Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN — Peringatan Hari Seni Dunia menjadi momentum untuk merefleksikan kembali makna seni dalam kehidupan manusia. Di tengah arus modernisasi dan budaya populer yang kian mendominasi, seni tradisional seperti karawitan tidak hanya menyimpan nilai estetika, tetapi juga mengandung filosofi mendalam yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara.
Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Sartini, menilai bahwa karawitan sejatinya merupakan cerminan kehidupan sosial yang sarat nilai kebersamaan, keseimbangan, dan harmoni. Menurutnya, karawitan bukan sekadar pertunjukan musik tradisional, melainkan praktik hidup yang mengajarkan manusia untuk saling mendengarkan dan menempatkan diri dalam kebersamaan.
Dalam satu ansambel Gamelan, setiap individu memegang peran berbeda, namun tidak ada yang saling mendominasi. Setiap bunyi yang dihasilkan harus selaras dengan yang lain agar tercipta harmoni. Filosofi ini, menurut Sartini, sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. “Karawitan mengajarkan bahwa kehidupan itu tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada komunikasi, saling memahami, dan saling menjaga,” ujarnya, Selasa (14/4).
Ia menjelaskan, nilai “ngemong” atau saling merawat menjadi inti dalam karawitan. Dalam praktiknya, para pemain tidak hanya fokus pada instrumen masing-masing, tetapi juga harus peka terhadap keseluruhan irama. Nilai ini mencerminkan kehidupan sosial masyarakat Nusantara yang menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan.
Lebih jauh, karawitan juga mengajarkan tentang keseimbangan antara individu dan kolektif. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dituntut untuk mampu menempatkan diri—kapan harus tampil, kapan harus memberi ruang bagi orang lain. Prinsip ini dianggap penting dalam menjaga keharmonisan dalam keluarga, lingkungan sosial, hingga kehidupan berbangsa.
Namun demikian, Sartini menilai bahwa pemahaman terhadap filosofi karawitan di kalangan generasi muda masih belum optimal. Hal ini bukan semata karena kurangnya minat, melainkan minimnya akses dan paparan terhadap seni tradisional sejak dini. Banyak anak muda yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenal karawitan secara langsung, sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya pun kurang terserap.
Di sisi lain, ia melihat bahwa perkembangan teknologi digital sebenarnya dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan kembali filosofi karawitan kepada masyarakat luas. Melalui berbagai platform digital, pertunjukan karawitan dapat diakses dengan lebih mudah, sekaligus menjadi sarana edukasi budaya yang kontekstual dengan zaman.
Sartini juga menyoroti bahwa eksistensi karawitan tidak cukup hanya dijaga sebagai warisan budaya, tetapi harus terus dihidupkan melalui praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterjemahkan dalam sikap hidup, seperti toleransi, kerja sama, dan kemampuan mendengarkan orang lain.
Refleksi pada Hari Seni Dunia ini menjadi pengingat bahwa seni tradisional seperti karawitan memiliki peran penting dalam membentuk karakter masyarakat. Di tengah perubahan zaman yang cepat, filosofi karawitan justru menawarkan keseimbangan—mengajarkan manusia untuk hidup selaras, tidak hanya dengan sesama, tetapi juga dengan lingkungan dan budaya yang melingkupinya.
Dengan demikian, karawitan tidak hanya layak dipertahankan sebagai identitas budaya, tetapi juga sebagai panduan nilai dalam menjalani kehidupan masyarakat Nusantara yang harmonis dan berkelanjutan.