seni-budaya

Suadesa Festival 2026: Kolaborasi UMKM, Seni, dan Energi Ramah Lingkungan untuk Ekonomi Desa

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:50 WIB
ki-ka Anissa Hertami, Lurah Sudarjo, Kadiv. CSR PGN, Krisdyan Widagdo Adhi (SP. News/ Philipus Anton)

Sleman, SUARA PEMBARUAN – Budaya, ekonomi, dan kepedulian lingkungan berpadu dalam Suadesa Festival 2026 yang digelar pada 22–23 Agustus di Kawasan Kuliner Tiyasan, Padukuhan Gandok Tambakan, Kelurahan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Festival tahun kedua ini diselenggarakan oleh masyarakat setempat dengan dukungan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN, Subholding Gas Pertamina, sebagai ruang kolaborasi yang mengintegrasikan pemberdayaan warga dan pengembangan potensi bisnis lokal. Mengusung tema “Semangat Kemerdekaan untuk UMKM Desa yang Mandiri, Adil & Makmur”, Swadesa Festival menghadirkan titik temu antara potensi ekonomi warga dan peluang pengembangan kemandirian desa. Sebanyak 35 pelaku UMKM dari warga setempat dan binaan PGN, serta 75 pelaku seni dari komunitas lokal terlibat dalam rangkaian acara, sementara festival juga menghadirkan workshop interaktif yang membuka ruang bagi masyarakat untuk belajar sekaligus berkreasi.

Rangkaian Suadesa Festival 2026 terdiri dari empat program utama, yakni Pasar UMKM Suadesa, Panggung Rakyat Suadesa, Workshop Suadesa, dan Suadesa Peduli. Pasar UMKM menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memasarkan produk kuliner, kerajinan, fesyen, jasa, serta produk kreatif. Panggung Rakyat menghadirkan perpaduan seni tradisi dan musik populer dengan penampilan Kirab Bregodho, kesenian Hadroh, Qasidah dan Badui, serta musisi Smarai, Nona Sepatu Kaca, Kampayo, Jogja 90’s, The Rain, dan Jikustik yang berfungsi sebagai magnet kunjungan, sementara warga dan UMKM tetap menjadi cerita utama. Workshop dan kompetisi kuliner membuka ruang peningkatan keterampilan serta kreativitas warga, melibatkan peserta dari perwakilan padukuhan setempat. Sementara itu, Suadesa Peduli diwujudkan melalui penanaman pohon produktif di kawasan hijau Taman Lohjinawi, penguatan bank sampah desa, serta program sembako murah yang berisi beras, gula, minyak goreng, kopi, susu, dan teh yang dapat ditebus dengan harga terjangkau. Seluruh hasil penjualan sembako, bersama sebagian keuntungan dari penjualan UMKM, akan disalurkan untuk membantu masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur dan mendukung kegiatan sosial mahasiswa serta organisasi berbasis komunitas.

Selain menggerakkan ekonomi lokal, Suadesa Festival menjadi sarana PGN memperkenalkan Compressed Natural Gas atau CNG Silinder atau Gaslink sebagai alternatif energi praktis dan ramah lingkungan bagi UMKM serta sektor komersial seperti hotel, restoran, dan kafe yang belum terjangkau jaringan gas pipa. Kawasan Tiyasan berada sekitar 3,7 kilometer dari jaringan gas bumi PGN, sehingga teknologi CNG Silinder yang memungkinkan distribusi gas dalam tabung dengan sistem pembayaran bulanan layaknya listrik dinilai menjadi solusi tepat. Division Head CSR PGN, Krisdyan Widagdo Adhi, menegaskan bahwa Suadesa Festival muncul karena pihaknya melihat potensi besar di desa untuk menggerakkan ekonomi sekaligus memperkenalkan energi bersih, dan masyarakat perlu tahu bahwa energi ramah lingkungan bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus mendukung usaha kecil dan menengah. Ia menambahkan bahwa pihaknya mendorong terciptanya nilai bersama di mana masyarakat semakin mandiri, ekonomi lokal tumbuh, kawasan berkembang, dan energi berkelanjutan semakin dikenal.

Lurah Sinduharjo, Sudarjo, menyambut antusias kegiatan ini dan berharap kegiatan seperti ini bisa berkelanjutan serta menjadi ruang bagi potensi warga. Ia juga menyebutkan Taman Lohjinawi yang menjadi ruang hijau sekaligus pusat UMKM, dan menuturkan bahwa penanaman pohon yang dilakukan bersama warga diharapkan tumbuh baik dan menjadi pengayuh kehidupan warga Sinduharjo. Kepala Padukuhan Gandok Tambakan sekaligus penyelenggara festival, Hananto, menambahkan bahwa warga sudah memiliki usaha, keterampilan, dan seni yang tumbuh dalam keseharian, dan Swadesa memberi ruang agar kekuatan itu terlihat serta bertemu dengan lebih banyak orang sehingga membuka peluang lebih luas bagi kemandirian ekonomi. Ketua Panitia, Krishnamurti Prawirohardjo, berharap festival mampu membangun ruang jejaring dan peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi warga.

Suadesa Festival pertama kali digelar pada 2025 di Karangrejo, Borobudur, Magelang, dan penyelenggaraan kedua di Tiyasan tidak sekadar mengulang format, tetapi dikembangkan sesuai karakter, kebutuhan, dan potensi masyarakat setempat. Kawasan Kuliner Tiyasan telah memiliki ekosistem usaha yang terdiri dari pelaku UMKM, restoran, kedai kopi, dan aktivitas ekonomi berbasis masyarakat. Festival ini diharapkan menjadi pemantik di mana arus kunjungan tidak hanya untuk menikmati pertunjukan, tetapi juga untuk mengenal produk warga, bertransaksi, dan membuka kolaborasi. Dengan target 1.200 pengunjung per hari dari Sleman, Yogyakarta, Bantul, hingga Solo dan Magelang, Suadesa Festival 2026 menjadi bukti bahwa budaya, ekonomi, dan energi ramah lingkungan dapat berjalan beriringan sebagai penggerak pertumbuhan desa. Keberhasilan festival tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari transaksi UMKM, keterlibatan warga, jejaring usaha baru, dan kolaborasi lanjutan yang muncul, sehingga menjadi energi baru bagi masyarakat Sleman untuk terus berkembang dan berdaya.

Tags

Terkini

Sora Said Kembali Menggema Setelah 22 Tahun Menghilang

Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:03 WIB

Arul Kharisma Memulai Perjalanan Baru di Madinah

Minggu, 26 Juli 2026 | 21:20 WIB