Candi Muarojambi Dikembangkan Jadi Pusat Pendidikan Agama Buddha, Pemerintah Kucurkan Rp 260 Milar

Photo Author
Administrator, Suara Pembaruan
- Minggu, 22 Mei 2022 | 04:16 WIB
Para biksu Buddha melakukan prosesi paradaksina (mengelilingi candi) pada perayaan Waisak 2566 BE di Candi Kedaton, Kompleks Percandian Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Minggu (22/5/2022). (SPnews/Radesman Saragih).
Para biksu Buddha melakukan prosesi paradaksina (mengelilingi candi) pada perayaan Waisak 2566 BE di Candi Kedaton, Kompleks Percandian Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Minggu (22/5/2022). (SPnews/Radesman Saragih).

Jambi, suarapembaruan.news – Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi sepakat mengembangkan Situs Purbakala Candi Muarojambi, Kabupaten Muarojambi menjadi pusat pendidikan agama Buddha tingkat dunia. Sebagai langkah awal Pemerintah Pusat telah mengucurkan dana sekitar Rp 260 miliar untuk pemugaran dan pengembangan sarana dan prasarana Candi Muarojambi.

Demikian dikatakan Gubernur Jambi, Dr H Al Haris, SSos, MH pada perayaan Waisak 2566 Budha Era (BE)/2022 di Candi Kedaton, Kompleks Percandian Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Minggu (22/5/2022).

Turut hadir pada kesempatan tersebut Pembina Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Jambi, Surahmat, Bhiksu Shangha Vihara Wirutama Jakarta, Dharma Vuddho, Ketua Persatuan Umat Buddha Jambi (PUBJ), Rudy Zhang dan Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Provinsi Jambi, Usdi.

Menurut Al Haris, Candi Muarojambi dikembangkan kembali menjadi pusat pendidikan agama Buddha bukan hanya untuk mencetak para biksu dan cendekiawan Buddha. Pusat pendidikan agama Buddha di Candi Muarojambi nantinya dijadikan daya tarik wisata religi di daerah tersebut.

Dijelaskan, total anggaran yang dibutuhkan untuk membangun pusat pendidikan agama Buddha di Candi Muarojambi mencapai Rp 1,5 triliun. Karena itu pembangunan pusat pendidikan agama Buddha di Candi Muarojambi dilaksanakan secara bertahap (multi years).

Al Haris mengatakan, keberadaan Candi Muarojambi yang memiliki luas areal sekitar 3.891 hektare (ha) merupakan salah satu bukti sejarah bahwa Jambi pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha 1,5 abad silam. Candi Muarojambi menjadi saksi adanya pusat pendidikan Buddha sedunia sejak Abad VII.

“Dulunya cendekiawan dan calon biksu dari berbagai belahan dunia belajar di Candi Muarojambi. Selain itu, cendekiawan dan calon biksu yang belajar agama Buddha di Candi Muarojambi ada juga yang belajar hingga ke India,”katanya.

Dikatakan, pusat pendidikan agama Buddha di Candi Muarojambi nantinya akan membuka kembali lima fakultas. Untuk mendukung pengembangan pusat pendidikan agama Buddha tersebut, umat Buddha di Jambi diharapkan menyatukan tekad mewujudkan rencana pengembangan pusat pendidikan agama Buddha tersebut.

“Supaya pengembangan pusat pendidikan agama Buddha di Candi Muarojambi benar-benar memikat perhatian dunia, umat Buddha di Jambi hendaknya benar-benar lebih menghayati agamanya. Hal ini penting karena tidak ada agama tanpa umatnya,”katanya.

Al haris mengatakan, menelik sejarah Candi Muarojambi yang terbentuk Abad VII, berarti Candi Muarojambi menjadi cikal bakal Candi Borobudur yang berdiri Abad VIII. Para cendekiawan dan biksu Buddha dari Candi Muarojambi berperan besar mengembangkan agama Buddha di kawasan Candi Borobudur, Jawa Tengah. Dengan demikian tidak ada arti Candi Borobudur tanpa Candi Muarojambi.

