Yogyakarta, Suara Pembaruan – MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Yogyakarta Seri 1 2025–2026 resmi digelar pada 14–19 Oktober 2025 di Stadion Tridadi dan Lapangan Bola Sidomoyo, Sleman dan Yogyakarta menjadi kota ketujuh dari total 10 kota penyelenggaraan MLSC tahun ini, yang merupakan hasil kerja bareng Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife.
Turnamen sepak bola putri usia dini ini diikuti oleh 1.619 siswi dari 84 SD dan MI di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Mereka terbagi dalam 69 tim kelompok usia (KU) 10 dan 80 tim KU 12. Jumlah peserta terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Pada MLSC Yogyakarta Seri 1 2024, tercatat 449 siswi ikut bertanding. Jumlah tersebut melonjak menjadi 1.203 peserta pada Seri 2 di Oktober 2024, dan kembali meningkat menjadi 1.364 siswi pada edisi 2025 sebelum mencapai angka tertinggi tahun ini.
Sebanyak 11 sekolah baru turut meramaikan kompetisi tahun ini, termasuk SD Muhammadiyah Prambanan yang berhasil menembus babak 16 besar KU 10. Pelatih tim, Bagas Widyatmoko, mengungkapkan bahwa partisipasi sekolahnya berawal dari informasi orang tua murid. “Kami hanya punya dua pekan persiapan, tapi anak-anak tampil luar biasa. Saya terharu melihat bakat mereka dan bertekad untuk terus mengembangkan potensi sepak bola putri di sekolah,” ujarnya.
Selain kompetisi utama 7 vs 7, MLSC juga menghadirkan Festival Seneng Soccer untuk KU 8 yang bertujuan menumbuhkan rasa cinta terhadap sepak bola sejak dini. Festival ini diikuti oleh 92 siswi dari 19 sekolah. Ada pula Skill Challenge yang menguji ketangkasan peserta dalam lima kategori: 1 on 1, penalty shoot, dribbling, passing control, dan shoot on target.
Satu halmenarik datang dari Nadia Shakila A, seorang siswi SD Muhammadiyah Karangploso Bantul. Di usia 12 tahun, ia menjadi satu-satunya pemain perempuan di tim yang seluruhnya berisi laki-laki, dan berhasil mencetak 26 gol dari lima pertandingan. Nadia telah berlatih sejak kelas 3 SD dan kini bermain di berbagai posisi, dari sayap hingga gelandang. “Saya bukan striker, tapi kadang di tengah. Kalau di Jawa, saya main sayap,” katanya. Meski minat terhadap sepak bola putri di sekolah masih minim, Nadia menjadi pionir dan bercita-cita masuk Timnas U-16.
Dalam gelaran turnamen sepak bola antar sekolah yang berlangsung selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu, sosok Nadia mencuri perhatian. Di usia 12 tahun, ia menjadi satu-satunya pemain perempuan di tim yang seluruhnya berisi laki-laki, dan berhasil mencetak total 26 gol dari 5 pertandingan.
Nadia berasal dari SSB Baturetno, Bantul, dan telah berlatih sepak bola sejak kelas 3 SD. Kini duduk di kelas 6, ia menunjukkan perkembangan pesat. “Dulu belum bisa tendangan keras, sekarang sudah keras dan tepat sasaran,” ujar guru olahraga dari SD Muhammadiyah Karang yang melatih Nadia khusus untuk event ini.
Meski tahun lalu timnya gagal lolos dari fase grup, tahun ini mereka berhasil menembus 8 besar, dan kini menargetkan final. “Peluangnya 50-50, lawan makin berat, tapi semangat anak-anak luar biasa,” tambah sang pelatih.
Nadia mengaku sering berlatih mandiri di rumah dan aktif mengikuti turnamen bersama SSB. Ia bermain di berbagai posisi, dari sayap hingga gelandang. “Saya bukan striker, tapi kadang di tengah. Kalau di Jawa, saya main sayap,” katanya.
Meski minat terhadap sepak bola putri di sekolah masih minim, Nadia menjadi pionir. “Baru angkatan Nadia yang aktif. Kami sedang berusaha menggali potensi dari adik-adik kelasnya,” jelas pelatih.
Dengan dukungan keluarga, terutama sang om yang juga pernah bermain bola, Nadia bercita-cita masuk Timnas U- dan membawa nama sekolah ke kancah nasional. “Semoga bisa jadi top scorer dan juara,” tutupnya dengan senyum penuh harapan.
MLSC Yogyakarta juga telah melahirkan talenta nasional, seperti Ayla Dva Khala Ahisma yang terpilih mewakili Indonesia di Junior Soccer School and League (JSSL) Singapore 7’s 2025 dan masuk dalam daftar seleksi Timnas Putri U-16 untuk Piala AFF U-16 Putri 2025.
Berbeda dari tahun sebelumnya yang hanya digelar di delapan kota, MLSC 2025–2026 berlangsung di 10 kota: Kudus, Semarang, Surabaya, Tangerang, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Solo, Malang, dan Jakarta. Setiap kota akan menggelar dua seri. Penambahan Bekasi dan Malang bertujuan menjaring lebih banyak bibit pesepakbola putri dari daerah yang memiliki sejarah panjang dalam dunia sepak bola.
Artikel Terkait
Hadapi Persis Solo, Panpel Kesulitan Cari Stadion Alternatif
Pemkot Semarang Fasilitasi PSIS Kembali Latihan di Stadion Citarum
Rocket Padel Resmi Diluncurkan di Sleman: Momentum Baru bagi Olahraga Padel di Yogyakarta