Grobogan, SUARA PEMBARUAN - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah terus mendorong peran Lembaga Jasa Keuangan dalam mendukung pengembangan ekonomi daerah melalui optimalisasi akses keuangan di ekosistem sektor pertanian.Baca Juga: Bukan Lagi Wacana, Quick Win Peningkatan Kualitas RSUD Mulai Dijalankan
Demikian disampaikan Kepala OJK Provinsi Jawa Tengah Sumarjono dalam sambutannya pada kegiatan Panen Raya Jagung yang dihadiri oleh Pj. Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana, Bupati Grobogan Sri Sumarni bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) di lahan seluas 578 hektar berlokasi di Desa Tegalsumur, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan, Selasa (14/1).
Sumarjono menyampaikan bahwa OJK telah mengarahkan agar lembaga jasa keuangan mendukung pembiayaan program pengembangan sektor pertanian di Jawa Tengah termasuk yang dilakukan di Kabupaten Grobogan guna meningkatkan produktivitas, membangun ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan dan mewujudkan pertanian berkelanjutan.Baca Juga: Influencer Apresiasi Kepemimpinan Taruna Ikrar, Tegas Sesuai Aturan Hukum
“Kegiatan ini merupakan wadah sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan produtivitas dan kualitas pertanian sehingga harapannya bisa terbentuk sebuah ekosistem keuangan inklusif yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan mendorong pertumbuhan perekonomian daerah,” kata Sumarjono.
Sumarjono dalam kesempatan tersebut juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah Jawa Tengah dan Kabupaten Grobogan beserta segenap jajarannya yang secara aktif melaksanakan kegiatan panen raya ini sebagai solusi permasalahan di sektor pertanian yaitu tingginya disparitas harga produk pertanian dari petani dengan konsumen.Baca Juga: Pertamina Patra Niaga dan Polda Sulteng Tandatangani Perjanjian Penyediaan BBM dan Pelumas
Selain itu tentunya Sumarjono juga memberikan apresiasi kepada para petani yang atas jerih payah, kerja keras, ketekunan dan dedikasinya sehingga panen raya dapat terselenggara. Hasil panen yang melimpah ini tentunya merupakan buah dari kerja keras bersama dan dukungan berbagai pihak yang turut berperan serta.
“Diharapkan program yang baik ini dapat diterapkan di daerah lain agar bersama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Sumarjono.Baca Juga: PT Charoen Pokphand Indonesia Tegaskan Tak Pernah Pasang Iklan, Konsumen Diminta Waspada!
Sementara itu, Pj. Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana menuturkan bahwa produktivitas lahan yang ditanami jagung tersebut mencapai 8 sampai 10 ton per hektare, sehingga total jumlah produksi bisa sampai 4.624 ton-5.780 ton.
“Ini juga berkaitan dengan kebijakan Presiden terkait swasembada pangan. Beliau menyampaikan untuk menghentikan impor beberapa komoditas pangan. Antara lain beras, jagung, garam, dan gula. Tambahan produksi ini memperkuat Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi lumbung pangan, (berupa) padi dan jagung,” kata Nana.Baca Juga: Chef Amerika Langsung Rekomendasikan Kecap Manis khas Indonesia untuk Sajian Steak yang Lezat
Nana berharap panen raya jagung menjadi motivasi untuk mewujudkan swasembada pangan, dan menjaga laju inflasi. Menurutnya, panen raya jagung itu merupakan tindak lanjut program New Food Supply Chain pada komoditas beras, jagung dan cabai, yang telah dikukuhkan pada 1 November 2024 lalu, dalam acara Jateng Inspiring Economic Effort Award.
Program tersebut diharapkan menjadi solusi, baik bagi petani, industri, maupun masyarakat. Bagi petani, program tersebut akan membantu mendapat kepastian pasar dan harga, sementara bagi pengusaha dan masyarakat akan mendapat kepastian pasokan dan harga komoditas yang terjangkau karena rantai distribusinya yang pendek.Baca Juga: Libur Panjang Isra Mikraj dan Tahun Baru Imlek, Ini yang Dilakukan Pertamina Patra Niaga RJBT!
Hasil panen jagung tersebut langsung ditampung oleh industri, yakni PT Japfa Comfeed Indonesia, PT Mulia Harvest Agritech, PT CJ Feed and Care, dan PT Malindo Feedmill, dengan nilai Rp20,49 miliar.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Grobogan Sri Sumarni menyampaikan bahwa penanaman jagung oleh petani dilakukan dengan sistem methuk. Jadi sebelum dipanen, petani sudah menanam bibit baru, sehingga masa panennya bisa lebih banyak.Baca Juga: Luar Biasa! Skor ESG PGN Melesat ke 20,2, Komitmen Kuat Menuju Net Zero Emission
“Pemkab Grobogan dan PT BPR BKK Purwodadi berkomitmen mendampingi sektor pertanian hulu-hilir, dari tanam sampai penjualan,” kata Sri Sumarni.*
Artikel Terkait
Rakorda ST2023 Fokus Data Akurat Kebijakan Pertanian Bengkulu
Petani Muda Aceh Terapkan Pertanian Modern, Raup Rp 30 Juta Tiap Bulan
Dua Kementerian Sinergi Membangun Kawasan Pertanian untuk Swasembada Pangan
Mentan Terobos Banjir dan Longsor, Pantau Langsung Kondisi Pertanian
Prof Fadjry, Alumnus Pertanian Unhas Jadi Pj Gubernur Sulsel Gantikan Prof Zudan