lingkungan-hidup

Bang Dina, Perajin Binaan Pertamina, Jadikan Biawak Industri Rumah Tangga

Rabu, 9 Oktober 2024 | 13:54 WIB
Bang Dina memperlihatkan karyanya berupa tas jinjing, dompet dan gantungan kunci yang diproses dari kulit biawak hasil tangkapannya. (SP.news/Kib)

Di Indonesia terdapat beberapa jenis biawak yang populasinya makin rentan karena perburuan dan perdagangan. Jenis-jenis biawak itu kemudian terdaftar dengan status dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) No. P106 Tahun 2018 tentang Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Berikut beberapa jenis biawak yang dilindungi Permen LH. No. P106 Tahun 2018 :

Biawak rote (Varanus auffenbergi). Biawak aru (Varanus becarii). Biawak waigeo (Varanus boehmeii). Biawak maluku (Varanus indicus). Biawak komodo (Varanus komodoensis). Biawak banggai (Varanus melinus). Biawak abu-abu (Varanus nebulosus). Biawak coklat (Varanus panoptes). Biawak hijau (Varanus prasinus). Biawak Misool (Varanus reisingeri). Biawak kerdil (Varanus similis). Biawak timor (Varanus timorensis). Biawak togian (Varanus togianus).

Karena faham bentuk biawak yang dilindungi, maka meskipun ada orang yang membawakan biawak ke rumahnya, Bang Dina mengaku tidak langsung menerima, pasti akan diperiksa secara teliti, kalau biawak dilindungi yakinlah akan saya tolak.

Ada kisah menarik ketika serombongan orang datang mengendarai mobil kap terbuka menawarkan beberapa ekor biawak ke Bang Dina, Ketika diamati, moncongnya panjang terlilit lakban, corak kulitnya ada variasi warna terang. “Wah, ini anak buaya, bukan biawak,” kata Bang Dina. Namun si pembawa anak buaya tetap ngotot kalau itu biawak.

Mengetahui yang dibawa itu buaya, Nurhayati, istri Bang Dina marah dan meminta mereka semua pergi. Rupanya, soal buaya itu punya kisah legenda bagi keluarga Nurhayati, konon leluhurnya seorang pawang buaya dan secara turun temurun sangat pantang menyakiti, apalagi membunuh buaya. Mereka meyakini, jika itu dilakukan kontan akan membawa petaka bagi keluarganya.

Melukis Pakai Kotoran Sapi

Bang Dina kembali berceritera keahliannya memanfaatkan kotoran sapi. Menurutnya, sapi itu kalau buang kotoran cepat mengering, namun di tangannya dua tahun pun kotoran sapi tak akan kering setelah diolah dan disimpan untuk dijadikan bahan lukisan. Rahasianya, harus dicampur dengan lem fox putih, diaduk lalu diblender dan dimasukkan ke kantong plastik, diikat dan dimasukkan lagi ke kantong plastik sampai lima lapis pembungkusnya, beberapa tahun kemudian jika di buka kotoran sapi masih basah, hanya saja baunya busuk.

Bang Dina pernah jadi incaran Kru Jejak Petualang dari salah satu  stasiun TV, mereka  pingin bertemu Bang Dina di Makassar, kebetulan Bang Dina sedang berada jauh di Kota Pare-Pare. Namun kru TV itu tak putus asa, menunggu Bang Dina berjam-jam. Pokoknya, harus bertemu Bang Dina sebelum kembali ke Jakarta.

Ternyata, mereka mendapat infomasi kalau Bang Dina itu seorang pelukis unik yang menggunakan bahan dari kotoran sapi, menarik diliput. Melihat hasil lukisan Bang Dina, mereka nyaris tak percaya, lalu memeriksa hasil lukisan itu dengan teliti.

“Iya betul Bu, lukisan ini dari tahi sapi, saya nda bohong. Sebagai seniman asli tidak boleh berohong, kalau berbohong karyanya akan gagal,” tandasnya.

Obsesi Bang Dina

Program kemitraan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) Pertamina telah dilaksanakan sejak 1993 dengan memberikan pelatihan, bantuan pinjamaman modal usaha pembinaan serta memfasilitasi pameran penjualan produk UMK binaan Pertamina.

Bang Dina mengaku bergabung di CSR Pertamina sejak 2010  saat mulai aktif di UMK dan mendapatkan pembinaan Pertamina. Bang Dina merasa bangga karena selalu diberi kesempatan memamerkan karyanya. “Itu karena hasil kerajinan saya  terbilang unik dan tidak ada samanya di Sulawesi,” ujarnya.

Bang Dina mengakui, hasil olahan kulit biawak di tangannya memang belum maksimal, kulitnya keras sehingga produknya belum bisa menyamai kelenturan hasil penyamakan pabrik.  Pernah dia mencoba membawa beberapa lembar kulit biawak ke lokasi pengolahan kulit sapi di Kelurahan Antang, Makassar, tak jauh dari Rumah Potong Hewan (RPH), namun hasilnya sangat mengecewakan, kulit yang diolah hancur dan sama sekali tak bisa digunakan.

Halaman:

Terkini

Priska Tebar Ikan Nila dan Mas di Danau Mawang

Jumat, 18 Oktober 2024 | 10:04 WIB

21 Sekolah di Gowa Raih Penghargaan Adiwiyata

Senin, 9 September 2024 | 10:10 WIB