Kredit UMKM Nyaris Stagnan: Pelaku Usaha Masih Wait and See, Bank Tetap Ketat

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 20 November 2025 | 11:07 WIB
Gubernur BI, Perry Warjiyo ungkap perlambatan kredit UMKM yang terjadi pada Oktober 2025. (Tangkapan layar YouTube Bank Indonesia)
Gubernur BI, Perry Warjiyo ungkap perlambatan kredit UMKM yang terjadi pada Oktober 2025. (Tangkapan layar YouTube Bank Indonesia)



Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Pertumbuhan kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengalami perlambatan tajam pada Oktober 2025.

Laju kredit hanya naik 0,11 persen secara tahunan, merosot dari capaian bulan sebelumnya yang masih menunjukkan pertumbuhan positif.

Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa lemahnya permintaan kredit menjadi faktor utama. Pelaku usaha dianggap belum agresif melakukan ekspansi karena masih menunggu situasi ekonomi yang lebih stabil.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa perlambatan kredit UMKM ini sejalan dengan melambatnya kredit perbankan secara umum, yang pada Oktober 2025 hanya tumbuh 7,36 persen, turun dari 7,70 persen pada September.

Perry merinci tiga alasan utama permintaan kredit belum menguat. Pertama, dunia usaha cenderung bersikap hati-hati dan menunda rencana ekspansi.

Kedua, banyak perusahaan lebih memilih menggunakan dana internal daripada mengambil pinjaman baru. Ketiga, suku bunga kredit masih dinilai cukup tinggi bagi sebagian pelaku usaha.

Sikap wait and see tersebut berdampak pada minimnya pengajuan kredit baru, termasuk dari sektor UMKM yang selama ini menjadi penopang ekonomi domestik.

Dari sisi perbankan, bank juga masih selektif dalam menyalurkan pinjaman, terutama pada kredit konsumsi dan UMKM yang dinilai memiliki risiko lebih besar.

Meski demikian, kondisi likuiditas perbankan sebenarnya terbilang kuat. Rasio AL/DPK naik menjadi 29,47 persen, sementara pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 11,48 persen.

Kredit yang belum dicairkan juga masih tinggi, yakni Rp2.450,7 triliun atau hampir 23 persen dari total plafon.

Untuk 2025, BI memproyeksikan pertumbuhan kredit berada di kisaran bawah target 8–11 persen. Namun Perry optimistis permintaan kredit akan kembali meningkat pada 2026, terutama apabila tekanan suku bunga mereda dan aktivitas ekonomi semakin menggeliat.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X