lingkungan-hidup

Bang Dina, Perajin Binaan Pertamina, Jadikan Biawak Industri Rumah Tangga

Rabu, 9 Oktober 2024 | 13:54 WIB
Bang Dina memperlihatkan karyanya berupa tas jinjing, dompet dan gantungan kunci yang diproses dari kulit biawak hasil tangkapannya. (SP.news/Kib)

Bang Dina putra asli Betawi, kelahiran Jakarta, 25 Juli 1970, merantau ke Makassar tahun 2007, pernah menjadi guru Taman Kanak-kanak. Tahun  2009 menikahi wanita asli Makassar bernama Nurhayati,S.Pd,  kini menjadi guru di Sekolah Dasar (SD) Gontang, Makassar.

Lelaki tamatan Sekolah Teknik Menengah (STM), itu terbilang seniman serba bisa, membuat kerajinan dari kulit biawak itu hanya salah satu bagian dari keterampilannya. Dia mampu membuat handycraft dari bonggol bamboo. Lebih unik lagi, Bang Dina mahir membuat lukisan dari bahan kotoran sapi.

“Ini lukisan buatan saya dari bahan kotoran sapi, dicampur lem fox. Coba pegang, keras kan pak !” kata Bang Dina sambil menunjukkan lukisan pemandangan alam pada bingkai berukuran sekira satu meter di dinding rumahnya.

Sebelum masuk pintu rumahnya, kita dijemput dengan berbagai pemandangan karya seni dari akar bambu yang dirangkai pada ban bekas atau berbagai ukiran lainnya dari bambu, merupakan hasil industri rumah tangga yang dibuatnya.

Semua karyanya itu dikerjakan di Galeri Sinting, belakang rumahnya yang  berukuran 3 x 3 meter. Galeri itu diberi nama oleh warga Bayang yang melihat pekerjaan Bang Dina sebagai pekerjaan ‘orang sinting,’ kalau tidak berburu biawak, mengumpulkan kotoran sapi.

Saat pertama kali mengontrak rumah di Tanjung Bayang, Bang Dina dikira orang Jawa yang mengalami gangguan jiwa, lalu dijuluki ‘Jawa Gila’. Pasalnya, pagi hari biasanya orang sibuk sarapan, Bang Dina  malah  sibuk mengumpul kotoran sapi untuk bahan lukisannya. Meski dijuluki (maaf) Jawa Gila, Dina tak pernah marah atau tersinggung, dia yakin itu karena mereka tidak faham pekerjaan seni. Apalagi di sekitar rumahnya masih rumpun keluarga istrinya yang suka bercanda dengannya.

Bang Dina mulai menekuni usahanya sebagai perajin kulit biawak sejak 2010, terinspirasi dari pemburu biawak di daerah Losarang Kabupaten Indramayu yang sering berburu biawak untuk memanfaatkan daging dan kulitnya. 

Saat penulis berkunjung ke bengkel kerjanya, tampak hanya alat-alat sederhana seperti parang, gunting, pahat,  amplas, pisau cutter, palu dan gurinda listrik. Tidak ada alat modern sebagaimana digunakan perajin kulit di Cibaduyut, Jawa Barat.

Aman dari Konservasi Biawak

Biawak yang menjadi buruan Bang Dina adalah biawak air (Varanus salvator) yang digolongkan sebagai satwa dengan status konservasi LC atau Least Concern, status konservasi yang diberikan kepada spesies yang dianggap memiliki risiko rendah atau tidak perlu dikhawatirkan kepunahannya oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies dengan status ini dianggap berjumlah sangat banyak.

Biawak hitam (Varanus salvator) pandai berenang dan memanjat, bisa mencapai panjang sampai tiga meter dan lebar perut 30 Cm (centimeter). Spesies ini oleh warga Makassar disebut Padalle, populasinya tinggi, sekali menetas bisa puluhan ekor. Tidak termasuk berbahaya bagi manusia, namun perlu dihindari gigitannya. Biawak ini cenderung menjadi hama bagi para peternak, petani minapadi, petambak dan di pemukiman warga.

Kulit biawak di tangan Bang Dina menjadi aneka produk, dibuat tas jinjing, dompet dan handycraft. Lumayan, satu tas jinjing bisa terjual sampai Rp 1,5 juta, sedangkan termurah dari karyanya adalah gantungan kunci, dijual Rp 10 ribu per biji.

Segelintir orang yang tidak memahami tentang spesies biawak yang dilindungi, kadang menyudutkan kegiatan yang dilakukan Bang Dina, dianggap perburuan biawak yang dilakukannya melanggar undang-undang konservasi alam dan mengancam kelangsungan habitat biawak.

“Tidak usah khawatir soal biawak yang dilindungi, saya sangat faham, dibayar berapapun saya tidak akan menangkap biawak yang dilindungi, apalagi memang sulit menemukannya. Saya tahu mana jenis biawak dilindungi atau dilestarikan dan mana yang populasinya tinggi dan bisa ditangkap,” ujar bapak satu putra itu.

Biawak termasuk dalam jenis kadal besar yang biasanya hidup tidak jauh dari kawasan perairan, seperti sungai, danau, rawa, selokan, lubang-lubang tanah dan dibawah pepohonan rindang dan lembab. Varanus salvator, dianggap sebagai hama karena sering memangsa ternak ayam, itik, ikan dalam tambak dan populasinya banyak disekitar pemukiman penduduk.

Halaman:

Terkini

Priska Tebar Ikan Nila dan Mas di Danau Mawang

Jumat, 18 Oktober 2024 | 10:04 WIB

21 Sekolah di Gowa Raih Penghargaan Adiwiyata

Senin, 9 September 2024 | 10:10 WIB