Buka Suara Soal Pemecatan, Alex Pastoor : “Kami Sudah Mati-matian, Tapi Ternyata Belum Cukup”

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Rabu, 22 Oktober 2025 | 06:53 WIB
Mengintip pernyataan mantan asisten pelatih Timnas Indonesia, Alex Pastoor usai gagal membawa Garuda terbang ke Piala Dunia 2026. (Dok. NEC Nijmegen)
Mengintip pernyataan mantan asisten pelatih Timnas Indonesia, Alex Pastoor usai gagal membawa Garuda terbang ke Piala Dunia 2026. (Dok. NEC Nijmegen)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Mantan asisten pelatih Timnas Indonesia, Alex Pastoor, akhirnya memecah kebisuan usai dirinya dan Patrick Kluivert resmi didepak dari jajaran pelatih Garuda.

Dalam wawancara eksklusif dengan media Belanda Voetbal Nieuws pada Selasa, 21 Oktober 2025, Pastoor menuturkan pandangannya mengenai kegagalan proyek besar yang semula diharapkan menjadi fondasi jangka panjang sepak bola Indonesia.

Menurutnya, pemutusan kerja sama dengan PSSI merupakan konsekuensi logis dari suasana negatif yang melingkupi tim usai dua kekalahan beruntun dari Arab Saudi dan Irak di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.

“Kalau atmosfer sudah berubah menjadi sangat negatif, Anda harus bertanya-tanya seperti apa lingkungan kerja yang akan Anda hadapi,” ujar Pastoor.

Ia menyebut proyek kepelatihan di bawah Kluivert sebenarnya bukan hanya soal lolos ke Piala Dunia, melainkan juga bagian dari strategi jangka panjang membangun sistem pembinaan sepak bola nasional.
“Tapi saya pikir, mereka (PSSI) sedang menyiapkan proyek yang semestinya berjalan lebih lama dari sekadar upaya menuju Piala Dunia,” ujarnya dengan nada menyindir.

Tiga Target yang Belum Tuntas

Pastoor mengungkapkan bahwa sejak awal, ia dan PSSI telah menyepakati tiga sasaran besar.
“Seingat saya, ada tiga poin utama. Pertama, tentu luar biasa kalau bisa lolos ke Piala Dunia, tapi dengan posisi kami di peringkat 119 dunia, itu bukan hal yang mudah dan mungkin belum realistis,” katanya.

Kedua, lanjutnya, proyek Kluivert juga menargetkan perekrutan pemain muda diaspora Eropa, terutama dari Belanda.
“Gerald Vanenburg dan Frank van Kempen ditugaskan untuk mencari talenta muda asal Belanda yang bisa memperkuat tim U-23 dan U-20,” jelasnya.

Sementara poin ketiga, PSSI ingin memperluas basis pencarian pemain berbakat di dalam negeri, dari populasi besar Indonesia yang mencapai 280 juta jiwa. Namun, semua rencana itu kandas setelah rangkaian hasil buruk di babak kualifikasi.

Keputusan PSSI untuk mengakhiri kontrak seluruh staf pelatih asal Belanda pun diambil mengikuti tekanan publik yang menuntut arah baru bagi sepak bola nasional.

“Kami Sudah Berjuang Mati-matian”

Soal pemecatan, Pastoor menegaskan bahwa dirinya dan tim pelatih sudah memberikan segalanya untuk membawa Garuda melangkah sejauh mungkin.
“Baik di lapangan maupun di ruang latihan, kami berusaha keras menjelaskan kepada pemain apa yang diharapkan dari mereka. Kami sudah bekerja mati-matian, tapi ternyata itu belum cukup—terutama menghadapi tim kuat seperti Irak dan Arab Saudi,” ucapnya.

Ia menilai, perbedaan pengalaman dan kualitas pemain menjadi tantangan besar bagi Indonesia untuk bersaing di level tertinggi Asia. Meski hanya sembilan bulan mendampingi Kluivert, Pastoor tetap menyimpan kesan positif terhadap semangat masyarakat Indonesia terhadap sepak bola.
“Antusiasme di sana luar biasa, termasuk sambutan terhadap kami di awal masa kerja,” ujarnya mengenang.

Menanti Pengganti Kluivert

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Polri Resmi Gelar E-Sport Kapolri Cup 2026

Minggu, 7 Juni 2026 | 17:32 WIB
X