Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Gerakan Indonesia Makmur lahir bukan dari euforia politik semata, melainkan dari kesadaran bahwa perjuangan tidak berakhir saat suara telah dituangkan ke bilik suara. Dua tahun pascapemilu, ketika sebagian besar relawan memilih kembali ke rutinitas atau membubarkan diri, GIM justru memilih jalan yang lebih panjang: membangun fondasi bangsa dari akar yang paling dalam, yaitu kedaulatan ekonomi dan kekuatan karakter generasi muda.
Di balik nama yang terkesan besar, GIM sejatinya hadir sebagai ruang kebersamaan yang merawat tanggung jawab kolektif. Bukan sekadar organisasi kemasyarakatan biasa, melainkan gerakan yang meyakini bahwa kemakmuran sejati hanya mungkin diraih jika dua syarat utama terpenuhi: pertama, bangsa ini harus berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi; kedua, generasi penerus harus tumbuh dengan jiwa yang utuh, bukan generasi yang rapuh secara mental dan terasing dari nilai-nilai kebangsaan.
Peringatan dua tahun GIM yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional bukanlah sekadar kebetulan kalender. Ia adalah pernyataan simbolik bahwa pendidikan karakter dan semangat kebangkitan harus berjalan beriringan, dan bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan pendahulu belum selesai selama negeri ini masih menggantungkan nasibnya pada kekuatan asing.
Seminar yang digelar di Gedung DPD RI DIY pada 15 Mei 2026 dengan tajuk “Dengan Kemandirian Kita Bangkit, Dengan Karya Kita Bela Negeri” menjadi ruang di mana dua kegelisahan utama itu dipertemukan. Sri Samiasih, Ketua GIM, mengingatkan bahwa selama ini masyarakat terlalu sibuk melabeli remaja sebagai generasi bermasalah tanpa pernah benar-benar hadir mendampingi. Program pendampingan kesehatan mental yang telah berjalan sejak Januari 2026 adalah wujud nyata dari pendekatan yang tidak menghakimi, melainkan memahami. Anak-anak bangsa tidak butuh ceramah moral yang dingin, mereka butuh kehadiran yang hangat dan ruang aman untuk bertumbuh. Karena bangsa yang kuat tidak pernah dibangun oleh generasi yang terluka dan tidak didengarkan.
Tetapi di tengah kerja membangun ketangguhan individu, GIM menyadari bahwa ketangguhan generasi muda akan sia-sia jika ruang hidup mereka dirampas oleh kebijakan yang melumpuhkan. Persetujuan Dagang Indonesia–Amerika Serikat atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani pada 18 Februari 2026 dinilai sebagai salah satu ancaman paling nyata terhadap kedaulatan ekonomi. Bukan sekadar perjanjian dagang biasa, ART disebut membebani Indonesia dengan 36 kewajiban struktural, mulai dari penyesuaian regulasi nasional hingga kewajiban berinvestasi di Amerika Serikat, tanpa kewajiban setimpal dari pihak AS. Janji penurunan tarif hanya berlaku untuk lima komoditas mentah, itupun dengan syarat teknis dan biaya sertifikasi yang mahal. Produk asing dapat masuk tanpa mengikuti aturan nasional, bahkan tanpa label halal. Beban ditanggung rakyat, manfaat nyaris tak terlihat.
GIM tidak sekadar menolak dalam wacana. Surat resmi telah dikirimkan kepada pimpinan DPR RI, karena batas waktu 19 Mei 2026 adalah garis yang tidak bisa dilewati. Jika hingga tanggal itu DPR tidak mengambil sikap, seluruh klausul ART akan otomatis mengikat Indonesia. Agus Hartono, Ketua Panitia Seminar, menyebut kondisi ini ironis: isi perjanjian yang sangat merugikan nyaris tidak diketahui publik, dan suara penolakan masih terlalu lirih karena rendahnya pemahaman masyarakat.
Maka di sinilah GIM menempatkan dirinya. Bukan sebagai oposisi yang suka membantah, bukan pula sebagai alat politik kepentingan sempit. GIM hadir untuk menyatukan dua medan perjuangan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri: membangun generasi muda yang berkarakter tangguh, sekaligus memastikan bahwa mereka tumbuh di tanah ekonomi yang benar-benar merdeka. Sebab apa artinya generasi yang sehat mental jika masa depannya dirampas oleh kebijakan yang menjual kedaulatan? Dan apa artinya kemandirian ekonomi jika generasi penerusnya rapuh dan kehilangan arah?
Gerakan Indonesia Makmur ingin menyadarkan bahwa kemakmuran bukanlah sekadar angka pertumbuhan atau deru investasi asing. Kemakmuran adalah ketika anak-anak negeri bisa bermimpi setinggi-tingginya tanpa dihantui ketidakpastian akibat kebijakan yang tak memihak rakyat. Kemakmuran adalah ketika pendampingan psikologis untuk remaja tidak lagi dianggap mewah, melainkan kebutuhan dasar. Kemakmuran adalah ketika perjanjian internasional tidak lagi ditandatangani tanpa melibatkan suara rakyat yang paling terdampak.
Dengan bersikap tegas menolak ART dan terus menjalankan program pembinaan generasi muda, GIM ingin menegaskan bahwa perjuangan tidak harus selalu gemilang dengan bendera dan orasi. Kadang perjuangan adalah hadir di ruang-ruang sunyi di mana anak muda merasa sendirian. Kadang perjuangan adalah membaca lembar demi lembar draf perjanjian dagang yang sengaja dibuat rumit agar tidak ada yang membacanya. Kadang perjuangan adalah memilih untuk tidak bubar setelah pemilu usai, karena kesadaran bahwa membangun negeri tidak pernah selesai hanya dalam satu putaran pencoblosan.
Gerakan ini mengajak semua elemen bangsa untuk tidak lagi berpangku tangan. Sebab masa depan Indonesia tidak akan ditentukan oleh siapa yang menang dalam pemilu, melainkan oleh seberapa kuat generasi mudanya berdiri di atas kakinya sendiri, dan seberapa berani rakyatnya menolak segala bentuk ketidakadilan yang dibungkus dengan jargon kerja sama. Nasib ekonomi bangsa, seperti diingatkan GIM, sedang berada di tangan DPR saat ini. Tetapi pada akhirnya, nasib sejati sebuah bangsa selalu berada di tangan rakyatnya yang sadar bahwa kemerdekaan tanpa kedaulatan hanyalah nama besar yang kosong.