Bang Dina mengimpikan, suatu saat dia bisa memiliki peralatan untuk menghasilkan produksi yang lebih berkualitas dan memudahkan pengerjaannya. Saat ini masih memakai peralatan konvensional untuk menyamak kulit dan membentuknya, juga belum menggunakan cairan samak yang membuat kulit lentur dan tak berbau.
Melalui tulisan ini Bang Dina menyampaikan obsesinya kepada PT Pertamina agar dapat diikutkan studi banding ke sentra perajin kulit. Atau berkenaan membiayai dirinya untuk mengikuti pelatihan perajin kulit ke Sidoarjo, Jawa Timur atau Cibaduyut, Bandung. “Saya sangat berharap Pertamina bisa membiayai saya ikut pelatihan. Sekitar satu atau dua bulan saja saya sudah bisa memproduksi aneka barang dari kulit biawak yang lebih berkualitas,” kata Bang Dina meyakinkan.
Pameran Hasil Karya
Bang Dina rutin mengikuti pembinaan dari Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, berupa pembinaan manajemen usaha, pembenahan produksi, pemasaran. Menurut Bang Dina, beberapa CSR Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya pernah mengajak untuk menjadi binaan, akan tetapi Bang Dina menolak secara halus karena selama ini dia merasa betah menjadi binaan CSR Pertaimina.
“Saya merasa betah dan nyaman jadi binaan Pertamina, kemana-mana di bawa memamerkan karya saya, bahkan di pameran terbesar UMK yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) saya ikut. Seberat apapun barang yang akan saya bawa untuk berpameran, semua ongkosnya ditanggung oleh Pertamina,” ujarnya.
Barang bawaan itu terdiri aneka macam barang-barang yang terbuat dari kulit biawak, olahan minyak biawak, hasil kerajinan seperti akar bambu ukir. Kalau ikut pameran setahun sekali atau dua kali, sekali pameran bisa meraup pendapatan sampai Rp 15 juta dalam tempo lima hari, lumayan akuinya.
Menurut Bang Dina, di awal-awal kemunculannya, hasil kerajinannya pernah menjadi incaran, dalam sehari jualan ke pasar-pasar terdekat atau pasar sepekan di Pantai Losari atau di Masjid Al Markaz Al Islami, pulangnya bisa mengantongi Rp 750 ribu sampai Rp 1 juta. Kalau sekarang dengan banyaknya industri cindera mata dan berbagai hasil kerajinan, cukuplah untuk kebutuhan sehari-hari saja.
“Pesanan dompet dan tas memang tidak selalu ada. Tapi syukurlah, dengan kegiatan saat ini saya dapat memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dapur dengan berjualan gantungan kunci, minyak biawak dan tangkur biawak,” ujarnya.
Sebagai seniman perajin, Bang Dina merasa jalan hidupnya menyenangkan, tidak ada yang memerintah, bebas berkreasi membuat karya yang dapat dinikmati orang lain dan memperoleh penghasilan yang halal. Itulah kepuasan terbesar, katanya.
Bang Dina mengakui, penghasilan istrinya sebagai guru yang sarjana pendidikan memang jauh lebih besar. Akan tetapi, istrinya selalu memotivasi Bang Dina untuk terus berkarya. “Istri saya menyatakan bangga dengan hasil yang saya dapat, katanya hasil ini berkah karena diperoleh dengan kerja keras, membuat karya seni yang langka meskipun dengan peralatan seadanya. Tetaplah berkarya Bang, jangan menyerah menghadapi pergumulan hidup,” tutur Bang Dina menirukan pesan istrinya dengan mata berkaca-kaca. (SP.news)