Romo Busyet juga memberi inspirasi bagi mahasiswa Sastra Indonesia saat ini. Tradisi keterlibatan ini diyakini sebagai warisan dari generasi sebelumnya, termasuk Romo Busyet yang pernah menggagas Senat Mahasiswa Sastra.
“Semangat kepemimpinan dan keberanian untuk berinisiatif adalah hal yang kami dorong terus-menerus. Romo Budi adalah teladan bahwa keterlibatan mahasiswa bisa berbuah besar di masa depan,” kata Peni Adji.
Romo Busyet juga mencerminkan hubungan erat antara dunia akademik dan kehidupan religius di Yogyakarta. Perpaduan antara ilmu sastra dan pelayanan pastoral yang ditunjukkan Romo Budi menjadi simbol harmoni antara intelektualitas dan spiritualitas.
Dengan segala latar belakang dan kiprahnya, Romo Busyet bukan hanya menjadi kebanggaan Fakultas Sastra USD, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. Ia membuktikan bahwa ilmu sastra dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan moral dan spiritual dengan cara yang segar, komunikatif, dan membumi.
“Kami bangga bahwa lulusan Sastra Indonesia bisa berkontribusi di berbagai bidang, termasuk pelayanan gereja. Romo Busyet adalah contoh nyata bahwa sastra bisa menjadi jalan menuju pelayanan umat,” tutup Peni Adji.
Kini, sosok yang kerap menyemangati para lajang Katolik dengan kalimat “jomblo pasti berlalu” itu telah lebih dulu berpulang.
Kepergian Romo Busyet meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Keuskupan Agung Semarang, umat di berbagai paroki tempat ia berkarya, serta komunitas kaum muda yang pernah disentuh pelayanannya.
Romo Busyet telah pergi, tetapi sapaan hangat, candaan khas, dan semangat pendampingannya akan terus hidup dalam ingatan banyak orang. Dan bagi mereka yang pernah didampinginya, mungkin kalimat itu akan selalu terkenang—sebagai penghiburan, sebagai harapan, sekaligus sebagai warisan kecil dari seorang imam yang tahu bagaimana menyentuh hati umatnya: “Jomblo pasti berlalu.”*