Di Tengah Gejolak Global, BRI Jaga Likuiditas dan Permodalan Tetap Kuat hingga Awal 2026

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:56 WIB
BRI mencatat likuiditas dan permodalan tetap solid pada Triwulan I 2026, memperkuat ruang ekspansi kredit dan UMKM.
BRI mencatat likuiditas dan permodalan tetap solid pada Triwulan I 2026, memperkuat ruang ekspansi kredit dan UMKM.

 

Jakarta, SUARA PEMBARUAN – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berhasil mempertahankan kinerja keuangan yang solid hingga Triwulan I 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih dipengaruhi dinamika geopolitik, bank pelat merah tersebut mampu menjaga likuiditas dan permodalan pada level yang kuat sekaligus mempertahankan pertumbuhan bisnis secara sehat.

Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi, mengatakan perseroan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan disiplin manajemen risiko dalam menjalankan bisnis. Strategi tersebut menjadi fondasi penting bagi BRI dalam menjaga ketahanan kinerja sekaligus mendukung fungsi intermediasi perbankan.

Dari sisi likuiditas, BRI mencatat rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,7 persen hingga akhir Maret 2026. Angka tersebut dinilai masih berada pada level ideal untuk menjaga keseimbangan antara penyaluran kredit dan penghimpunan dana masyarakat.

“Hingga akhir Maret 2026, Loan to Deposit Ratio (LDR) BRI tercatat 86,7 persen yang menurut kami masih ideal dalam hal mengelola fungsi intermediary, tidak terlalu ketat namun juga cukup optimal untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan,” ujar Achmad Royadi.

Kinerja likuiditas yang terjaga juga tercermin dari semakin efisiennya biaya dana atau cost of fund. BRI berhasil menekan cost of fund berbasis dana pihak ketiga dari 3,0 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 2,3 persen pada periode yang sama tahun 2026. Penurunan sebesar 65 basis poin tersebut menunjukkan keberhasilan strategi perseroan dalam memperkuat struktur pendanaan.

Perbaikan struktur pendanaan itu ditopang oleh peningkatan porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Rasio CASA BRI meningkat dari 65,8 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 68,1 persen pada Triwulan I 2026. Kenaikan ini mencerminkan semakin kuatnya basis pendanaan yang berbiaya rendah sehingga mampu meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Menurut Achmad, disiplin dalam mengelola likuiditas menjadi faktor penting untuk menjaga kecukupan dana sekaligus meningkatkan kualitas struktur pendanaan.

“Yang juga penting, kami menjaga disiplin dalam pengelolaan likuiditas ini secara konsisten. Hal ini tidak hanya untuk memastikan kecukupan dana, tetapi juga berdampak langsung pada efisiensi biaya dana serta kualitas struktur pendanaan yang semakin optimal,” katanya.

Sementara itu, dari sisi permodalan, BRI juga mencatat posisi yang sangat kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal perseroan mencapai 22,90 persen hingga akhir Triwulan I 2026. Angka tersebut jauh berada di atas batas minimum yang ditetapkan regulator bagi bank-bank sistemik di Indonesia.

Tingginya rasio permodalan tersebut memberikan ruang yang luas bagi BRI untuk terus melakukan ekspansi bisnis secara sehat dan berkelanjutan. Selain menjadi modal untuk memperbesar penyaluran kredit, posisi permodalan yang kuat juga berfungsi sebagai bantalan untuk menghadapi berbagai risiko ekonomi di masa mendatang.

Dengan struktur modal yang kokoh, BRI optimistis dapat terus mendorong pembiayaan produktif, terutama pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi fokus utama perseroan. Ketersediaan modal yang memadai memungkinkan BRI memperluas akses pembiayaan tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.

“Ke depan, kami akan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan likuiditas dan ketahanan permodalan, sehingga BRI dapat terus berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” pungkas Achmad Royadi.

Kinerja likuiditas dan permodalan yang tetap kuat menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan bisnis BRI di tengah tantangan global. Dengan fondasi keuangan yang sehat, perseroan memiliki kapasitas yang cukup untuk terus mendukung pertumbuhan sektor produktif sekaligus memperkuat perannya sebagai motor penggerak ekonomi nasional.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X