regional

Hutan Dirampok Untuk Sawit Ilegal, Warga Mukomuko Diteror Krisis Air, Gajah dan Harimau Sumatera

Jumat, 7 November 2025 | 08:49 WIB
Hutan menjadi habitat Gajah Sumatera di Wilayah Sebelat, Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dibuka masyarakat dijadikan lahan perkebunan tanaman keras, seperti kelapa sawit dan sebagianya.(Foto/Ist)

Bengkulu, SUARA PEMBARUAN-Gutomo, Kepala Desa Gajah Makmur, Kecamatan Malin Deman, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, masih ingat beberapa tahun lalu, sebanyak 17 ekor gajah mendekati kampungnya membuat panik warganya.

Sebelumnya harimau sumatera juga melahap 20-an ekor sapi dan kambing warga desanya, dan desa tetangga, yakni Desa Lubuk Talang, dalam rentang waktu satu tahun.

Kemudian, serangan beruang memasuki areal perkebunan milik warga desa yang mengancam keselamatan warganya. Kisah bencana juga ada, banjir begitu cepat terjadi bila turun hujan sebentar saja.

Terakhir, Gutomo, mengkhawatirkan krisis air bersih sudah dialami ratusan warganya kalau dua hari saja hujan tidak datang.

"Sumur kami mudah kering, dua hari tidak hujan pasti kering. Kami krisis air, hanya memanfaatkan air sungai yang jaraknya jauh. Ini terjadi sejak ribuan hektare hutan dirambah orang luar," jelas Gutomo.

Kampung Gutomo berbatasan dengan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis, dan Hutan Produksi (HP) Air Rami. Dua kawasan hutan ini merupakan kantong gajah sumatera dan harimau sumatera.

"Jarak kawasan hutan dengan desa kami paling sekitar lima kilometer sangat dekat. Sementara sekarang kawasan hutan itu hancur dirambah sawit ilegal oleh orang luar, maka wajar harimau, gajah, beruang dan bencana alam melanda kami yang terdekat dengan kawasan hutan," katanya.

Perambahan katanya terjadi secara kecil sejak tahun 2017, warga luar datang membuka hutan skala kecil. Lalu pada 2023 perambahan massif terjadi serentak menyerang kawasan hutan terutama ketika jalan aspal sudah dibangun.

Ia tak mengira jalan aspal yang sampai ke desanya tahun 2023 ternyata mempermudah ratusan perambah menggunduli hutan menjadi kebun sawit ilegal di sekitar kampungnya.

"Memang sebelum jalan aspal ada, perambahan sudah ada dilakukan orang luar jumlahnya sedikit. Paling dua hektare, tidak seperti sekarang sudah mencapai ribuan hektare," ungkap Gutomo ditemui di kediamannya, Selasa (5/11/2025).

Sejak ribuan hektare hutan hancur, intensitas hujan di kampungnya juga ikut berkurang. "Kalau dahulu hutan masih bagus, hujan hampir setiap hari, kondisi desa sejuk. Sekarang panas seperti kemarau berkepanjangan," keluhnya.

Saat ini, di desanya banyak dilalui oleh orang asing yang tidak ia kenali menuju kawasan hutan untuk merambah.

"Banyak orang-orang asing wajahnya tidak kami kenal masuk ke kawasan itu lalu merambah hutan," jelasnya.
Manusia dan Satwa Terdampak

Kerusakan hutan parah yang dirambah menjadi kebun sawit ilegal menjadi musuh warga. Manusia dan satwa seperti gajah, harimau, beruang, juga merasakan dampak.

Halaman:

Tags

Terkini