Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Di tengah inflasi yang menekan dan ketidakpastian ekonomi, sebagian orang memilih cara sederhana untuk memberi hiburan bagi diri sendiri. Fenomena ini mirip dengan lipstick effect, yakni kebiasaan membeli “kemewahan kecil” di masa sulit.
Kini, konsep tersebut berevolusi menjadi tren treatonomics, yang menggabungkan sentuhan nostalgia dengan gaya hidup digital, terutama di kalangan Generasi Z.
Berbeda dengan belanja kebutuhan semata, treatonomics memandang nilai sebuah barang dari pengalaman dan ikatan emosional yang ditawarkannya. Mulai dari mainan edisi terbatas, tiket konser, hingga merchandise unik seperti boneka Labubu, semua menjadi bagian dari budaya konsumsi baru ini.
Lipstick effect sendiri pertama kali diamati pada era Depresi Besar di Amerika Serikat, ketika orang tetap membeli kosmetik meski kondisi ekonomi terpuruk. Kini, konsep “kemewahan kecil” itu meluas ke pengalaman dan koleksi.
Gen Z menjadi motor penggerak tren ini. Hampir seluruhnya memiliki ponsel pintar, dengan seperempat waktu luang mereka dihabiskan untuk bermain gim. Mereka rela menahan belanja kebutuhan rumah tangga demi mendapatkan LEGO langka, tiket konser musisi besar, atau Labubu edisi spesial.
Data AInvest menunjukkan, pada 2025, Gen Z menyumbang 34% pengguna baru platform lelang digital dan 54% pembeli koleksi untuk pertama kali. Pola belanja mereka dipengaruhi oleh nostalgia bercampur sentuhan modern, dorongan media sosial, dan pandangan bahwa koleksi adalah bentuk investasi.
Strategi kelangkaan serta rasa takut ketinggalan (FOMO) mendorong pembelian berulang, sementara kekuatan media sosial dapat mengubah tren kecil menjadi fenomena global tanpa iklan masif.
Bagi industri, memahami perpaduan nilai emosional dan daya tarik digital menjadi kunci untuk menangkap peluang pasar ini. Sedangkan bagi konsumen, membeli Labubu atau bebek karet bukan sekadar pengeluaran, melainkan cara menjaga kewarasan di tengah tekanan ekonomi.