regional

Gajah Sebelat di Bengkulu, Koloni Terakhir Berjalan Punah

Kamis, 6 November 2025 | 09:32 WIB
Hutan menjadi habitat Gajah Sumatera di Wilayah Sebelat, Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dibuka masyarakat dijadikan lahan perkebunan tanaman keras, seperti kelapa sawit dan sebagianya.(Foto/Ist)

Menurutnya, Provinsi Bengkulu, sebelumnya memilikk tiga kantong habitat gajah. Pertama di Kabupaten Rejang Lebong, Bukit Balai Rejang yang terkoneksi ke Kabupaten Lahat, Sumsel, dan masuk kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Kedua, di Kabupaten Seluma juga terkoneksi ke TNBBS berbatasan dengan Lampung. Ketiga Bentang Sebelat. "Tahun 2016 dua kantong habitat gajah dinyatakan hilang. Hanya tersisa di Bentang Sebelat," jelas Iswadi.  Penyebab hilangnya dua kantong habitat di Bengkulu didominasi perambahan hutan, perburuan dan lainnya.

Mati Diracun dan Tetanus

Di Bentang Sebelat, kata Iswadi, gajah liar tersisa sangat sedikit. Massifnya perambahan hutan menjadi kebun sawit ilegal merupakan musuh utama gajah. "Kawasan hutan yang rusak ribuan hektar itu merupakan wilayah lintasan gajah, lintasan itu digunakan gajah untuk kawin, mencari garam (salt licking) atau penggaraman yang dibutuhkan gajah," kata dia.

Ia tambahkan, gajah membutuhkan proses penggaraman untuk mineral, daya tahan tubuh, biasanya terdapat di pesisir laut, kawasan mangrove, atau lokasi tertentu. "Maka lintasan gajah biasanya bermuara di pesisir laut. Nah, celakanya di Bentang Sebelat jalur gajah menuju pesisir laut hancur karena perambahan sawit. Ini mengacaukan pola hidup gajah," katanya.

Maka tak jarang katanya, gajah akan mencari bahan baku untuk penggaraman dari abu sisa bakaran di pondok-pondok milik perambah. Lalu, terkesan seperti gajah merusak pondok perambah.

"Itu gajah mencari bahan mineral untuk penggaraman karena alaminya rusak maka pondok perambah atau pemukiman jadi sasaran," beber dia. Hal yang paling menyedihkan sambung dia, tatkala gajah seperti merusak pondok atau pemukiman masyarakat menganggapnya mengamuk padahal pondok, pemukiman itu merupakan lintasan gajah.

"Gajah seperti dianggap hama lalu diracun menggunakan sabun beraroma buah di dalam sabun diberi racun maka gajah banyak kami temukan mati," keluhnya. Selain diracun ditemukan pula gajah mati karena tetanus sebab perambah sering memasang jebakan paku di lintasan gajah.

"Kaki gajah tertusuk paku lalu tetanus dan mati. Kasus gajah diracun, tetanus beberapa kali ditemukan," sebutnya. Wilayah Bentang Seblat masuk dalam wilayah Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) koridor gajah seluas 80.987 hektare. Area ini merupakan jalur jelajah atau home range gajah Sumatera namun secara total kerusakan kawasan akibat perambahan sawit ilegal mencapai 40 ribu hektar.


Harapan Masih Ada

Di tengah tersudutnya gajah terakhir Bengkulu, kabar baik juga terdengar Kepala BKSDA Bengkulu, Himawan Sasongko dan kepala TNKS Haidir Asida, melaporkan beberapa bulan terakhir ditemukan tiga ekor gajah usia anak, dan dua gajah dewasa dalam satu kawanan di dalam TBKS.

"Ini informasi membahagiakan, artinya kalau ada gajah anakan berarti proses Perkawinan alami masih bisa berlangsung dan ancaman kepunahan bisa dilawan dengan memperbaiki kawasan hutan," ujar Himawan.

Wamen Kehutanan, Rohmat Marzuki, usai mendengar paparan menyatakan komitmen presiden tegas dalam menjaga dan melestarikan hutan, termasuk kawasan penting yang menjadi habitat Gajah Sumatera di Bentang Alam Seblat, Bengkulu.

“Koridor Seblat adalah rumah bagi Gajah Sumatera. Negara tidak akan membiarkan kawasan ini dirusak oleh aktivitas ilegal. Ini bukan hanya soal gajah, tapi tentang keberlanjutan ekosistem dan masa depan manusia,” ujar Wamenhut Rohmat Marzuki dalam rilis resmi yang dikirim ke kompas.com, Selasa (4/11/2025).

Wamenhut menyampaikan, upaya pengamanan kawasan hutan merupakan bagian dari pelaksanaan arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat penegakan hukum lingkungan. “Pemerintah serius menghentikan perusakan kawasan hutan serta menjaga fungsi ekologis Bentang Seblat,” tegas Wamenhut.

Halaman:

Tags

Terkini