Sleman, SUARA PEMBARUAN – Ribuan warga dari perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, khususnya Klaten, memadati Lapangan Rakai Pikatan, Sleman, Kamis malam (21/8/2026). Mereka datang untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit "Wahyu Katentreman" yang digelar PT Taman Wisata Candi (TWC) dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus HUT ke-46 TWC.
Dalang Ki Gading Pawukir Seno Saputro membawakan cerita dengan gaya khasnya di hadapan para tamu undangan, di antaranya Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, Asisten Administrasi Umum Kabupaten Klaten Muhimawan Purnomo yang mewakili Bupati Klaten, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan DIY Nahar Cahyandaru, jajaran Forkopimda Sleman dan Klaten, tokoh masyarakat, budayawan, serta perangkat desa dari Prambanan dan Kalasan.
Direktur Operasional PT TWC Indung Purwita menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini. Ia menekankan pentingnya momen yang bertepatan dengan peringatan kemerdekaan dan ulang tahun TWC sebagai pengingat untuk terus menjaga Indonesia dengan cara masing-masing, baik melalui pelestarian warisan budaya, lingkungan, maupun persaudaraan.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menegaskan bahwa pagelaran wayang bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukasi budaya yang memperkuat identitas bangsa. Ia mengingatkan pengakuan UNESCO terhadap wayang sebagai warisan budaya tak benda sejak 2003. Baginya, wayang adalah tontonan yang bisa menjadi tuntunan hidup yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan sehari-hari dan harus diwariskan kepada generasi muda. Danang juga mengapresiasi keterlibatan masyarakat melalui akses gratis bagi warga sekitar Prambanan dan Kalasan serta pemberdayaan UMKM lokal yang dilakukan TWC. Ia berharap Candi Prambanan dan Borobudur semakin mendunia dan membawa nama baik Sleman.
Dalam kesempatan itu, Danang menyoroti bahwa wayang adalah cerminan diri manusia. Sifat-sifat tokoh wayang kerap menggambarkan karakter manusia dalam kehidupan nyata. Ia mengajak masyarakat mewariskan kecintaan terhadap budaya sendiri kepada anak-anak. Ia juga membandingkan pagelaran wayang dengan drama modern yang sarat konflik dan perjuangan, namun selalu berakhir dengan kebahagiaan.
Sementara itu, Muhimawan Purnomo menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Bupati Klaten karena agenda lain. Ia menekankan bahwa pagelaran ini adalah bentuk nyata merawat warisan budaya bangsa, di mana cerita wayang mengandung pesan tentang kepemimpinan, kesetiaan, keberanian, tanggung jawab, pengendalian diri, dan perjuangan mewujudkan kehidupan harmonis. Muhimawan juga menggarisbawahi kedekatan Kabupaten Klaten dengan kawasan Prambanan dari sisi geografis, sejarah, budaya, dan pariwisata. Ia menyebut Prambanan bukan hanya kebanggaan Yogyakarta dan Jawa Tengah, tetapi juga bagian penting dari kekayaan budaya dan destinasi wisata Indonesia. Karena itu, Pemkab Klaten berkomitmen membangun sinergi dan kolaborasi dalam pengembangan kawasan pariwisata dan kebudayaan Prambanan dan sekitarnya.
Muhimawan berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, seniman, dan masyarakat terus diperkuat. Ia mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada PT TWC atas penyelenggaraan kegiatan ini dan berharap pagelaran memberi pesan serta tuntunan bagi semua.
Pagelaran wayang kulit Wahyu Katentreman berlangsung meriah hingga larut malam. Kehadiran tokoh-tokoh penting, dukungan pemerintah daerah, dan partisipasi masyarakat menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan perayaan kemerdekaan. Dengan semangat kebersamaan, acara ini menegaskan bahwa wayang kulit bukan sekadar seni tradisi, melainkan media pembelajaran yang relevan bagi generasi masa kini. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81, semoga budaya luhur wayang tetap hidup dan mendunia.