JAKARTA — SUARA PEMBARUAN - Pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan penguatan kewirausahaan sebagai kunci membangun masyarakat madani di Indonesia dan Malaysia.
Hal itu disampaikan Wakil Presiden ke 10 dan 12 Jusuf Kalla (JK) saat memberikan sambutan sekaligus membuka Persidangan Kedua Majelis Cendikiawan Madani Malaysia-Indonesia (Malindo 2) di Rumah Makan Natrabu, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/8/2026).
Dalam sambutannya, JK menyebut Indonesia dan Malaysia memiliki hubungan yang sangat dekat karena berasal dari akar sejarah dan budaya yang sama. Menurutnya, kedua negara merupakan bangsa serumpun yang memiliki banyak kesamaan, mulai dari bahasa, agama, hingga adat istiadat.
“Kalau sekiranya yang jajah Indonesia orang Inggris atau Malaysia dijajah Belanda, saya kira kita satu negara. Cuma yang menjajah kita berbeda, maka kita menjadi dua negara,” ujar JK.
Ia mengatakan, meski hubungan Indonesia dan Malaysia pernah mengalami ketegangan, termasuk pada periode Konfrontasi 1963-1965 dan persoalan Ambalat, berbagai persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui dialog dan persahabatan.
Menurut JK, hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui diplomasi formal, tetapi juga melalui kedekatan antarpemimpin dan masyarakat.
“Persahabatan itu kadang-kadang perlu marah-marah, kadang-kadang keras, tapi jangan sampai terjadi perpecahan,” katanya.
JK juga menceritakan pengalamannya membantu menjembatani komunikasi antara sejumlah tokoh politik Malaysia. Ia menilai hubungan baik dan komunikasi terbuka menjadi cara penting untuk menjaga stabilitas dan persatuan.
Dalam kesempatan tersebut, JK mengingatkan bahwa tantangan terbesar Indonesia dan Malaysia ke depan bukan hanya persoalan politik, melainkan bagaimana meningkatkan kemajuan ekonomi dan kualitas sumber daya manusia.
Menurut dia, konsep masyarakat madani tidak cukup hanya dibahas melalui seminar atau konferensi, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata di tengah masyarakat.
“Madani itu bukan seminar. Yang harus dilakukan adalah bagaimana memakmurkan masyarakat,” ujarnya.
JK mencontohkan sejumlah negara yang mampu bertahan karena memiliki keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menyebut penguasaan teknologi menjadi faktor penting bagi sebuah negara untuk memiliki daya tahan dan kemandirian.
“Negara yang kuat dan bertahan adalah negara yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata JK.