Kawasan TNKS, HP Air Ipuh I dan II, dan HPT Lebong Kandis, HP Air Dikit, HP Air Teramang, HP Air Rami, Sebelat, seluas 144.880 hektare merupakan kantong habitat gajah sumatera.
Namun, kondisi paling pilu terjadi kerusakan di HPT Lebong Kandis, Hutan Produksi (HP) Air Rami, HPT Air Ipuh II, HP Air Teramang, HP Air Ipuh I. Hutan babak belur, jalur gajah rusak, koloni terpisah mengakibatkan proses perkawinan alami gajah terganggu. Ancamannya punahnya gajah sumatera di Bentang Sebelat, Bengkulu.
Wilayah Bentang Seblat masuk dalam wilayah Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) koridor gajah seluas 80.987 hektare. Area ini merupakan jalur jelajah atau home range gajah Sumatera, namun secara total kerusakan kawasan akibat perambahan sawit ilegal mencapai 40 ribu hektare.
Kesimpulan akhir, gajah sumatera di Bentang Sebelat hanya tersisa 25 ekor. Saat ini di Bentang Sebelat teridentifikasi 25 ekor gajah, 10 ekor gajah jinak di Taman Wisata Alam (TWA) Sebelat, lima ekor gajah liar di HP Air Teramang, HPT Air Ipuh II dan HPT Air Ipuh I atau dikonsesi PT. Bentara Arga Timber (BAT).
Kemudian di HPT Lebong Kandis dan HP Air Rami atau dalam konsesi PT. Anugerah Pratama Inspirasi (API) terdapat enam ekor gajah liar, dan empat ekor gajah jantan liar.
"Total tersisa 25 ekor. Yang berada dalam dua koloni terpisah antara HP Air Ipuh II dan HP Air Rami terputus karena perambahan," kata Wamen Kehutanan, Rohmat Marzuki dalam kunjungannya ke lokasi hutan yang rusak di Bengkulu, Selasa (4/11/2025).
Ribuan hektar hutan gundul berubah menjadi kebun-kebun sawit ilegal. Saat ini tidak saja satwa liar terancam punah, manusia, ribuan warga tepian hutan ikut merasakan dampak nyata.