PNM Satukan Desa dan Pasar Global lewat Pemberdayaan Perempuan dan Inovasi Keuangan

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Minggu, 28 September 2025 | 09:13 WIB

Jakarta, SUARA PEMBARUANPT Permodalan Nasional Madani (PNM) terus menunjukkan konsistensinya dalam mengangkat perempuan prasejahtera melalui pembiayaan ultra mikro. Sejak berdiri pada 1999, PNM berfokus pada segmen yang kerap terabaikan lembaga keuangan formal karena dianggap terlalu kecil dan berisiko tinggi.

Pendekatan ini terbukti efektif. Melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar), PNM menyediakan pembiayaan tanpa agunan berbasis kelompok yang kini menjangkau jutaan perempuan di pelosok negeri.

Hingga Agustus 2025, jumlah nasabah perempuan yang dilayani PNM menembus 13 juta orang. Capaian ini menempatkan PNM sebagai lembaga pembiayaan perempuan terbesar di dunia, melampaui Grameen Bank asal Bangladesh.

Kinerja penyaluran dana pun meningkat pesat. Dari Rp4,2 triliun pada 2017, angka itu melonjak menjadi Rp68,2 triliun pada 2024 dengan pertumbuhan rata-rata tahunan 49,2%. Hingga Agustus 2025 saja, penyaluran telah mencapai Rp43,3 triliun.

Langkah monumental lainnya terjadi pada Juni 2025, ketika PNM menerbitkan Orange Bond senilai Rp16 triliun sekaligus meluncurkan Orange Sukuk pertama di dunia. Inovasi ini tidak hanya memperkuat posisi PNM di kancah keuangan berkelanjutan global, tetapi juga mengangkat Indonesia sebagai pemain penting di arena internasional.

Respon investor sangat positif. Dalam delapan hari proses book building, seluruh emisi terserap bahkan oversubscribe. Kupon yang ditawarkan pun kompetitif: 6,25% (1 tahun), 6,65% (3 tahun), dan 6,85% (5 tahun). Banyak investor memilih tenor panjang meski kondisi pasar dunia penuh ketidakpastian, menandakan tingginya kepercayaan pada PNM.

Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, menggambarkan langkah ini dengan kalimat, “Saya istilahkan mempertemukan Wall Street dengan Backstreet. Modal global bisa langsung menyentuh perempuan miskin di pelosok desa.” Baginya, Orange Bond menjadi simbol transformasi pembiayaan sosial: berakar di desa namun mendapat pengakuan internasional.

Selain menjadi terobosan finansial, Orange Bond turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. PNM memastikan penerbitan instrumen ini sesuai regulasi OJK dengan verifikasi independen. Bahkan, tahap kedua penerbitan senilai Rp1,02 triliun sudah disiapkan untuk akhir 2025.

Dasar dari semua itu tetap program PNM Mekaar yang kini menjangkau 13,3 juta perempuan di 36 provinsi. Tidak sekadar memberikan modal, PNM juga menyertakan pendampingan usaha, pelatihan, serta Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) untuk memperkuat kemandirian.

Inovasi lain hadir lewat aplikasi SenyuM Mobile, program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), hingga partisipasi di forum global seperti Commission on the Status of Women (CSW) PBB ke-68 di New York.

Atas kiprah tersebut, PNM meraih penghargaan “Best Ultra Micro Finance for Empowering Women in Business” dari CNBC Indonesia. Pengakuan ini menjadi bukti nyata keberhasilan PNM dalam menghubungkan pasar modal global dengan pemberdayaan perempuan ultra mikro di Indonesia.

Melalui Orange Bond, PNM menunjukkan bahwa pembiayaan sosial bisa inklusif, adil, sekaligus berdampak nyata. Dari lantai bursa internasional hingga warung kecil di desa, PNM menghadirkan wajah baru keuangan berkelanjutan yang benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X