Jakarta, SUARA PEMBARUAN — PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) menegaskan komitmennya untuk tetap fokus pada kualitas produk dan layanan purna jual di tengah fenomena “perang harga” yang tengah melanda industri otomotif nasional. Hal itu disampaikan oleh Deputi Managing Director 4W Sales & Marketing PT SIS, Dony Saputra, dalam pertemuan virtual bersama rekan media.
Dalam kesempatan tersebut, Dony menilai tren penurunan harga secara agresif oleh sejumlah merek otomotif bukanlah strategi jangka panjang yang sehat.
“Penurunan harga yang terlalu drastis, bahkan lebih dari 10 persen, menurut kami sudah di luar batas kewajaran pasar Indonesia,” ujarnya.
“Persaingan harga memang hal lumrah, tetapi jika tidak diimbangi dengan kualitas produk dan layanan, justru akan menurunkan kepercayaan konsumen.”
Dony menjelaskan, strategi perang harga yang berlebihan bisa menimbulkan efek domino. Selain mengacaukan nilai jual kembali kendaraan, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang mobil bekas karena fluktuasi harga yang tidak menentu.
“Pada akhirnya, bukan hanya pedagang yang dirugikan, tapi juga konsumen yang sebelumnya membeli kendaraan dengan harga normal,” jelasnya.
Suzuki sendiri, kata Dony, mengambil pendekatan berbeda dengan menempatkan kepuasan pelanggan dan kualitas produk sebagai prioritas utama.
“Kami tidak ingin menjual mobil seperti jual putus. Suzuki membangun merek ini sejak 1970-an. Jadi kami lebih menekankan keberlanjutan, bukan sekadar kompetisi harga,” tegasnya.
Ia menambahkan, dalam era digital dan meningkatnya literasi konsumen, masyarakat kini semakin cerdas dalam memilih kendaraan. Pembeli tak hanya melihat harga, tetapi juga memperhatikan kualitas, efisiensi, pengalaman pembelian, serta layanan purna jual.
“Konsumen sekarang tidak mau hanya murah, tapi juga ingin mendapat manfaat jangka panjang,” katanya.
Sementara itu, Yasuki Mochizuki, General Manager Strategic Planning Suzuki Motor Corporation asal Jepang yang telah enam tahun berdinas di Indonesia, turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih, ia berbagi pengalaman pribadi selama tinggal di Indonesia, termasuk kesannya terhadap budaya lokal dan kuliner Nusantara.
“Saya suka makanan Indonesia, meskipun kadang terlalu pedas untuk orang Jepang,” ujarnya sambil tersenyum.
Artikel Terkait
Ajang Bergengsi Tekiro Mechanic Competition 2025 Sukses Gaet Lebih dari 80 Ribu Siswa SMK Otomotif se-Jawa
Suzuki Fronx 2025 Siap Meluncur di Indonesia, Tampil dengan Gaya Coupe SUV Modern dan Sporty
GIIAS Semarang 2025 Hadirkan Pameran Otomotif Interaktif dan Penuh Hiburan
GIIAS Semarang 2025 Resmi Dibuka, Hadirkan Enam Merek Baru dan Dukung Pertumbuhan Industri Otomotif