pendidikan

Viral LCC 4 Pilar MPR Kalbar, MC Akhirnya Minta Maaf usai Dituding Gaslighting Peserta SMAN 1 Pontianak

Selasa, 12 Mei 2026 | 21:45 WIB
Respons MC LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar yang tuai sorotan warganet. (Instagram/smansaptk_informasi)

 



Pontianak, SUARA PEMBARUAN - Kontroversi ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI Kalimantan Barat masih ramai diperbincangkan publik di media sosial. Sorotan tajam kini mengarah pada sikap dewan juri dan pembawa acara yang dianggap tidak merespons protes peserta secara bijak.

Perdebatan bermula saat tim dari SMAN 1 Pontianak mempertanyakan keputusan juri terkait jawaban pada sesi pertanyaan tentang pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Video momen tersebut kemudian viral dan memicu gelombang kritik dari warganet.

MC acara, Shindy Lutfiana, menjadi salah satu pihak yang paling disorot setelah dianggap melakukan gaslighting terhadap peserta. Pernyataannya yang menyebut protes siswa “hanya perasaan” dinilai tidak empatik dan memancing kemarahan publik.

“Baik adik-adik, keputusan di dewan juri karena dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengar jawaban dari adik-adik. Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja,” ucap Shindy dalam video yang beredar.

Setelah menuai kritik luas, Shindy akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Selasa, 12 Mei 2026. Ia mengakui kalimat tersebut tidak pantas disampaikan dalam kapasitasnya sebagai pembawa acara.

“Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya, terutama yaitu, ‘Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja,’ yang seharusnya tidak patut saya sampaikan,” tulisnya.

Shindy juga mengaku menyadari ucapannya telah menimbulkan kekecewaan dan melukai banyak pihak, terutama peserta lomba dan pihak sekolah.

Permintaan maaf itu secara khusus ditujukan kepada siswa SMAN 1 Pontianak, para guru pendamping, serta masyarakat Kalimantan Barat yang mengikuti jalannya lomba tersebut.

Ia menegaskan kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi dirinya agar lebih berhati-hati dalam menggunakan diksi saat tampil di ruang publik.

Kontroversi sendiri bermula saat tim SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota BPK. Namun jawaban mereka justru diberi nilai minus lima oleh dewan juri.

Tak lama kemudian, pertanyaan yang sama dilempar ke tim lain dari SMAN 1 Sambas. Menariknya, jawaban yang disampaikan dinilai memiliki substansi serupa, tetapi justru mendapat nilai sempurna 10 poin.

Sontak siswa SMAN 1 Pontianak langsung mengajukan protes karena merasa jawaban mereka pada dasarnya sama. Namun keberatan tersebut tidak mengubah keputusan dewan juri.

Salah satu juri, Dyastasita Widya Budi, saat itu menegaskan keputusan sepenuhnya berada di tangan dewan juri. Sementara juri lain, Indri Wahyuni, menyebut aspek artikulasi dan kejelasan pengucapan menjadi alasan penilaian berbeda.

Halaman:

Tags

Terkini