Oleh: Bangun Lubis ( Wartawan SUARAPEMBARUAN.NEWS)
INDONESIA kembali diguncang kabar duka dari sektor industri. Perusahaan multinasional Panasonic dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 10.000 karyawannya secara global, termasuk sebagian di Indonesia. Meskipun perusahaan belum merinci jumlah PHK di tiap negara, imbasnya di Indonesia sudah terasa, terutama di sektor elektronik dan manufaktur padat karya.
Namun, Panasonic bukan satu-satunya. Gelombang PHK massal terus berlanjut di berbagai sektor, mulai dari tekstil, alas kaki, elektronik, hingga ritel. Di balik statistik yang terus meningkat ini, tersimpan kisah nyata ribuan pekerja yang kehilangan mata pencaharian, serta tantangan struktural yang belum teratasi dalam perekonomian nasional.
Mengapa PHK Massal Terus Terjadi?
Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, hingga awal 2024, lebih dari 77.000 karyawan telah terkena PHK, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mencatat bahwa lebih dari 60.000 buruh dari 50 perusahaan telah menjadi korban PHK, mayoritas dari sektor industri padat karya seperti tekstil dan elektronik.
Baca Juga: Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah
Presiden KSPI, Said Iqbal, menyampaikan bahwa melemahnya ekspor akibat perlambatan ekonomi global menjadi faktor utama. “Banyak perusahaan kehilangan pesanan dari luar negeri, terutama Eropa dan Amerika, sehingga mereka terpaksa melakukan efisiensi,” ujar Iqbal (sumber: Bisnis. com).
Sementara itu, Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan dua penyebab utama PHK massal: mesin industri yang usang dan tingginya biaya produksi di Indonesia. Ia mengatakan, “Kalau kita tidak segera modernisasi, negara-negara seperti Vietnam dan Bangladesh akan terus mengambil pangsa pasar kita di sektor industri.” (sumber: Bisnis .com)
Tekanan dari Luar Negeri dan Ketimpangan Dalam Negeri
Perlambatan ekonomi global bukan satu-satunya pemicu. Ketidakseimbangan antara upah dan produktivitas, tingginya ongkos logistik, dan kurangnya insentif untuk industri dalam negeri turut memperparah situasi. Achmad Nur Hidayat, pakar kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta, menyebut bahwa kurangnya reformasi struktural di sektor industri membuat Indonesia rentan ketika krisis global datang. "Kita terlalu tergantung pada pasar ekspor, padahal diversifikasi pasar belum optimal," ujarnya (sumber: Dunia-industri.com).
Baca Juga: Saudi Tangkap Puluhan Pelanggar Visa Haji: Haji Ilegal Terancam Sanksi BeratIndustri tekstil misalnya, yang dulunya menjadi tulang punggung ekspor Indonesia, kini melemah drastis. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat bahwa puluhan pabrik tutup sepanjang 2023-2024 akibat menurunnya permintaan global dan maraknya produk impor murah dari China.
Dampak Sosial dan Ekonomi
PHK massal berdampak langsung pada penurunan daya beli masyarakat, meningkatnya angka pengangguran, dan potensi ledakan sosial jika tidak ditangani segera. Banyak buruh yang telah bekerja puluhan tahun kini kehilangan harapan. Tanpa keterampilan tambahan dan minimnya akses pada program pelatihan ulang, ribuan dari mereka menghadapi masa depan yang tidak pasti.