nasional

Romo Para Jomblo Itu Telah Berpulang…

Jumat, 3 Juli 2026 | 15:29 WIB
Romo Busyet semasa hidup dikenal sebagai Romo Para Jomblo lewat Komunitas Jomblo Katolik. (SP/istimewa)


Romo Busyet meninggalkan kenangan manis di mata banyak orang. Salah satunya FX Arie Siswanto, umat di Paroki Santa Maria Bunda Allah Plamongan Indah Semarang.

"Romo Busyet sosok yang 'ora duwe udel' tidak punya rasa capek, itu yang saya rasakan selama mengikuti kegiatan beliau. Mulai dari kegiatan OJR 3 Kota, KJK dll. Beliau sudah punya banyak rencana untuk gereja, untuk kelompok touring kevikepan dan keuskupan," ujar Om Ipin, panggilan akrab pria berkepala plontos ini.

Romo Busyet, kata dia, juga dikenal sebagai seorang romo yang dekat dengan anak - anak, membantu sekolah mereka, mengajarkan hidup sederhana dan mandiri.

Koleganya di Paroki Plamongan Indah Semarang Romo Laurentius Bondan Pujadi Pr mengenang Romo Busyet sebagai Pastor dengan kotbah jenaka. 

"Kehadiran Romo Busyet walau hanya sebentar menjadi berkat bagi umat karena saat itu saya tengah pemulihan di rumah sakit. Beliau dekat dengan anak-anak, kotbahnya lucu dan mendampingi anak-anak yang tertarik ingin menjadi calon imam, " ungkap Romo Bondan. 

Sosok Romo Busyet yang kini dikenal luas sebagai biarawan Katolik dengan gaya bertutur jenaka, ternyata memiliki jejak akademik yang kuat di dunia sastra.

Hal ini diungkapkan oleh Susilawati Endah Peni Adji, dosen pengajar sekaligus Wakil Ketua Program Studi Sastra Indonesia di Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.

Ia mengenang Romo Busyet sebagai mahasiswa yang aktif, sederhana, dan penuh inisiatif, bahkan menjadi pencetus Senat Mahasiswa Sastra di kampus tersebut.

Menurut Peni Adji, semasa kuliah Romo Busyet  tidak menunjukkan sisi humoris yang kini menjadi ciri khasnya.

"Saat kuliah, beliau lebih dikenal sebagai mahasiswa yang serius, aktif dalam kegiatan kampus, dan tidak neko-neko. Justru setelah menjadi romo, ke-kocakannya muncul. Namun, itu bukan sekadar guyonan, melainkan cara beliau menyampaikan pesan dengan bahasa yang hidup dan mudah dipahami umat,” ujarnya.

Latar belakang pendidikan Sastra Indonesia diyakini menjadi bekal penting bagi Romo Busyet dalam mengolah diksi, menyusun narasi, dan menyampaikan homili dengan gaya yang komunikatif.

Data dari Universitas Sanata Dharma menunjukkan bahwa Program Studi Sastra Indonesia telah meluluskan lebih dari 2.000 alumni sejak berdiri pada tahun 1955. Banyak di antara mereka yang berkiprah di dunia pendidikan, media, dan kebudayaan. Namun, kisah Romo Budi menjadi unik karena ia memilih jalan hidup sebagai biarawan Katolik. “Ini membuktikan bahwa ilmu sastra tidak hanya relevan di dunia akademik atau media, tetapi juga bisa menjadi bekal spiritual dan pastoral,” tambah Peni Adji.

Kehadiran Romo Busyet sebagai figur publik yang mampu memadukan humor dengan kedalaman spiritual juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi almamaternya.

“Beliau sering menggunakan kutipan sastra dalam khotbah, dan itu membuat umat merasa lebih dekat dengan pesan Injil. Pemilihan kata-kata yang tepat, gaya bertutur yang segar, semuanya mencerminkan latar belakang beliau sebagai lulusan Sastra Indonesia,” jelas Peni Adji.

Hal ini sejalan dengan tren komunikasi keagamaan di era digital, di mana pesan spiritual dituntut untuk lebih relevan, kreatif, dan mudah dipahami.

Halaman:

Tags

Terkini

Romo Para Jomblo Itu Telah Berpulang…

Jumat, 3 Juli 2026 | 15:29 WIB