Situbondo, suarapembaruan.news - Sebanyak 62 tenaga kesehatan (Nakes) di sejumlah rumah sakit dan Puskesmas di Kabupaten Situbondo, Provinsi Jatim terpapar Covid-19 varian Omicron. Hal itu diungkapkan Wakil Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Situbondo, Syaifullah, yang menyatakan kendati puluhan nakes tersebut absen sementara menjalankan tugas namun untuk pelayanan kesehatan termasuk menangani virus Omicron, terhadap masyarakat tidak sampai terganggu sehingga masih berjalan normal seperti biasa. Namun demikian, jika may jujur, maka tingkat pelayanan kesehatan sedikit agak terganggu. Akan tetapi, pelayanan tetap berjalan karena ada nakes lain yang selalu siap melayani masyarakat, tandas Syaifullah
“Puluhan nakes yang terpapar covid itu, mereka terdiri dari bidan, perawat, apoteker, anatesis serta dokter itu ada sebanyak 45 orang. Sedangkan yang non nakes sebanyak 17 orang dan satu dokter hewan. Jadi total semua yang terpapar itu sebanyak 62 orang,” ujar Syaifullah yang juga menjabat Sekdakab Situbondo itu.
Untuk mengerakkan semua seken yang ada, kata Syaifullah, pihaknya merapatkan bersama seluruh Puskesmas untuk diinventarisir. Tujuannya, lanjutnya, agar pelayanan kesehatan tetap berjalan sesuai harapan masyarakat. Nakes yang banyak itu di RSUD Abdoer Rachem, ada 14 orang, ujarnya sambil menambahkan, para nakes yang terpapar tidak membutuhkan waktu lama, karena proses penyembuhan akibat virus tersebut relatif lebih cepat dibanding Covid-19. Karenanya, pihaknya meminta agar nakes tidak panik dan harus konsentrasi dengan meminum obat serta vitamin dan berolah raga. Rata-rata gejalanya ringan, paling lima hari mereka itu sudah sembuh dan bisa tugas kembali,” pungkasnya sambil menambahkan, berdasarkan data Satgas Covid 19 Kabupaten Situbondo tertanggal 21 Februari 2022, kasus Covid 19 yang aktif mencapai sebanyak 520 kasus, sembuh 39 orang dan meninggal satu orang.
Percepatan Vaksin Anak
Pemkab Situbondo, menurut Syaifullah juga gencar melakukan berbagai upaya percepatan vaksinasi anak usia 6 sampai 11 tahun. Melalui program gerakan masyarakat sehat ( Germas), kegiatan gerai vaksinasi yang difasilitasi Dinas Kesehatan ini dengan sasaran sebanyak siswa 200 orang dan wali murid 200 orang serta 26 orang guru. Menurut dia, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Pemkab Situbondo, Dwi, mengatakan pihaknya meminta agar anak-anak membiasakan hidup sehat sejak kecil. Untuk menunjang tersebut, kata Dwi, melalui program Germas ini, pihaknya meminta agar meluangkan waktu untuk berolahraga serta memakan buah buah setiap hari.
“Paling tidak gunakan waktu selama 20 menit untuk berolahraga ringan,” ujar Kadinkes Dwi lagi. Mantan KTU RSUD Abdoer Rachem Situbondo ini mengatakan, capaian vaksinasi anak di Situbondo sampai saat ini sudah 41 persen untuk dosis pertama. Sedangkan untuk dosis keduanya masih kecil, sekitar 0,2 persen, katanya. Ia membenarkan bahwa stok vaksin anak dan lansia, hingga kini masih aman dan tercukupi untuk memenuhi kebutuhan di Situbondo. Jika mendekati habis, pihaknya segera meminta tambahan ke provinsi, tandas dia.
