Sekarang saja, kata Marwan sudah ada pabrik CPO di Bengkulu menghentikan pembelian TBS petani, karena mereka tidak ada tempat lagi untuk menampung CPO yang mereka produksi. Namun, ia tidak menjelaskan secara pasti pabrik CPO di Bengkulu, yang menghentikan pembelian TBS petani.
Baca Juga: Menkop Akan Resmikan Koperasi Merah Putih Unggulan di Bengkulu Tengah
"Yang pasti, sudah ada pabrik kelapa sawit di Bengkulu, pada bulan Juni ini menghentikan pembelian TBS petani. Alasanya, karena tangki penimbunan CPO mereka sudah penuh dan tidak ada lagi tempat penampungan lain," tambahnya.
Meski ada pabrik kelapa sawit masih membeli TBS petani kemungkinan harga akan lebih murah. Sebab, mereka terus berproduksi tapi CPO tidak tidak bisa jual akibat pelabuhan Pulau Baai mengalami pendangkalan.
"Jadi, pendangkalan alur pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, tidak hanya berimbas kepada pengusaha pengguna pelabuhan Pulau Baai, tapi dampaknya berimbas kepada petani sawit di Bengkulu," ujarnya.
Untuk itu, Marwan berharap pihak PT Pelindo Bengkulu segera menuntaskan kegiatan pengerukan alur masuk pelabuhan Pulau Baai sesuai terget. Dengan demikian, kapal-kapal bisa masuk ke Bengkulu untuk membawa berbagai jenis komoditas, seperti batubara, CPO dan sebagainya.
Baca Juga: Ruang Kelas SDN 178 Seluma Rusak Parah, Siswa Terpaksa Belajar di Bawah Pohon
Keterangan yang dihimpun menyebutkan, saat ini pihak PT Pelindo Regional 2 Bengkulu, masih bekerja melakukan pengerukan alur masuk ke pelabuhan menggunakan kapal keruk yang didatangkan dari Batam.
Pihak PT Pelindo Bengkulu menargetkan pengerukan timbunan pasir yang berada di alur masuk ke kolam pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, diperkirakan jutaan kubik itu, akan diselesaikan dalam waktu dekat ini.
Dari pantau dilapangan, hingga Kamis (26/6/20025), alur masuk menuju kolam pelabuhan Pulau Baai, belum tembus, dan kapal keruk saat ini masih bekerja menyingkitkan timbunan pasir agar akses masuk kapal ke kolam pelabuhan dapat dilakukan.