nasional

BGN Kaji Coret Siswa SMA dari Program MBG, Anggaran Rp270 Triliun Diarahkan ke Kelompok Prioritas

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:12 WIB
Foto ilustrasi menu MBG yang dibagikan kepada penerima manfaat. (Instagram/badangizinasional.ri)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN  – Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menyiapkan langkah refocusing atau penajaman sasaran penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tahun 2027. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan efektivitas program sekaligus memastikan penggunaan anggaran negara lebih tepat sasaran.

Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan proses peninjauan ulang penerima manfaat dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan sejumlah kementerian, termasuk Kementerian Kesehatan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, dengan beberapa kementerian yang lain,” ujar Arumsari kepada awak media usai rapat tertutup bersama Komisi IX DPR RI, Senin (15/6/2026).

Menurut Arumsari, masukan dari para ahli kesehatan menjadi salah satu dasar penting dalam penyusunan arah baru program MBG. Berdasarkan kajian tersebut, intervensi gizi dinilai paling efektif dilakukan sejak masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak, yang dikenal sebagai periode emas pertumbuhan.

“Menurut Kementerian Kesehatan, intervensi gizi sebaiknya dilakukan dari usia kandungan sampai dengan 1.000 hari pertama kelahiran,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa perhatian pemerintah akan lebih diarahkan pada kelompok yang memiliki dampak terbesar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga anak-anak pada fase pertumbuhan penting.

“Dari situlah kami melakukan refocusing penerima manfaat,” tambahnya.

Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah mengurangi cakupan penerima manfaat dari kelompok siswa sekolah menengah atas (SMA). Menurut Arumsari, langkah tersebut masih dalam tahap pembahasan dan simulasi kebijakan.

“Misalnya contoh gampang, untuk SMA ya mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA-SMA yang mungkin uang sakunya anak-anaknya sudah Rp100 ribu sampai Rp200 ribu, yang high class itu tidak perlu lagi,” ujarnya.

BGN memperkirakan jika kelompok siswa SMA tidak lagi masuk dalam sasaran program, jumlah penerima manfaat dapat berkurang hingga sekitar 8 juta orang. Pengurangan tersebut dinilai dapat membuka ruang bagi pemerintah untuk memfokuskan anggaran kepada kelompok yang lebih membutuhkan intervensi gizi.

Meski demikian, Arumsari menegaskan bahwa refocusing bukan berarti mengurangi tujuan utama program MBG. Sebaliknya, langkah tersebut dimaksudkan agar manfaat program benar-benar dirasakan oleh kelompok yang paling membutuhkan.

“Nah, itu yang kami exercise, tapi kami tidak menghilangkan esensi dari intervensi gizi yang dilakukan oleh pemerintah. Jadi, refocusing diperlukan supaya lebih tepat sasaran,” katanya.

Saat ini penerima manfaat MBG mencakup pelajar sekolah, santri, serta kelompok rentan yang dikenal sebagai 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Dalam perkembangannya, program tersebut juga diperluas untuk menjangkau kelompok lanjut usia atau lansia.

Di sisi lain, BGN mengungkapkan bahwa pagu indikatif program MBG tahun 2027 telah ditetapkan sebesar Rp270,2 triliun. Anggaran tersebut disiapkan untuk melayani sekitar 81,5 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Halaman:

Tags

Terkini

Gerakan Kemanusiaan PMI Tak Kenal Batas Negara

Senin, 15 Juni 2026 | 10:32 WIB