik banget. Nyaman," ujar Nia, penonton asal Jakarta yang membeli tiket kelas festival bersama teman-temannya .

Di balik kemeriahan, cerita perjalanan panjang para penonton turut mewarnai. Chila (19) datang dari Semarang demi menyaksikan Xdinary Heroes. "Deg-degan banget. Senang akhirnya bisa nonton mereka secara langsung. Ini benar-benar pengalaman pertama. Baru pertama ke Prambanan, baru pertama juga datang ke Prambanan Jazz," katanya sambil tersenyum .

Sementara itu, Tiara asal Solo mengaku sejak debut album pertama Tulus dan Maliq & D'Essentials, ia tak pernah absen. "Suka Tulus dan Maliq & D'Essentials karena setiap Prambanan Jazz selalu lihat mereka. Lagu favoritnya 'Jangan Cintai Aku Apa Adanya' dan 'Sriwedari'," ujarnya .

Tulus sendiri memberikan kejutan dengan membawakan lagu terbarunya, "Teh Hijau", untuk pertama kalinya secara langsung—meski baru dirilis beberapa hari, banyak penonton sudah hapal dan ikut bernyanyi .

Promotor Anas Syahrul Alimi dari Rajawali Indonesia mengungkapkan tahun ini mereka serius mengembalikan esensi jazz. "Sebanyak 63 persen memang jazz. Ada Panggung Langgam, pure musik jazz. Masukan dari netizen kami perhatikan," ujarnya dalam temu media . Program "Playing Jazz" pun menghadirkan aransemen ulang lagu The Panturas dan Perunggu bernuansa jazz, sukses menarik anak muda tanpa kehilangan cita rasa khas .

Dampak ekonominya pun terasa nyata. Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, yang hadir di hari penutupan, mengakui festival ini menggerakkan UMKM setempat. "Alhamdulillah setiap tahun antusiasmenya semakin meningkat, terbukti menggerakkan UMKM yang luar biasa. Ekonomi di sekitar kawasan Prambanan bergeliat," katanya .

Tak hanya lokal, panggung internasional ikut meramaikan. The Rose dari Korea Selatan jadi penampil pamungkas di Rukun Stage, membawakan "Utopia", "Lifeline", dan "Walking on Clouds" yang dinyanyikan ribuan penggemar . Henry Moodie asal Inggris juga tampil memukau sebelum The Rose .

Meski ada sedikit catatan dari penonton—seperti Rizka yang berharap area duduk diperbanyak dan Mela asal Bandung yang meminta tambahan toilet serta water station —senyum dan tawa tetap menghiasi wajah-wajah yang datang. Prambanan Jazz ke-12 kali ini bukan sekadar festival musik, melainkan ruang temu lintas zaman, tempat candi bercerita, dan lagu-lagu lama kembali diingat.

"Event ini tidak sekadar tentang musik, tetapi kebebasan merayakan dan menikmati kesenian yang selama ini menjadi bagian dari hidup masyarakat," pungkas Anas Syahrul Alimi, founder Prambanan Jazz Festival.

Tags

Terkini

24 Degrees dan Bara Rock yang Kembali Menyala

Jumat, 13 Februari 2026 | 17:10 WIB