“Saya meminta Majelis/Pendeta Buddha di Jambi bisa bekerja sama dengan Pemeirntah Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Muarojambi dan jajaran terkait memugar Candi Muarojambi demi membangun kembali candi ini menjadi pendidikan agama Buddha,”katanya.

Al Haris mengatakan, saat ini Pemprov Jambi mengembangkan Candi Muarojambi menjadi destinasi wisata andalan berkelas internasional. Para wisatawan akan diberikan kemudahan-kemudahan mengunjungi Candi Muarojambi. Di antaranya penyediaan bus wisata dari Bandara Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Kota Jambi ke Candi Muarojambi.

“Besok, Senin (23/5/2022), kami akan launching (meluncurkan) dua unit bus wisata yang melayani rute Bandara STS Kota Jambi – Candi Muarojambi dengan jarak sekitar 30 Kilometer (Km). Setiap wisatawan yang menumpang bus tersebut gratis,”katanya.

Gubernur Jambi, H Al Haris (sepuluh dari kiri) bersama para biksu dan umat Buddha Jambi pada perayaan Waisak 2566 BE di Candi Kedaton, Kompleks Percandian Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Minggu (22/5/2022). (SPnews/Radesman Saragih).

Sederhana

Sementara itu, perayaan Waisak 2566 BE di Candi Kedaton, kompleks Candi Muarojambi, Minggu (22/5/2022) pagi hingga siang berlangsung sederhana namun tetap khidmat. Perayaan Waisak tersebut digelar tanpa acara hiburan seperti pesta lampion dan atraksi seni barongsai.

Sekitar 2.000 orang umat Buddha di Jambi antusias mengikuti seluruh rangkaian acara ibadah Waisak tersebut. Mulai dari acara paradaksina atau mengelilingi Candi Kedaton hingga pelaksanaan ibadah di dalam areal Candi Kedaton.

Perayaan Waisak 2566 BE di Candi Kedaton tersebut menerapkan protokol kesehatan (prokes). Seluruh peserta wajib menjalani pemeriksaan suhu tubuh di pintu gerbang lokasi perayaan Waisak. Kemudian seluruh umat dan pendeta yang hadir pada perayaan Waisak tersebut juga memakai masker.

Biksu Shangha Vihara Wirutama Jakarta, Dharma Vuddho pada kesempatan tersebut mengatakan, perayaan Waisak 2566 BE secara tatap muka dengan mengundang banyak umat di Candi Muarojambi merupakan yang kedua dilaksanakan di Indonesia di tengah meredanya pandemi Covid-19. Sebelumnya sudah digelar peraywaan Waisak 2566 BE secara tatap muka di Candi Borobudur, Jawa Tengah, Senin (16/5/2022).

Dikatakan, perayaan Waisak 2566 BE tahun ini menetapkan tema “Moderasi Antaragama untuk Membangun Kedamaian Demi Persatuan dan Pembangunan Indonesia”. Untuk mencapai hal tersebut, umat Buddha di Indonesia diminta melaksanakan enam sikap dan perilaki bijak.

Keenam sikap tersebut, berbicara dengan cinta kasaih, sesuai perkataan di hadapan dan di belakang sesame atau saudara. Kemudian bertingkah laku sopan, berpikiran penuh cinta kasih, saling berbagi, bersatu dalam moralitas dan memiliki pandangan maupun pengetahuan yang sama.

“Salah satu membuktikan rasa cinta kasih dan persatuan di tengah pandemi Covid-19 ini, yakni memberi atau berbagi kepada orang – orang yang membutuhkan. Berbagi pada masa pendemi ini menjadi momentum berbagi secara tepat, yakni benar-benar menolong orang terdampak Covid-19 yang membutuhkan pertolongan,”katanya. (SPnews/Radesman Saragih).

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

Kajati Resmikan Kantor Kajari Bengkulu Tengah

Kamis, 23 Januari 2025 | 17:20 WIB
X