Smelter Paling Ramah Lingkungan di Indonesia Siap Beroperasi di Luwu

Photo Author
Administrator, Suara Pembaruan
- Jumat, 15 September 2023 | 11:26 WIB
JK meninjau pembangunan smelter di Luwu. (ist)
JK meninjau pembangunan smelter di Luwu. (ist)

Luwu-suarapembaruan.news- Smelter yang dibangun di Desa Karang-karangan dan Desa Bukit Harapan, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), merupakan smelter yang paling ramah lingkungan di Indonesia. Disebut ramah lingkungan karena smelter tersebut menggunakan sumber energi terbarukan hydro power, sedangkan pembangkit listrik yang memasok keperluan energi untuk PT BMS itu juga berasal dari Pembangkit Listri Tenaga Air (PLTA) Malea Tana Toraja yang juga milik Kalla group.

Hal itu dikemukakan Jusuf Kalla (JK) saat meninjau smelter yang dibangun oleh PT Bumi Mineral Sulawesi (PT BMS) anak usaha dari Kalla Group, Jumat (15/09/2023).

“Di sinilah yang paling lengkap di seluruh Indonesia, pembangkitnya green energi prosesnya juga green energy, jadi ini cocok untuk kemajuan indonesia. Di sini orang tidak akan melihat cerobong asap, satu-satunya di Indonesia yang paling green energi coba cari di Indonesia di mana ada yang paling ramah lingkungan ? ” ungkap Wapres RI ke 10 dan 12 itu.

Total Tenaga Lokal

Selain menyebut BMS sebagai Smelter paling ramah lingkungan, JK juga mengungkapkan pada proses pembangunan smelter tersebut, 100 persen atau total menggunakan tenaga kerja dalam negeri, engan komposisi 70 persen tenaga kerja lokal dari Luwu raya dan 30 persen berasal dari daerah lain di Indonesia.

Hal itu menurut JK sebagai ajang pembuktian bahwa Indonesia mampu membangun smelter yang ramah lingkungan  tanpa bantuan tenaga kerja asing sebagaimana yang terjadi di Morowali Sulawesi Tengah.

“Insinyur insinyur ini semua anak-anak daerah, beda dengan morowali, nanti selesai (pabriknya) baru kerja (warga lokal). Ini untuk memberikan bukti Indonesia mampu untuk sebuah industri, bahwa kita masih kerja sama teknologi dari luar, iyah”, tegasnya.

Rencananya smelter yang dibangun di area 200 Hektar tersebut akan menyerap ribuan tenaga kerja. Apalagi JK menjelaskan pada proses pengembangannya di area tersebut akan dibangun industri-industri lain berbasis Nikel. JK mempersilakan semua pihak untuk masuk dan turun membangun pabrik.

“Prinsip pokoknya adalah bagaimana memajukan daerah, ini industrinya 200 hektar akan penuh dengan pabrik dan akan menyerap ribuan tenaga kerja. Diharapkan nanti di sini akan timbul industri berbasis nikel, kita sistemnya terbuka kepada semua orang. Berbeda halnya dengan Vale hanya lingkungan di situ saja, kita ingin lebih terbuka kepada semua masyarakat”, ujarnya.

Membangun Tanpa Menggusur

Terkait pembebasan lahan untuk pembangunan pabrik, JK mengklaim pihaknya sama sekali tidak melakukan penggusuran kepada penduduk setempat. JK mengakui pihaknya telah melakukan pembelian tanah masyarakat yang akan dibangun pabrik sejak 2016. Meskipun  demikian, JK mengakui masih ada demo dari beberapa pihak dalam hal ini kelompok AMAN (Aliansi Masyarakat Adat).

“Ada demo seperti dari Aman, itu lahan sudah dibeli pada tahun 2016, atau 7 tahun yang lalu, semua itu dibeli dari pemiliknya, dan yang demo itu ditanya mana surat-suratnya tidak ada. Kita beda dengan daerah lain yang rakyatnya digusur, kami beli” jelasnya.

Direncanakan smelter nikel akan rampung dan mulai beroperasi memproduksi Feronikel pada November 2023 dengan kapasitas produksi 33.000 ton nikel per tahun. Diperkirakan pembangunan pabrik ini akan selesai pada Juli 2024 dengan kapasitas produksi sebesar 31.400 ton nikel per tahun, menelan investasi sebesar 3.2 triliun.(SP.news/M Kiblat Said)

 

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

BTN Mulai Akuisisi Bank Victoria Syariah

Rabu, 22 Januari 2025 | 16:50 WIB

Buah Durian Mulai Membanjiri Kota Bengkulu

Kamis, 26 Desember 2024 | 19:39 WIB
X