Jakarta, SUARA PEMBARUAN – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai penggerak ekonomi nasional. Lewat kinerja solid sepanjang 2025, BRI menyetorkan dividen jumbo kepada negara dengan total mencapai Rp52,1 triliun, angka yang menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah perseroan.
Keputusan pembagian dividen tersebut ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 yang digelar pada 10 Juni 2026. Total dividen tunai yang dibagikan berasal dari kinerja laba tahun buku 2025, di mana BRI mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp57,132 triliun. Dari jumlah itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp56,65 triliun.
Besarnya dividen yang dibagikan menegaskan posisi BRI sebagai salah satu penyumbang dividen terbesar kepada negara. Capaian ini juga menjadi cermin kuatnya fundamental bisnis perseroan di tengah dinamika ekonomi dan tantangan industri perbankan.
Tren positif tersebut berlanjut pada awal 2026. Hingga Triwulan I 2026, BRI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp15,5 triliun, tumbuh 13,7 persen secara tahunan. Pada saat yang sama, penyaluran kredit mencapai Rp1.562 triliun atau meningkat 13,7 persen year on year, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 9,4 persen menjadi Rp1.555 triliun.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan perseroan akan terus melanjutkan transformasi dengan bertumpu pada fondasi bisnis yang kuat, penguatan core business, dan penciptaan sumber pertumbuhan baru. Menurutnya, kehadiran Danantara menjadi momentum penting bagi BRI untuk memperbesar kontribusi terhadap program strategis nasional dan agenda prioritas pemerintah.
BRI, kata Hery, tidak hanya mengejar pertumbuhan dari sisi keuangan, tetapi juga ingin memastikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama melalui pemberdayaan UMKM, penguatan ekonomi kerakyatan, dan perluasan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Di bawah kepemimpinannya, BRI saat ini menjalankan program transformasi BRIVolution Reignite. Program ini disiapkan untuk memperkokoh fondasi bisnis perseroan, meningkatkan efisiensi, mempercepat digitalisasi, serta menjaga daya saing di tengah perubahan lanskap ekonomi dan teknologi. Fokus transformasi itu mencakup penguatan struktur pendanaan, peningkatan produktivitas, serta pengembangan bisnis inti dan lini pertumbuhan baru yang berkelanjutan.
Transformasi tersebut juga diperkuat melalui langkah corporate rebranding yang diluncurkan BRI pada 16 Desember 2025, bertepatan dengan ulang tahun perseroan ke-130. Melalui identitas baru itu, BRI ingin tampil lebih modern, inklusif, dan relevan bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa meninggalkan DNA utamanya sebagai bank yang berpihak pada rakyat dan UMKM.
Dari sisi pendanaan, struktur likuiditas BRI juga semakin efisien. Pada Triwulan I 2026, tabungan murah atau CASA tumbuh 13,2 persen menjadi Rp1.058,6 triliun. Peningkatan ini mendorong rasio CASA ke level 68,07 persen dan menurunkan cost of fund dari 3 persen menjadi 2,3 persen. Penguatan pendanaan tersebut ditopang oleh naiknya transaksi melalui kanal digital seperti BRImo, Qlola by BRI, Business Merchant, hingga QRIS BRI.
Komitmen BRI terhadap ekonomi kerakyatan juga terlihat dari agresivitas penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sepanjang Januari hingga Mei 2026, realisasi KUR BRI telah menembus Rp84,36 triliun atau 46,87 persen dari total alokasi tahun ini sebesar Rp180 triliun. Mayoritas penyaluran mengalir ke sektor produktif dengan porsi 67,18 persen, sementara sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan nilai pembiayaan Rp35,91 triliun.
Tak hanya di sektor UMKM, BRI juga memperkuat dukungan terhadap pembiayaan perumahan. Hingga 31 Mei 2026, penyaluran Kredit Pemilikan Properti (KPP) telah mencapai Rp9,5 triliun kepada 68.212 debitur. Melihat tingginya kebutuhan masyarakat, perseroan bahkan menaikkan target alokasi KPP 2026 dari semula Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun.
Di level akar rumput, BRI tetap menjaga komitmen terhadap pemberdayaan desa dan pelaku usaha kecil. Hingga kini, perseroan tercatat telah membina 5.245 Desa BRILiaN, melayani 15,6 juta pengguna LinkUMKM, serta mengembangkan lebih dari 43 ribu klaster usaha melalui program Klasterku Hidupku. Program-program tersebut menjadi bagian dari upaya BRI mendorong pelaku UMKM naik kelas secara berkelanjutan.
Penguatan BRI juga datang dari ekosistem grup. Hingga akhir Triwulan I 2026, entitas anak BRI membukukan laba Rp3,89 triliun atau setara 25,1 persen dari laba bersih konsolidasian perseroan. Kontribusi itu memperlihatkan semakin solidnya struktur bisnis BRI Group di bawah supervisi Danantara.
Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria menilai kinerja positif bank-bank Himbara, termasuk BRI, menjadi pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, pembiayaan yang kuat ke sektor-sektor produktif seperti manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, infrastruktur, dan UMKM akan berperan besar dalam menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan daya saing nasional.