IHSG Anjlok 7 Persen, Ekonom Nilai Ini Alarm Reformasi Pasar Modal

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 30 Januari 2026 | 10:34 WIB
pengamat ekonomi dan pasar keuangan, Dr. Noviardi Ferzi, menyikapi reaksi investor terhadap sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai transparansi dan kualitas free float saham. (Promedia )
pengamat ekonomi dan pasar keuangan, Dr. Noviardi Ferzi, menyikapi reaksi investor terhadap sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai transparansi dan kualitas free float saham. (Promedia )

 

Jakarta, SUARA PEMBARUAN  — Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang nyaris menyentuh 7 persen pada perdagangan Rabu (28/1/2026) dinilai mencerminkan koreksi struktural di pasar modal Indonesia, bukan sekadar respons emosional pelaku pasar. Pandangan tersebut disampaikan pengamat ekonomi dan pasar keuangan, Dr. Noviardi Ferzi, menyikapi reaksi investor terhadap sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai transparansi dan kualitas free float saham di Indonesia.

Noviardi menjelaskan, MSCI sebagai penyedia indeks global yang menjadi rujukan utama investor institusional internasional memiliki pengaruh signifikan terhadap arus modal lintas negara. Oleh karena itu, setiap evaluasi atau catatan kritis dari MSCI kerap direspons cepat oleh pasar melalui penyesuaian persepsi risiko.

Ia menegaskan bahwa tekanan pada IHSG kali ini seharusnya dipahami sebagai sinyal pembenahan mendasar. MSCI, kata dia, tidak mempersoalkan fundamental ekonomi nasional, melainkan menyoroti struktur pasar dan tata kelola, khususnya terkait transparansi serta keterbatasan saham yang beredar di publik.

Menurut Noviardi, tingginya konsentrasi kepemilikan saham dan minimnya porsi free float membuat pasar modal Indonesia lebih rentan terhadap gejolak sentimen global. Dalam kondisi tersebut, kepercayaan investor internasional menjadi penentu utama arah pergerakan indeks.

Ia juga menilai langkah perbaikan yang bersifat parsial belum cukup menjawab kekhawatiran investor global. Untuk itu, ia mendorong otoritas pasar modal melakukan reformasi yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.

Penguatan regulasi free float, peningkatan kualitas keterbukaan informasi, serta penegakan hukum pasar modal secara konsisten dinilai menjadi kunci. Tanpa langkah konkret tersebut, volatilitas pasar berpotensi terus berulang setiap kali muncul tekanan eksternal.

Meski demikian, Noviardi mengimbau investor domestik agar tidak terjebak kepanikan massal. Ia menilai koreksi yang dipicu faktor non-fundamental justru menjadi pengingat pentingnya strategi investasi jangka menengah dan panjang yang berbasis nilai.

Menurutnya, pasar yang sehat bukan ditandai oleh kenaikan tanpa koreksi, melainkan oleh kredibilitas dan tingkat kepercayaan investor. Jika kritik MSCI dijadikan momentum reformasi struktural, pemulihan kepercayaan investor berpotensi berlangsung lebih kuat ke depan.

 

 

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X