Pengunjung Malioboro Meningkat Signifikan

Photo Author
Administrator, Suara Pembaruan
- Rabu, 29 September 2021 | 10:59 WIB
Pengunjung Malioboro meningka signifikan pada akhir pekan lalu. (SPNews-Fuska Sani Evani)
Pengunjung Malioboro meningka signifikan pada akhir pekan lalu. (SPNews-Fuska Sani Evani)

SUARA PEMBARUAN, YOGYAKARTA – Jantung wisata Kota Yogyakarta, Malioboro kembali dipenuhi pengunjung usai Pemerintah Kota Yogya menyalakan kembali Penerangan Jalan Umum (PJU).

Pengunjung pun masuk melalui jalan-jalan sirip dan tidak melewati pintu utama atau terlewat dari pengawasan.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menjelaskan bahwa pengaktifan PJU Malioboro sudah dimulai sejak Minggu (26/9/2021) lalu, namun mencermati kondisi tersebut, Pemkot tidak akan melakukan secara permanen.

"Penyalaan lampu di Malioboro ini berkaitan dengan turunnya kasus Covid-19 di Kota Yogya, tapi kami evaluasi," terang Haryadi, Selasa (28/9/2021).

Menurutnya, Pemkot Yogya tetap menempatkan petugas untuk mengontrol pengunjung, namun jika kerumunan tidak bisa dihindari, Pemkot kembali memadamkan lampu pukul 20.00 WIB.

Terpisah, Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Yogya melalui anggotanya, Baharuddin Kamba meminta Pemkot Yogyakarta mewaspadai gelombang 3 Covid-19 yang bisa saja terjadi.

"Kami minta agar Pemkot Yogya harus melihat kejadian yang sudah terjadi di negara lain," katanya.

Menurutnya, masukkan sudah diberikan kepada Pemkot Yogya sejak dua pekan lalu. Pemkot jangan sampai lengah. Malioboro boleh saja dibuka, tetapi dengan pengawasan yang ketat.

Berdasar pemantauannya, kerumunan di Malioboro tidak bisa dihindari, khususnya dalam penerapan jaga jarak antar pengunjung, dan melepas masker saat berbincang.

Waspada Mutasi Virus

Terpisah, Ketua Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM dr Gunadi menyatakan, meski kasus terkonfirmasi positif Covid-19 sudah mulai melandai, masyarakat tetap harus taat protokol kesehatan,  karena potensi penularan virus masih bisa terjadi.

Potensi lainnya, ujar Gunadi, berkaitan dengan mutasi virus yang beradaptasi dengan inangnya. Dan mutasi virus baru akan berkurang jika kekebalan komunal sudah terjadi.

Menurutnya, kekebalan komunal itu merupakan cakupan vaksiniasi minimal 80 persen.

"Masyarakat jangan euforia dulu. Jangan kendor sampai kekebalan komunal terjadi," ujarnya. (FSE)

 

 

 

 

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Rekomendasi

Terkini

Kajati Resmikan Kantor Kajari Bengkulu Tengah

Kamis, 23 Januari 2025 | 17:20 WIB
X