Jakarta, SUARA PEMBARUAN — Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang nyaris menyentuh 7 persen pada perdagangan Rabu (28/1/2026) dinilai mencerminkan koreksi struktural di pasar modal Indonesia, bukan sekadar respons emosional pelaku pasar. Pandangan tersebut disampaikan pengamat ekonomi dan pasar keuangan, Dr. Noviardi Ferzi, menyikapi reaksi investor terhadap sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai transparansi dan kualitas free float saham di Indonesia.
Noviardi menjelaskan, MSCI sebagai penyedia indeks global yang menjadi rujukan utama investor institusional internasional memiliki pengaruh signifikan terhadap arus modal lintas negara. Oleh karena itu, setiap evaluasi atau catatan kritis dari MSCI kerap direspons cepat oleh pasar melalui penyesuaian persepsi risiko.
Ia menegaskan bahwa tekanan pada IHSG kali ini seharusnya dipahami sebagai sinyal pembenahan mendasar. MSCI, kata dia, tidak mempersoalkan fundamental ekonomi nasional, melainkan menyoroti struktur pasar dan tata kelola, khususnya terkait transparansi serta keterbatasan saham yang beredar di publik.
Menurut Noviardi, tingginya konsentrasi kepemilikan saham dan minimnya porsi free float membuat pasar modal Indonesia lebih rentan terhadap gejolak sentimen global. Dalam kondisi tersebut, kepercayaan investor internasional menjadi penentu utama arah pergerakan indeks.
Ia juga menilai langkah perbaikan yang bersifat parsial belum cukup menjawab kekhawatiran investor global. Untuk itu, ia mendorong otoritas pasar modal melakukan reformasi yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
Penguatan regulasi free float, peningkatan kualitas keterbukaan informasi, serta penegakan hukum pasar modal secara konsisten dinilai menjadi kunci. Tanpa langkah konkret tersebut, volatilitas pasar berpotensi terus berulang setiap kali muncul tekanan eksternal.
Meski demikian, Noviardi mengimbau investor domestik agar tidak terjebak kepanikan massal. Ia menilai koreksi yang dipicu faktor non-fundamental justru menjadi pengingat pentingnya strategi investasi jangka menengah dan panjang yang berbasis nilai.
Menurutnya, pasar yang sehat bukan ditandai oleh kenaikan tanpa koreksi, melainkan oleh kredibilitas dan tingkat kepercayaan investor. Jika kritik MSCI dijadikan momentum reformasi struktural, pemulihan kepercayaan investor berpotensi berlangsung lebih kuat ke depan.
Artikel Terkait
Pertama Berkantor, Plt Dirut PDAM Makassar Kedatangam Investor Cina-Jepang
Investor Swasta Berminat Bangun Pelabuhan Laut di Kabupaten Bengkulu Utara
Pemprov Bengkulu Serahkan Pengelolaan Taman Remaja ke Investor Swasta
Bocoran Dokumen Ungkap Proyek Kota Modern Rp1.600 Triliun di Gaza, Disebut Libatkan Investor Swasta
BEI Bengkulu Catat Jumlah Investor Baru dan Transkasi Tahun 2025 Meningkat Tajam