Sementara itu, Bupati Situbondo, Karna Suswandi secara terpisah mengatakan, pihaknya berharap dengan gerakan masyarakat sehar (Germas), masyarakat sudah mulai paham pentingnya kesehatan dalam meningkatkam hidup dan imunnya. Sehingga, lanjut Bupati yang akrab dipanggil Bung Karna itu, masyarakat dapat beraktivitas dengan baik serta kualitas pekerjaanya. “Ke depan apa yang diinginkan bisa dicapai sebaik baiknya,” ujar Bupati asal Desa Curah Tatal, Kecamatan Arjasa itu.
Mantan Kadis PU Bina Marga Bondowoso itu menambahkan, pihaknya optimis capaian vaksinasi anak di Situbondo akan memenuhi target. Sebab, sampai hari ini capaian vaksinasi anak kita sudah mencapai 41 persen, katanya.
Ditutup
Pada bagian lain Karna Suswandi mengintruksikan Dinas Pendidikan (Dindik) untuk menutup sekolah yang diketahui ada siswanya terpapar Covid-19. “Saya sudah perintahkan Kepala Dinas Pendidikan menutup sekolah yang ditemukan siswanya terpapar Covid 19 dan vaksinasinya belum seratus persen, ujar dia. Alasan penutupan sekolah itu, kata mantan Kadis PU Bina Marga Lumajang itu menambahkan, jika capain vaksinasi di sekolah itu belum tuntas, maka tingkat penularan virus Omicron bisa sangat cepat.
“Apalagi terhadap anak yang belum divaksin, penutupan itu sebagai bentuk antisipasi, menghambat dan sekaligus mengendalikan varian Omicron tersebut,” katanya. Terkait banyaknya wali murid yang keberatan, Bung Karna mengatakan, pihaknya juga berharap adanya kesadaran masyarakat atau para wali murid tinggi, kalau anak-anaknya harus divaksin agar selamat dari virus itu.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan, Siti Aisyah mengatakan, sejauh ini sudah ada 17 sekolah yang ditutup dan proses belajar mengajarnya dilakukan secara daring karena ada siswa atau gurunya yang terpapar Covid-19. Awalnya ada 16 sekolah dan sekarang nambah satu sekolah lagi yang kami tutup karena ada siswanya yang terpapar virus Covid-19. Jadi totalnya sekarang ada 17 sekolah yang kami tutup,” tandas Siti Aisyah.
DBD
Sejak bulan Januari hingga tanggal 18 Februari 2022, warga Kabupaten Situbondo yang terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) mencapai 58 kasus. Dari 58 kasus itu, satu orang pasien DBD dinyatakan meninggal dunia. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Situbondo, Dwi Herman Susilo saat dikonfirmasi Spnews semalam menyebutkan, dari 17 kecamatan di Situbondo, hanya dua kecamatan yang tidak ada kasus DBD-nya. Kedua Kecamatan itu berada di Kecamatan Kendit dan Kecamatan Banyuglugur. “Yang cukup tinggi justru di Kecamatan Banyuputih mencapai sebanyak 14 kasus. Ini menjadi perhatian kita,” katanya.
Untuk menutus penyebaran dan membunuh jentik nyamuk itu, pihak Puskesmas telah memberikan obat abate ke masyarakat yang terdampak kasus DPBD itu selain pentingnya bersih-bersih lingkungan. “Makanya, selain itu kita mengerahkan seluruh petugas di Puskesmas untuk memberikan edukasi pentingnya menjaga kebersihan kepada masyarakat. Salah satunya mengurai bak air madi satu minggu sekali,” tandasnya. Meningkatkanya kasus DBD ini, lanjut Dwi, dikarena terjadinya perubahan cuaca dari musim kemarau ke penghujan serta sebaliknya dari musim penghujan kemusim kemarau. “Kabupaten Situbondo ini termasuk daerah endemik, makanya rentan terjadinya DBD,” ujarnya sambil menambahkan, kasus DBD ini tidak hanya meningkat, namun akibat gigitan nyamuk aides aigepty itu menyebabkan satu orang di Kecamatan Situbondo meninggal dunia. (SPnews/Aries Sudiono)