Yogyakarta, suarapembaruan.news – Komoditas pertanian beras menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka inflasi di berbagai wilayah termasuk di DI Yogyakarta, meskipun stok diperkitakan cukup hingga Hari Raya Idul Fitri.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Ibrahim dalam acara bincang-bincang dengan awak media di Yogyakarta, Kamis (07/03/2024), menyebutkan faktor utama yang menyebabkan tingginya harga beras di DIY adalah el nino, yang menyebabkan mundurnya musim tanam padi dan akhirnya berdampak pada mundurnya panen.
“Pasokan beras di DIY cukup, namun karena penentuan harga beras atau price maker tidak berada di DIY, tetapi di Pasar Cipinang Jakarta yang menjadi konsentrasi pasar beras nasional, maka meski pasokan beras di DIY relative aman, harga tetap saja melambung,” jelasnya.
Bahkan menurut Ibrahim, DIY mengalami surplus beras pada bulan Februari mencapai 14,32% (mtm), namun banyak faktor yang mempengaruhi lonjakan harga beras di tingkat pengecer.
“Puncak panen raya di DIY diprediksi pada bulan April – Mei 2024, pasokan gabah di DIY mengalir ke luar daerah serta tingginya komponen biaya logistic, bahkan DIY tergolong sebagai Provinsi penyalur bantuan pangan (beras, daging ayam, dan telur ayam ras) yang relatif tinggi, dengan capaian penyaluran 33,33% terhadap target,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Tim Perumusan Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) DIY, Arya Jodilistyo menjelaskan berdasarkan data dari Bulog, dari sisi persedian beras di DIY hingga Februari 2024 di atas 1,2 juta ton.
"Berdasar rilis BPS, kalau bicara kumulatif Januari hingga prediksi April 2024 memang diperkirakan mengalami penurunan. Tetapi melihat besaran volumenya, besaran produksi di April bisa menjadi puncaknya. Bertepatan dengan HBKN, kami berharap bisa meredam inflasi ketika Lebaran," jelasnya.
Tingkat ketersediaan gabah kering giling di Bulog meningkat terus. Realisasi cadangan beras pemerintah oleh Bulog trennya positif sekali. hingga Februari 2024 didominasi kegiatan operasi pasar untuk mengendalikan inflasi. Di atas 200ribu ton untuk operasi pasar.
Ditambahkan Ibrahim, inflasi di DIY tidak bisa dijadikan patokan pertumbuhan ekonomi sebab menurutnya, pertumbuhan ekonomi DIY triwulan IV 2023 tumbuh positif 4,86% (yoy), meski melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 4,96% (yoy). Dengan capaian itu, secara keseluruhan tahun 2023, perekonomian DIY tumbuh 5,07% (yoy) tertinggi se-Jawa dan lebih tinggi dibandingkan Nasional. Pertumbuhan ini didorong oleh penghapusan PPKM sejak akhir 2022, sehingga menjadi pendorong aktivitas wisata, termasuk pada momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Konsumsi Rumah Tangga pada triwulan I diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, seiring dengan permintaan masyarakat akan produk makanan dan minuman pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Sejalan dengan konsumsi yang meningkat, kinerja dunia usaha juga diprakirakan tumbuh. Kinerja industri utamanya industri makanan, minuman, dan pakaian jadi meningkat seiring dengan pemenuhan permintaan. (*)